Damarwulan, Keling, Jepara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Damarwulan
Desa
[[Berkas:-6° 31' 44.46", +110° 55' 26.62"
Peta lokasi Desa Damarwulan|250px|Lokasi Damarwulan]]
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Jepara
Kecamatan Keling
Kodepos 59454
Luas -
Jumlah penduduk -
Kepadatan -

Damarwulan adalah desa di kecamatan Keling, Jepara, Jawa Tengah, Indonesia yang merupakan salah satu desa terluas dikecamatan keling, dengan mata pencaharian sebagaian penduduknya adalah petani. Bidang pertanian, peternakan dan perkebunan menjadi urat nadi perekonomian di desa ini selain juga ada industri pengolahan kayu. Dengan memanfaatkan lahan yang luas didesa ini, masyarakat Damarwulan menanam Kopi, Cengkeh, Randu (kapuk), Cokelat maupun aneka ragam tanaman keras, seperti kayu Sengon, Jati, Mahoni.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah kelahiran desa Damarwulan berasal dari munculnya sebuah lentera yang menyala terus menerus setiap menjelang malam tepatnya pada waktu magrib hingga menjelang pagi, dalam bahasa lokal lentera mempunyai arti yaitu dengan makna Damar, dan Wulan mempunyai arti Cahaya yang menyala yang bersinar berbulan – bulan. Cahaya yang menyala tersebut sering kali dilihat oleh penduduk yang berada dibawah gunung, waktu itu terlihat jelas oleh masyarakat dari desa kelet. Dilihatnya lentera yang menyala itu sikian hari menjadikan banyak tanggapan dan pertanyaan dari penduduk Desa Kelet dan sekitar“ Iku cahaya opo kok angger magrib urip, ngadepke esuk kok rak ono” bahasa yang dilontarkan oleh penduduk desa kelet dan sekitar. Kalau arti bahasa indonesia “ Itu cahaya apa kenapa setiap menjelang magrib menyala, terus ketika menjelang pagi tidak ada”. Berbulan – bulan masyarakat desa kelet melihat cahaya itu tanpa ada keberanian untuk menyurvai langsung, hal tersebut dikarenakan ketakutannya penduduk Desa Kelet karna Cahaya tersebut terletak dipegunungan serta ditengah – tengah hutan. Disaat masyarakat Kelet yang bingung akan cahaya tersebut, dari sesepuh waktu itu Mbh Abdullah atau disebut Mbh Mbedul dikasih tahu orang kelet mengutus seseorang untuk memberanikan diri untuk melihat dan membuktikan kebenaran cahaya itu "Belum diketahui namanya" Orang yang diutus itu akhirnya melaksanakan amanah yang diberikan Mbh Mbedul, setelah melihat langsung ketempat beradanya cahaya, ternyata cahaya itu adalah cahaya yang diakibatkan oleh lentera yang menyala yang dinyalakan oleh seseorang, lentera tersebut terpasang pada disebuah pohon Ketepus yang berada pada hutan kerpus. yang digunakan untuk menerangi subuah Bale yang disebut Bale Kambang oleh seseorang yang tinggal dibale tersebut. saat ini tempat itu dijuluki Punden Mbh Joyo Kusumo. Kemudian timbul pertanyaan oleh orang yang menyurvai lokasi tersebut "siapa yang menghidupkan lentera ini, sedangkan disini adalah gunung dan masih berbentuk hutan yang lebat jauh dari pemukiman penduduk?'"'. Ditunggunya lentera tersebut hingga muncul seseorang yang tinggal ditengah-tengah hutan tersebut hingga muncul seseorang yang menyalakan lentera tersebut. "Saat orang yang diutus Mbh Mbedul itu menunggu tidak diketahui apakah dia bertemu dengan orang yang menyalakan lampu lentera itu apa tidak". Sepengetahuan masyarakat dan yang dituturkan oleh Petinggi Desa Damarwulan “ Toubi Hadi Soetijo 21/02/2013”. Lampu lentera yang hidup itu adalah lampu yang hidup tanpa ada yang menunggu yang ditinggalkan oleh seseorang. Menurut kabar lentera itu adalah peninggalan prajurit atau kesatria dari mataram. “tidak diketahui namanya”, orang yang diutus itu kaget dan bertanya – tanya dalam hati, “ siapa kah kesatria itu kok ada disini dan mau apa? “. Orang yang diutus Mbh Mbedul itu pun beranggapan bahwa tempat itu adalah tempat yang digunakan untuk pertapaan untuk mencari wahyu para dewa ketika itu. karena saat itu memang banyak orang yang ingin meningkatkan Ilmu Kanuragan atau kesaktian diri salah satunya ada yang menggunakan cara mengasingkan diri ketengah Hutan, Gunung, Gua dan tempat yang sepi untuk mencari Wahyu dari para Dewa. Seketika orang utusan Mbh Mbedul kembali kerumah, disebarkanlah kabar yang diperoleh itu kepada masyarakat sekitar, dan kabar dari orang utusan Mbh Mbedul itu menjadi jawaban yang selama itu menjadi pertanyaan dari penduduk yang berada dilereng gunung tepatnya diwilayah desa kelet dan sekitar. Kabar itupun dikabarkan kepada Mbh Mbedul oleh orang yang diutusnya dan Mbh Mbedul memberi tanggapan tempat itu dinamakan Damarwulan.Kemudian daerah sekitar tempat yang dijadikan pertapaan "Bale Kambang" tepatnya didukuh Bajangan Desa Damarwulan Kecamatan [Keling, Jepara|Keling]] Kabupaten Jepara, Kabar itupun menjadi puser dari desa Damarwulan. Mbh Sebrok salah satu sesepuh desa damarwulan ketika dikasih tahu Mbh Mbedul bahwa daerah tempat tinggalnya itu dinamakan Damarwulan dan beliu dijadikan lurah atau sesorang pemimpin untuk wilayah tersebut. Acara Tradisi turun temurun yang masih menjadi adat dan ciri khas Desa Damarwulan yaitu Seni Tayub, Wayang Kulit, yang menjadi hiburan masyarakat setempat, Dan lain-lain. Ini terbukti ketika desa mempunyai hajat atau disebut dengan istilah sedekah bumi, masyarakat meramaikan hajat tersebut dengan kesenian yang Tayub dan Wayang Kulit, dan menyiapkan sesaji sebagai penghormatan untuk leluhur – leluhur desa dengan menyembelih Kerbau Jantan, dan menyiapkan Ayam Panggang Jantan dan sesaji yang lain yang diperingati ketika Musim Apit pada bulan Jawa atau Dzulhijjah pada bulan Arab terlaksana pada hari senin Legi. Penyembelian Kerbau jantan itu dilakukan ketika itu Balai Bekas Pertapaan itu ingin dipindah dari Baluran ke dukuh Bajangan, pemindahan pun terdapat masalah, orang-orang yang memindahkan balai tersebut kecapean waktu proses pemindahan kemudian muncul ide untuk mengangkat balai tersebut dengan bantuan kerbau, setelah kerbau itu diperoleh balaipun diangkat hingga tujuan dan setelah itu kerbau itu disembelih untuk memberi makan orang – orang yang ikut serta dalam pemindahan balai tersebut. Hal itu masih menjadi kepercayaan yang dianut warga Desa Damarwulan, dan menjadi adat desa damarwulan.

