Danau Matano

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Danau Matano, Indonesia
Danau Matano, Indonesia - Danau Matano
Danau Matano
Koordinat 2°52′LU 121°36′BT / 2,867°LS 121,6°BT / -2.867; 121.600
Jenis danau Danau Tektonik
Aliran masuk utama Matano
Aliran keluar utama Sungai Petea
Terletak di negara Indonesia
Panjang maks. 28 kilometer
Lebar maks. 8 kilometer
Luas permukaan 164 km2
Kedalaman rata-rata 37 meter
Kedalaman maks. 590 meter
Volume air 98 km3 [1]
Ketinggian permukaan 382 meter
Pemukiman Sorowako
Senja di Danau Matano
Pantai Ide - Danau Matano

Danau Matano adalah sebuah danau tektonik dengan ukuran panjang 28 kilometer dan lebar 8 kilometer di Sulawesi Selatan, tepatnya berada di ujung selatan pulau Sulawesi di kota Sorowako, Kabupaten Luwu Timur.[2]

Danau ini memiliki kedalaman sejauh 590 meter (1.969 kaki).[3] Permukaan air danau berada pada ketinggian 382 meter di atas permukaan laut sehingga kedalaman air danau dari permukaan laut adalah 208 meter (cryptodepression).[2]

Menurut WWF, danau ini adalah danau terdalam di Asia Tenggara serta terdalam kedelapan di dunia. [4] .


Sejarah[sunting | sunting sumber]

Danau Matano terbentuk dari patahan (strike-slip fault) akibat aktivitas tektonik yang terjadi pada masa Pleosen.[3] Umur danau diperkirakan berkisar antara 1-4 juta tahun yang lalu.[2] Berdasarkan analisa karakteristik endapan, Danau Matano merupakan danau tertua di antara empat danau lainnya yang membentuk sistim danau Malili (Towuti, Mahalona, Masapi, Lontoa). [5]

Dengan umur mencapai jutaan tahun, Danau Matano merupakan salah satu danau purba di dunia. Sampai saat ini para ilmuwan telah mengidentifikasi setidaknya 10 danau purba di dunia antara lain, Danau Matano, Danau Poso, Danau Biwa, Danau Baikal, Danau Kaspia, Danau Tanganyika, Danau Victoria, Danau Malawi, Danau Ohrid dan Danau Titicaca.[6]

Status[sunting | sunting sumber]

Taman Wisata Alam[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 274/Kpts/Um/4/1979 tanggal 24 April 1979 maka kawasan Danau Matano, Mahalona dan Towuti menjadi kawasan konservasi Taman Wisata Alam dengan nama Taman Wisata Alam Danau Matano, Taman Wisata Alam Danau Mahalona, dan Taman Wisata Alam Danau Towuti.[7] Dengan status taman wisata alam maka Danau Matano adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.[8]

Global Ecoregions[sunting | sunting sumber]

Keunikan danau, ekosistem dan keragaman hayati yang sangat endemis membuat Danau Matano dimasukkan dalam kategori Global Ecoregions oleh World Wide Fund for Nature. [9]

Keragaman Hayati[sunting | sunting sumber]

Danau Matano merupakan habitat bagi beberapa spesies fauna dan flora endemik.

Fauna[sunting | sunting sumber]

Danau Matano memiliki 6 spesies kerang (Tylomelania), 3 spesies kepiting (Gecarcinucidae), 6 spesies udang dan 10 spesies ikan bersirip tajam (Thelmaterinidae).[3] Salah satu spesies yang menarik adalah ikan butini (Glossogobius matanensis) yang hidup di dasar danau.[10] Ikan Opudi (Telmatherina celebensis) termasuk salah satu ikan hias yang diperdagangkan baik dalam negeri maupu luar negeri. Nama dagang ikan ini adalah Celebes Rainbow Fish atau Celebes Sail Fish.[11]

Flora[sunting | sunting sumber]

Danau Matano memiliki 7 spesies tanaman endemik. [10] Syamsiah dkk. dari Universitas Negeri Makassar telah mengidentifikasi 3 jenis tumbuhan pinang-pinangan (Hydriastele) yang masuk dalam kategori endemik. [12] H.C. Hopkins menyatakan bahwa Weinmannia devogelii H.C. Hopkins merupakan tumbuhan endemik Danau Matano. [13]

