Dedi Supardi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Drs. H. Dedi Supardi, M.M.
Bupati Cirebon
Masa jabatan
2003 – 2013
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Didahului oleh H. Sutisna, S.H.
Digantikan oleh Drs. H. Sunjaya Purwadi S., M.M., M.Si
Wakil Bupati Cirebon
Masa jabatan
2000 – 2003
Presiden Abdurrahman Wahid
Megawati Soekarno Putri
Digantikan oleh Drs. H. Nur Asyik H. Syarif
Informasi pribadi
Lahir 23 Desember 1958 (umur 55)
Bendera Indonesia Kuningan, Indonesia
Partai politik PDIPLogo.png PDIP (Diberhentikan pada tanggal 23 Agustus 2013)[1]
Suami/istri Hj. Sri Heviyana Supardi
Anak Dea Angkasa Putri
Deby Rattania
Andi Yusuf
Andi Arman Maulana
Pekerjaan Politikus
Agama Islam

Drs. H. Dedi Supardi, M.M. adalah Bupati Cirebon yang menjabat sejak tahun 2003 sampai tahun 2013. Pada periode Pertama (2003-2008) beliau berpasangan dengan Nur Asyik. Pada Periode kedua (2008-2013) Pemilihan Umum dilakukan secara langsung dan Dedi Supardi berpasangan dengan Ason Sukasa sebagai wakil bupati dan ia memenangkan pemilihan umum kepala daerah.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Kisah hidup Dedi Supardi sebagai anak seorang janda, keluarganya cerai-berai. Bersama ibu dan dua kakak perempuan ia pernah tinggal di gubug berlantai tanah dan garasi kantor pemerintahan. Dedi Supardi, Anak lelaki kelahiran 23 Desember 1958, harus rela menggadaikan kebahagiaan masa kecilnya, bahkan masa remaja Dedi yang biasa-biasa saja dan tidak terlalu pintar harus bertukar dengan kerja keras. Dedi memang manusia biasa, ia pernah sengsara, hidup susah dan nelangsa. Singkat cerita Dedi lulus kuliah, sempat menganggur delapan bulan, kemudian diterima kerja. Langkahnya merangkak meraih masa depan, mulai dari Tenaga Penyuluh Lapangan di Bandung, diangkat sebagai PNS menduduki jabatan struktural Kepala Unit Pelayanan Teknis, Kepala TU hingga akhirnya sebagai Kepala Kantor Departemen Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cirebon.[2].

Karier[sunting | sunting sumber]

Karier politik[sunting | sunting sumber]

Dari titik nol ia mendaki hingga tinggi. Dedi memang memiliki insting politik yang tajam dan akurat, tak heran membawanya ke meja percaturan politik. Mulai dari jabatan Wakil Bupati ia mengabdi, dan empat tahun kemudian, ketika masa jabatan Sutisna-Dedi habis. ia terpilih menjadi Bupati Cirebon yang berhasil menggalang dukungan dari partai PDIP dan menggandeng Nur Asyik sebagai Wakil Bupati Cirebon dari Partai Persatuan Pembangunan. Perjalanan hidup yang sedemikian kompleks telah menempa Dedi, hingga menjadi sosok yang berpengetahuan, berpengalaman dan mampu memimpin. Selanjutnya, ketika terjadi perubahan aturan dalam pemilihan kepala daerah. Proses pemilihan yang semula dilkasanakan oleh DPRD, kini dialihkan menjadi kewenangan rakyat. Berbekal insting politik yang terbukti dan teruji mengantarkan Dedi ke garda terdepan sebagai Bupati Cirebon periode kedua secara berturut-turut. Resepnya, Ia tidak saja melakukan penggalangan di DPRD, melainkan di luar parlemen dan partai. Seperti kelompok strategis di tengah masyarakat. Dedi yang berpasangan dengan Ason Sukasa akhirnya menang mengungguli dua rivalnya, yakni pasangan Djakaria Machmud-Arif Natadiningrat dan Sunjaya-Abdul Hayi Imam. Kepeduliannya terhadap rakyat mengantarkan kemenangan. Selain tekun merajut karier di pemerintahan, dan bergelut di dunia politik.[2]

Skandal asmara[sunting | sunting sumber]

Pada pertengahan 2010, Bupati Cirebon Dedi Supardi terlibat skandal dengan penyanyi dangdut seksi, Melinda. Biduanita yang dikabarkan pernah dekat dengan penyanyi Saiful Jamil ini mengaku telah menikah siri dengan Dedi Supardi. Dari pernikahan siri ini, telah lahir seorang anak laki-laki. Dedi sempat mengelak, namun akhirnya ia mengakui pernikahan sirinya. Dedi menyebut Melinda merupakan masa lalunya.[4]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Jabatan politik
Didahului oleh:
H. Sutisna, S.H
Bupati Cirebon
2003–2013
Diteruskan oleh:
Drs. H. Sunjaya Purwadi S., M.M., M.Si
Didahului oleh:
-
Wakil Bupati Cirebon
2000–2003
Diteruskan oleh:
Drs. H. Nur Asyik H. Syarif