Pemdes Damarwulan[sunting | sunting sumber]

Struktur pemdes Damarwulan periode 2008-2012:

  • Kepala Desa = -
  • Sekretaris (Carik) = -
  • Bendahara = -
  • Tata Usaha = -
  • Modin = -
  • Ketua BUMDes = -
  • Komandan Hansip = -
  • Ladu = -
  • Bayan = -
  • Kamituwo = -

Potensi[sunting | sunting sumber]

Ternak ulat sutra dikembangkan sejak 2007 di lahan tegakan seluas 15 hektare. Media pembudidayaan ulat sutra itu adalah tanaman murbei[1]. Setiap 36-40 hari, warga mampu memproduksi benang sutra 2,5-4 kilogram. Benang itu dijual kepada sejumlah perajin tenun di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Jepara. Harga benang Rp 350.000 per kg. maka Desa Damarwulan di juluki Desa Benang Sutra.

disamping itu, desa damarwulan juga memiliki kebun kopi yang sangat luas, sehingga potensi desa damarwulan juga merupakan desa penghasil kopi, kopi damarwulan juga merupakan salah satu kopi terbaik yang di miliki indonesia.[2].

Olahraga[sunting | sunting sumber]

Desa Damarwulan tidak mempunyai ssb juga klub sepakbola oleh sebab itu Masyarakat dan Petinggi ingin mendirikan klub sepak bola sekaligus ssb seperti Kenari Star FC dari Purwogondo, Petinggi Damarwulan dan Masyarakat telah menyiapkan nama untuk klub sekaligus ssb dengan nama Damarwulan Oetama FC (DO FC). Agar para putra-putra desa Damarwulan bisa mengembangkan bakat supaya menjadi pemain sepak bola profesional sehingga bisa mengharumkan nama Desa Damarwulan di Liga PSSI Pengcab Jepara yaitu Yazztea Jepara League dan menjadi pemain Persijap Jepara lalu membela negara dengan cara menjadi skuat TIMNAS INDONESIA.

Pranata Luar[sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://regional.kompas.com/read/2012/01/26/17321016/Ulat.Sutra.Geliatkan.Ekonomi.Desa
  2. ^ http://www.damarvokasi.com/kopi-damarwulan-merupakan-salah-satu-kopi-terbaik-indonesia/