Pemanfaatan[sunting | sunting sumber]

Sumber Air Minum[sunting | sunting sumber]

Mata air Danau Matano berasal dari Desa Matano. Oleh warga setempat mata air tersebut telah dibuatkan tembok persegi sehingga menjadi kolam berukuran 12 x 8 meter. Gelembung-gelembung air yang tak henti bermunculan diatas permukaan kolam.[10] Airnya sangat jernih. Penduduk yang tinggal di sekeliling danau menggunakan air danau sebagai bahan baku air minum.

Pembangkit Listrik Tenaga Air[sunting | sunting sumber]

Sebagai sumber daya alam yang sangat potensial maka perusahaan tambang nikel terbesar kedua dunia, PT.INCO (kini PT Vale Indonesia) memanfaatkan Sungai Larona yang berhulu dari Danau Matano sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk pemanfaatan di pabrik, dan juga untuk penggunaan oleh masyarakat. [14]

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Danau Matano merupakan daerah wisata saat berlibur, sebagai tempat berkumpulnya keluarga, acara kelas, reuni dan lain-lain. Lokasi wisata yang populer antara lain Pantai Ide, Pantai Kupu-kupu dan Pantai Salonsa.[15]

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Kapal penyeberangan dari Nuha merapat di dermaga Sorowako

Danau Matano juga dijadikan jalan untuk menyeberang antara Sorowako dan Nuha yang menghubungkan Kabupaten Morowali dengan Kabupaten Luwu Timur.[16]

Penelitian[sunting | sunting sumber]

Kondisi air Danau Matano yang hangat, sangat dalam, kaya kandungan besi tetapi minim kandungan oksigen oleh banyak peneliti dianggap memiliki kondisi yang sama dengan kondisi laut bumi pada masa Arhaean Eon sekita 2,5 juta tahun yang lalu.[17]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ [1] Lakenet - Profile of Danau Matano
  2. ^ a b c "The biogeochemistry of tropical lakes: A case study from Lake Matano, Indonesia" "American Limnology and Oceanography", 2008
  3. ^ a b c "Aquatic biodiversity hotspots in Wallacea: the species flocks in the ancient lakes of Sulawesi, Indonesia" "Zoological Research Museum Alexander Koenig", 2012
  4. ^ WWF: "Central Sulawesi Lakes", WWF Global 200 Ecoregions, 2001
  5. ^ "The Ancient Lakes of Indonesia: Towards Integrated Research on Speciation" "Integrative and Comparative Biology Advance Access", 2011
  6. ^ "Ancient lakes revisited: from the ecology to the geneticsof speciation" "Molecular Ecology", 2010
  7. ^ "[2]" "Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan - TWA Danau Matano"
  8. ^ "UU no. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya" "Badan Pemeriksa Keuangan - Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum"
  9. ^ WWF: "WWF List of Ecoregions", WWF Global Ecoregions, 2015
  10. ^ a b c "[3]" "LIPI - Sistem Informasi Danau Indonesia"
  11. ^ "Reproduksi Ikan Endemik Rainbow Sulawesi Thelmateria Celebenensis di Danau Matano Sulawesi Selatan" "Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Vol.20(1, April 2010
  12. ^ "Keragaman Morfologi Hydriastele (Palmae) Endemik Sulawesi di Kawasan Hutan Danau Matano, Soroako" "Jurnal Biologi FMIPA, Universitas Neger Makassar"
  13. ^ Hopkins, H.C. "Cunoniaceae". In Kubitzki, Klaus. The Families and Generas of Vascular Plants. Springer. hlm. 97. ISBN 3-540-06512-1. 
  14. ^ "[4]" PLTA Larona, PLTA Balambano, PLTA Karebbe
  15. ^ "[5]" Pariwisata Danau Matano
  16. ^ "[6]" "Profil dan Kinerja Perhubungan Darat Sulawesi Selatan 2012"
  17. ^ "Researcher Finds Clues to the Early Earth in Indonesian Lake" "Large Lakes Observatory & Department of Physics - University of Minnesota Duluth, 2015"

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]