Dewa yang hidup-mati-dan terlahir kembali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Kategori dewa yang hidup-mati-dan terlahir kembali juga dikenal sebagai dewa yang "mati dan bangkit" atau "kebangkitan" dewa adalah arti yang sesuai untuk mengklasifikasikan banyak tuhan atau dewa dalam mitologi atau agama bumi yang mengalami kelahiran, mati dengan menderita, muculnya sebuah gerhana atau peristiwa serupa dalam kematiannya, melintasi alam gaib setelah kematian, dan setelah itu terlahir kembali, dalam sensasi simbolik atau literal.

Tuhan dan dewa laki-laki di antara figur-figur tersebut di antaranya Osiris, Adonis, Tammuz, Zalmoxis, Phoenix, Baldr, dan Odin.

Tuhan wanita atau dewi yang melalui kerajaan kematian dan kembali diantaranya Inanna (juga dikenal sebagai Ishtar) yang dipuja dari 4000 SM dan Persefone, figur sentral Misteri Eleusinia, yang disembah dari tahun 1700 SM sebagai dewi tanpa nama yang disembah di Kreta.

Kritik[sunting | sunting sumber]

Tryggve Mettinger berpendapat bahwa para pakar setuju bahwa mengkategorikan para ilah ke dalam kategori ini tidaklah tepat.[1] Kritik yang utama adalah bahwa pengkategorian ini merupakan suatu bentuk reduksionisme, yang menyatukan berbagai mitos ke dalam satu kategori dan mengabaikan perbedaan-perbedaan yang adal. Marcel Detienne berpendapat bahwa pengkategorian ini menjadikan kekristenan sebagai standarnya untuk menilai agama-agama yang lain, karena kematian dan kebangkitan merupakan bagian yang terpenting dari iman kekristenan, melebihi agama-agama yang lain.[2]

Jonathan Z. Smith, seorang sarjana perbandingan agama, menuliskan bahwa kategori ini "sesuatu yang misnomer [digunakan secara luas dengan salah kaprah] yang didasarkan atas rekonstruksi imajinatif atau teks-teks yang lebih baru atau yang sangat ambigu."[3] Dag Øistein Endsjø, seorang sarjana agama, menunjukkan bahwa banyak dari antara mereka yang disebut "ilah yang mati dan bangkit kembali" tersebut sebenarnya mati sebagai manusia biasa, dan baru dituhankan setelah mereka bangkit, jadi bukannya mati sebagai ilah, oleh karena itu tidak sesuai dengan definisi "ilah yang mati dan bangkit kembali."[4]

Daftar dewa yang hidup-mati-terlahir kembali[sunting | sunting sumber]

Yesus[sunting | sunting sumber]

Yesus dari Nazaret adalah seorang tukang kayu, pengkhotbah, guru, rabi, penyembuh, pembuat mukjizat, dan tokoh Yahudi yang berasal dari kota Nazaret, Israel. Orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, Tuhan, Mesias, dan Juru Selamat umat manusia. Sekitar tahun 29-33, Yesus mati disalib dan umat Kristen percaya bahwa Ia bangkit pada hari ketiga (Paskah), menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus orang, termasuk murid-murid Yesus, dan pada akhirnya naik ke surga.

Walaupun demikian, beberapa tokoh yang mendukung teori mitos Yesus juga memasukkan Yesus ke dalam daftar dewa yang hidup-mati-dan terlahir kembali ini. Robert Price, misalnya, berpendapat bahwa Yesus hanyalah sekadar tokoh mitos dan bukan tokoh sejarah, dengan alasan:

  • Tiadanya referensi yang masih ada mengenai Yesus pada masa hidupnya.
  • Kurangnya referensi non-Kristen mengenainya pada abad pertama.
  • Hubungan antara tokoh Yesus dengan dewa-dewa Yunani, Mesir, atau lainnya, terutama mengenai dewa yang wafat dan bangkit kembali.

Selain itu filsuf Perancis Charles François Dupuis menolak keberadaan Yesus dalam sejarah, dan menjelaskan tulisan sejarawan Romawi Tacitus (56–117) mengenai Kristus. Pada tahun 116, Tacitus menyebut Kristus yang telah dihukum oleh Pontius Pilatus tidak lebih dari gema kepercayaan Kristen yang tidak benar pada masa itu. Dalam Origine de tous les cultes (1795), Dupuis mengidentifikasi ritus pra-Kristen di Suriah Raya, Mesir Kuno, dan Persia, sebagai perwakilan kelahiran dewa dari seorang perawan pada titik balik musim dingin, dan berargumen bahwa ritus-ritus tersebut berdasarkan pada kenaikan musim dingin rasi bintang Virgo. Ia meyakini bahwa peristiwa tahunan tersebut dialegorikan sebagai dewa-dewa matahari, seperti Sol Invictus, yang menghabiskan masa kecil mereka dalam ketidakjelasan (ketinggian rendah matahari setelah titik balik), lalu wafat (musim dingin), dan bangkit kembali (musim semi). Dupuis juga menyatakan bahwa injil Yahudi dan Kristen dapat diinterpretasikan sebagai pola matahari: jatuhnya manusia dalam dosa pada Kitab Kejadian merupakan alegori dari kesulitan akibat musim dingin, dan kebangkitan Yesus mewakili meningkatnya kekuatan matahari dalam Aries pada equinox musim semi.[6]

Penolakan terhadap kesejajaran mitologis[sunting | sunting sumber]

