Displasia pangkal paha

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Tipe gangguan persendian pada kaput tulang femur (os femur), termasuk kejadian hip displasia. A: Normal. B: Displasia. C: Subluksatio. D: Luksatio

Displasia pangkal paha atau Hip displasia adalah perkembangan tidak normal dari persendian pangkal paha dengan paha mengakibatkan terlepasnya tulang paha dari asetabulum tulang panggul (pelvis) [1]. Persendian koksofemoralis yakni persendian pangkal paha dengan paha merupakan persendian yang dibentuk oleh tulang femur (paha) dengan tulang pelvis (panggul).[2].

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Displasia pangkal paha disebabkan faktor genetik dan juga dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, misalnya: ras, kecepatan pertumbuhan, cara memberi makanan, cara dan lamanya latihan, adanya kelainan bentuk tulang belakang (lumbosakral), penyakit sumsum tulang belakang, trauma dan adanya kelainan persendian dari kaki depan [1]

Displasia pangkal paha dapat terjadi karena dua kondisi[2]:

  1. 'Asetabulum yang dangkal sehingga mengakibatkan kaput femoris tidak tertanam dengan mantap pada asetabulum, hal ini menyebabkan kehilangan kestabilan
  2. Karena permukaan asetabulum dan kaput femoris tidak rata dan halus sehingga mengakibatkan terjadinya luksasio.

Jenis Hip Displasia[sunting | sunting sumber]

Hip displasia kiri dan kanan pada anjing
Kondisi normal sebagai pembanding

Berdasarkan tingkat keparahannya displasia pangkal paha dibagi menjadi tiga, yaitu ringan, sedang dan parah. Pada displasia pangkal paha yang ringan, tepi depan asetabulum nampak datar dan tampak adanya subluksasio kaput femoris (40-50% masih ada di dalam asetabulum). Pada tipe sedang, asetabulum datar dan terjadi subluksatio kaput femoris (20-40% masih di dalam asetabulum) serta adanya pertumbuhan tulang baru di sekitar persendian. Sementara itu pada tipe parah, sebagian besar atau seluruh kaput femoris keluar dari asetabulum dan terdapat banyak pertumbuhan tulang baru di sekitar persendian koksofemoralis [1].

Gejala Klinis[sunting | sunting sumber]

Gejala klinis displasia pangkal paha pada anjing muda berjalan lambat dengan adanya tanda-tanda Degenerative Joint Disease, sedangkan pada anjing dewasa timbul secara progresif. [1] Persendian koksofemoralis geraknya mulai terbatas dan urat daging kaki belakang tampak mengecil (atropi).[1] Pada bagian kaki belakang tampak adanya perubahan bentuk misalnya bengkok.[1] Anjing tidak mau melompat atau naik tangga, timbul rasa sakit bila kaki belakang dimanipulasi terutama pada posisi diluruskan bahkan anjing tidak dapat berdiri.[1] Gejala klinis hipdysplasia yang akut sering timbul pada anjing umur kurang dari 12 bulan, sedangkan pada kasus kronis sering ditemukan pada anjing-anjing dewasa [1]. Ketika terjadi hipdysplasia maka dapat disertai dengan pembengkakan asetabulum, penipisan kaput femoris serta lepasnya kapsula persendian [3].

Diagnosa dan Prognosa[sunting | sunting sumber]

Penentuan diagnosa hip displasia didasarkan pada gejala klinis yang muncul, jenis, umur, dikonfirmasi dengan pemeriksaan radiologi (x-ray), manipulasi persendian di bawah anastesi general dan pemeriksaan DNA [3]

Baik buruknya prognosa pada kejadian displasia pangkal paha didasarkan pada ada tidaknya kerusakan saraf sciatic atau saraf obturatorius yang dapat mengakibatkan paralisis sementara ataupun permanen dan kerusakan jaringan sekitar persendian [4].

Terapi[sunting | sunting sumber]

Prinsip terapi displasia pangkal paha adalah mengurangi rasa sakit pada anjing[3]. Displasia pangkal paha pada anjing muda menyebabkan ketidaknyamanan secara tiba-tiba dan terapi yang dilakukan biasanya dikombinasikan dengan istirahat yang cukup dengan mengkandangkan anjing selama 5-7 hari [3]. Pengobatan lain yang dapat dilakukan pada anjing muda adalah dengan melakukan kontrol pertumbuhan dengan mengatur pemberian pakan, memberikan pola latihan yang benar, memberikan obat-obat suplemen yang mengandung glukosamin dan kondroitin serta memberikan vitamin c yang cukup dan obat-obat anti inflamasi non steroid [5].

Pada penggunaan terapi bedah dikenal tiga teknik dalam pelaksanaanya, yaitu

  1. dilakukan pemotongan otot pectineous yang berfungsi menjaga kestabilan tulang-tulang pembentuk persendian koksofemoralis [5][3].
  2. dilakukan pemotongan kaput femoris, yakni kaput tulang paha (ostektomi) sehingga tidak ada lagi hubungan antara tulang-tulang pembentuk sendi koksofemoralis [5][3]. Dengan melakukan pemotongan kaput femoris dapat megurangi rasa sakit yang diakibatkan oleh hubungan antara dua tulang. Anjing sesudah ostektomi masih dapat berjalan dengan normal karena otot-otot pembungkus persendian akan menguat dan mampu menjaga kestabilan kaki belakang. Hal ini normal terjadi seperti pada kaki depan yang hanya bertaut pada otot-otot disekitar persendian bahu.
  3. dilakukan pengembalian posisi panggul yaitu pemotongan kaput femoris dan dilakukan pemasangan kaput buatan [5][3]. Operasi ini memerlukan biaya yang cukup besar, komplikasinya cukup tinggi, memerlukan seorang dokter hewan yang betul-betul ahli dan belum pernah dilakukan di Indonesia [5].

Tindakan pencegahan displasia pangkal paha adalah dengan memeriksakan kesehatan anjing secara berkala termasuk kondisi persendian koksofemoralis [6]. Pada pembiakan, bila sudah terbukti pejantan atau induk menderita displasia pangkal paha sebaiknya tidak dibiakkan. Di beberapa negara maju, pemeriksaan DNA untuk mengetahui kasus displasia pangkal paha pada anjing-anjing yang akan dibiakkan sudah dilakukan.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h Fossum TW. 2002. Small Animal Surgery. Edisi 2. USA: Mosby.
  2. ^ a b Salmeron et al. 2005. Early Short-term Treatment of Congenital Hip Dysplasia With a Pavlic Harness. Journal of Bone and Joint Surgery - British Volume. Vol 90-B, Issue SUPP_II, 236.
  3. ^ a b c d e f g Bower dan Youngs. 1990. The Health of Your Dog. UK: Butler & Tanner Ltd.
  4. ^ O’Connor JJ. 1989. Dollars Veterinary Surgery: General, Operative, and Regional. Edisi 4. India: CBS Publisher.
  5. ^ a b c d e Crudziak JS dan Ward WT. 2001. Dega Osteotomy for the Treatment of Congenital Dysplasia of the Hip. The Journal of Bone and Joint Surgery (American). Volume 83, halaman 845-854.
  6. ^ Tilley LP dan Smith FWK. 1997. The 5 Minute Veterinary Consult: Canine and Feline. USA: Williams & Wilkins.