Desawarnana

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Desawarnana adalah nama tulisan pada lontar yang kemudian diberi judul Nagarakretagama. Suatu karya tulisan paduan antara sejarah dan sastra gubahan pujangga Prapanca. Nama “Nagarakretagama” berarti riwayat pembangunan negara. Pengarangnya sendiri menyebut karya tulisnya sebagai Desawarnana, artinya uraian tentang desa-desa (Nagarakretagama pupuh 94/2). Judul Nagarakretagama diberikan oleh seorang ahli penelaah sastra, yaitu J.L.A. Brandes, pada tahun 1902. Desawarnana Nagarakretagama menyampaikan berbagai hal mengenai Majapahit pada abad ke-14, di antaranya tentang kehidupan politik, sosial, keagamaan, kebudayaan, adat istiadat dan kesusasteraan

Pengarang [sunting]

Prapanca bukan nama asli, melainkan nama samaran seorang mantan dharmadhyaksa kasogatan (pendeta kerajaan). Nama Prapanca mengisyaratkan bahwa nama asli si pengarang terdiri dari lima aksara, panca aksara. Setelah tidak menjabat, ia tinggal di desa Kamalasana di lereng sebuah gunung (Nagarakretagama pupuh 95/3), tempat ia menulis karyanya. Ada dugaan bahwa ayah Prapanca adalah Acarya Nada, penyusun prasasti Wuware tahun 1289, tapi tidak bisa dibuktikan.

Siapa sesungguhnya Prapanca sampai sekarang tidak diketahui. Ia melukiskan dirinya sendiri dalam Pupuh 96: Prapanca itu pra lima buah/ Cirinya: omongannya lucu/ Pipinya tembam, matanya ngeliyap/ Gelaknya ngakak. Terlalu kurangajar dia, tidak bisa ditiru/ Tolol, tidak mengikuti anjuran tutur/ Memerlukan pimpinan yang baik dalam tatwa/ Pantasnya ia dipukul pantatnya berulang kali.

Yang jelas Prapanca hidup pada zaman keemasan Majapahit, sebagai hasil perluasan wilayah keluar Jawa mengikuti politik Kertanegara yang dilancarkan oleh Gajah Mada. Ia menguraikan kebesaran Majapahit, kemakmurannya, hubungan antara pusat dan daerah, dan hubungan dengan luar negeri.

Bentuk karya [sunting]

Nagarakretagama ditulis dalam bentuk kakawin (syair) Jawakuna. Tiap kakawin terdiri dari empat baris, disebut pada. Tiap barisnya terdiri dari delapan hingga 24 suku-kata, disebut matra.

Seluruh karya terdiri dari 98 pupuh. Dibagi dalam dua bagian, yang masing-masing terdiri dari 49 pupuh. Tiap pupuh terdiri dari antara satu hingga sepuluh pada.

Isi [sunting]

Bagian pertama 49 pupuh.

  • 7 pupuh tentang raja dan keluarganya
  • 9 pupuh tentang kota dan wilayah Majapahit
  • 23 pupuh tentang perjalanan keliling Lumajang
  • 10 pupuh tentang silsilah raja Majapahit.

Bagian kedua 49 pupuh.

  • 10 pupuh tentang perjalanan perburuan
  • 23 pupuh tentang oleh-oleh, perhatian kepada leluhur dan tentang Gajah Mada
  • 9 pupuh tentang upacara keagamaan berkala
  • 7 pupuh tentang pujangga yang setia kepada raja.