Beberapa ahli Alkitab menentang gagasan bahwa materi awal yang berhubungan dengan Yesus dapat dijelaskan sesuai referensi kesamaannya dengan mitologi pagan.[7] Paula Fredriksen, misalnya, menulis bahwa tidak ada tempat-tempat yang berarti dari pekerjaan Yesus yang berada di luar dari latar belakang Yudaisme Palestina abad pertama.[8] Pengajaran Alkitab juga umumnya menolak konsep dari kemiripan dengan dewa yang mati dan bangkit kembali, keabsahan yang sering diandaikan oleh pembela teori mitos Yesus, seperti ahli Perjanjian Baru Robert Price. Tryggve Mettinger, mantan profesor Alkitab Ibrani di Universitas Lund, adalah salah satu akademisi yang mendukung konstruksi "dewa yang mati dan bangkit kembali", tetapi ia berpendapat bahwa Yesus tidak cocok dengan pola yang lebih luas.[9]

Edwin Yamauchi berpendapat bahwa upaya yang lalu untuk menyamakan unsur biografi Yesus dengan tokoh-tokoh mitologis tidak cocok dengan perhitungan tanggal serta narasumber mereka.[10] Edwyn R. Bevan dan Chris Forbes berpendapat bahwa para pendukung teori Yesus sebagai salah satu dewa yang mati dan terlahir kembali bahkan menciptakan unsur-unsur mitos pagan untuk mendukung pernyataan mereka terhadap paralelisme antara kehidupan Yesus dan kehidupan karakter mitologi pagan.[11] Sebagai contoh, David Ulansey menunjukkan bahwa kesetaraan yang diklaim antara kelahiran Yesus dari perawan dengan asal-muasal Mithras gagal karena Mithras dilahirkan dalam keadaan dewasa, sudah berpakaian sebagian, dan bersenjatakan sebuah batu,[12] yang kemungkinan terjadi segera setelah pembuahannya.[13] S. G. F. Brandon dan lainnya berpendapat bahwa ide mengenai orang-orang Kristen mula-mula akan secara sadar menggabungkan mitos pagan ke dalam agama mereka adalah "secara intrinsik mustahil,"[14] yang dibuktikan dengan pertentangan keras yang dihadapi Paulus dari Kristen lainnya bahkan untuk mendapatkan konsensus kecil bagi orang-orang percaya non-Yahudi.[15]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Mettinger, Tryggve N. D. (2001). The Riddle of Resurrection: Dying and Rising Gods in the Ancient Near East. Almqvist & Wiksell, p. 7.
  2. ^ Detienne 1994; see also Burkert 1987
  3. ^ Smith, Jonathan Z. (1987). "Dying and Rising Gods," in Mircea Eliad (ed.) The Encyclopedia of Religion: Vol. 3. Simon & Schuster Macmillan, p. 521.
  4. ^ Dag Øistein Endsjø. Greek Resurrection Beliefs and the Success of Christianity. New York: Palgrave Macmillan 2009.
  5. ^ Beginning with an overview of the Athenian ritual of growing and withering herb gardens at the Adonia festival, Detienne suggests that rather than being a stand-in for crops in general (and therefore the cycle of death and rebirth), these herbs (and Adonis) were part of a complex of associations in the Greek mind that centered on spices. These associations included seduction, trickery, gourmandise, and the anxieties of childbirth. From his point of view, Adonis's death is only one datum among the many that must be used to analyze the festival, the myth, and the god.
  6. ^ Wells, G. A. "Stages of New Testament Criticism," Journal of the History of Ideas, volume 30, issue 2, 1969.
  7. ^ Bromiley, Geoffrey W. (ed.) "Jesus Christ," The International Standard Bible Encyclopedia. Eerdmans, 1982, hal. 1034;
    • Lihat pula Dunn, James D. G. "Myth" in Joel B. Green, Scot McKnight, & I. Howard Marshall (ed.) Dictionary of Jesus and the Gospels. InterVarsity, 1992, hal. 566.
  8. ^ Fredriksen, Paula. From Jesus to Christ. Yale University Press, 2000, hal. xxvi.
  9. ^ Smith, Mark S. The Ugaritic Baal Cycle. Brill, 1994, hal. 70; and Mettinger, Tryggve N. D. The Riddle of Resurrection. Almqvist & Wiksell, 2001, hal. 7, 221.
    • For the argument that the Jesus myth theory rests in part on this idea, see Price, Robert M. "Jesus at the Vanishing Point" in James K. Beilby & Paul Rhodes Eddy (eds.) The Historical Jesus: Five Views. InterVarsity, 2009, hal. 75.
  10. ^ Yamauchi, Edwin M. "Easter: Myth, Hallucination, or History?", Christianity Today, March 15 and 29, 1974.
  11. ^ Forbes, Chris. "Zeitgeist: Time to Discard the Christian Story?", Center for Public Christianity, 2009, 2:47 mins, accessed August 4, 2010.
  12. ^ Ulansey, David. The Origins of the Mithraic Mysteries. Oxford University Press, 1991, hal. 35.
  13. ^ Burkert, Walter. Ancient Mystery Cults. Harvard University Press, 1989, p 155 n. 40.
  14. ^ Brandon, S. G. F. "The Ritual Perpetuation of the Past", Numen, volume 6, issue 1, 1959, hal. 128.
  15. ^ Metzger, Bruce M. Historical and Literary Studies, Pagan, Jewish, and Christian. Brill, 1968, hal. 7.