Denias, Senandung di Atas Awan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Denias, Senandung di Atas Awan
Denias Senandung Di Atas Awan.jpg
Poster Film Denias Senandung di Atas Awan
Sutradara John de Rantau
Produser Nia Zulkarnaen
Ari Sihasale
Penulis Jeremias Nyangoen
Monty Tiwa
Pemeran Albert Thom Joshua Fakdawer
Ari Sihasale
Nia Zulkarnaen
Marcella Zalianty
Michael Jakarimilena
Pevita Eileen Pearce
Mathias Muchus
Audrey Papilaya
Musik Dian HP
Sinematografi Yudi Datau
Penyunting Andhy Pulung
Distributor Alenia Pictures
Durasi 110 menit
Negara Indonesia
Penghargaan
Festival Film Indonesia 2006

Denias, Senandung di Atas Awan adalah film yang disutradari oleh John de Rantau dan diproduksi pada tahun 2006, dibintangi antara lain oleh Albert Thom Joshua Fakdawer, Ryan Stevano William Manoby , Ari Sihasale, Nia Zulkarnaen dan Marcella Zalianty.

Film Denias, Senandung di Atas Awan berhasil masuk panitia seleksi Piala Oscar tahun 2008. Selain Denias, film Opera Jawa dan The Photograph juga sempat ingin diseleksi. Tapi akhirnya hanya Denias yang terpilih diseleksi utk kategori film asing.

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Film ini menceritakan tentang perjuangan seorang anak suku pedalaman Papua yang bernama Denias untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Seluruh setting lokasi dilakukan di pulau Cendrawasih ini. Cerita dalam film ini merupakan adaptasi dari kisah nyata seorang anak Papua yang bernama Janias. Dalam film ini juga dapat kita lihat keindahan provinsi Papua yang berhasil direkam dengan begitu indahnya.

selain itu kesulitan dan perjuangannya dalam meraih cita-citanyapun tergabar dan diceritakan dengan baik di dalam film ini

Lokasi[sunting | sunting sumber]

Seluruh lokasi syuting bertempat di Papua.

Sebagian besar lokasi syuting bertempat di daerah kerja PT Freeport Indonesia sebuah perusahaan tambang asing yang bergerak di bidang pertambangan tembaga dan emas di Papua.

Lokasi perkampungan Denias mengambil tempat penyutingan di kawasan pegunungan Wamena.Rumah rumah yang dipakai untuk syuting merupakan rumah asli masyarakat setempat namun juga sebagian dibangun untuk kebutuhan syuting. Sebagian penduduk setempat juga berperan sebagai figuran.

Sedangkan untuk syuting sekolah Denias, semuanya bertempat di SD-SMP YPJ Kuala Kencana. Sebagian besar figuran dalam adegan sekolah di film ini merupakan siswa-siswi YPJ Kuala Kencana sementara beberapa guru tampil sebagai cameo.

YPJ Kuala Kencana merupakan satu dari dua sekolah dasar dan menengah pertama yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan Jayawijaya, dan bernaung di bawah bimbingan PT.Freeport Indonesia.

Alasan dipilihnya sekolah ini karena salah satu pemeran sekaligus produser film ini (Ari Sihasale) merupakan alumnus dari sekolah YPJ yang lain, YPJ Tembagapura. Alasan kedua adalah karena Janias merupakan alumnus dari YPJ Tembagapura juga.

Tempat - tempat lain yang juga digunakan dalam film ini adalah kota Timika dan Kuala Kencana.

Perbedaan Film dengan Kenyataan[sunting | sunting sumber]

  • Di dalam film ibu gembala diperankan oleh seorang wanita (Marcella Zalianty). Dalam kejadian sebenarnya sang penolong Denias dalam memperjuangkan haknya bersekolah, adalah seorang pendeta/gembala pria.[1]
  • Di dalam film Denias mengunjungi kakaknya di kampung bernama Banti. Banti digambarkan sebagai sebuah kampung dikelilingi oleh rerumputan hijau dan berada di tempat landai. Banti yang sebenarnya merupakan sebuah kampung di lereng perbukitan yang terjal dan dikelilingi oleh pepohonan tinggi.
  • Di dalam film ibu gembala mengunjungi kakak Denias di kampung Banti dengan hanya berjalan beberapa meter menuju pintu kampung. Banti yang sebenarnya hanya dapat dijangkau setelah melewati sebuah jembatan gantung yang melintasi sebuah sungai besar.
  • Di dalam film Denias dan Enos dapat menyusup dengan mudahnya ke kota dengan hanya bersembunyi di bak belakang mobil. Dalam keadaan sebenarnya petugas keamanan PT.Freeport Indonesia (lokasi dimana adegan ini diambil) melakukan pengawasan ekstra ketat termasuk mengecek setiap bak belakang mobil bahkan dengan menggunakan detektor anti bom.

Trivia[sunting | sunting sumber]

  • Ketika Maleo harus meninggalkan lokasi perkampungan Denias tampak ia dijemput dengan helikopter Bell-412 Twin Pac. Tetapi ketika Denias berlari keluar berteriak memanggil Maleo, helikopter yang melintas pergi meninggalkan kampung Denias adalah Bolkow Bo-105. Kedua Helikopter ini adalah milik kesatuan Penerbad TNI-AD.
  • Nama burung memang sering dipakai sebagai nama kesatuan tempur ABRI khususnya oleh kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) saat beroperasi di Papua. Kesatuan Kopassus lain yang juga menggunakan nama burung dan pernah beroperasi di Papua adalah Tim Kasuari yang dipakai saat Operasi Pembebasan Sandera di Mapenduma tahun 1993.
  • Melihat dari pola operasi yang digunakan dalam film, kemungkinan besar Maleo merupakan anggota Kopassus dari Kesatuan Grup 4 Sandi Yudha yang bermarkas di Cijantung, Jakarta Timur.
  • Ronny Wabia yang berperan sebagai guru olahraga, adalah pemain sepak bola profesional yang pernah bermain untuk klub Persipura. Dia juga pernah memperkuat Tim Nasional Indonesia.
  • Penolong dari Danias dalam kisah sebenarnya yaitu Pendeta Sam Koibur, muncul sebagai cameo dalam film ini.

Kutipan yang Populer[sunting | sunting sumber]

  • Denias:"mama, ko liat itu! Anjing dia besar sekali" (sambil menunjuk ke papan iklan bergambar sapi) Enos:"Bodok! itu bukan anjing, itu babi!"
  • Kepala Suku: "kenapa ko bangun honai di atas sana, ko pu tana ka?"
  • Noel:"bodok, bodok, itu pulau Bromo!"

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]