Daftar Penguasa Aceh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sultan Muhammad Daud Syah, sultan Aceh terakhir bersama pengawalnya.

Sultan Aceh merupakan penguasa / raja dari Kesultanan Aceh, tidak hanya sultan, di Aceh juga terdapat Sultanah / Sultan Wanita. Berikut daftar sultan-sultanah yang pernah memerintah di Kesultanan Aceh:

Sultan Aceh[sunting | sunting sumber]

Dinasti Meukuta Alam[sunting | sunting sumber]

Di bawah ini merupakan daftar sultan-sultan Aceh dari Dinasti Meukuta Alam.[1]

Sultan Aceh dari Dinasti Meukuta Alam
# Nama Masa pemerintahan Keterangan
1 Sultan Ali Mughayat Syah 1496-1528 / 7 Agustus 1530[1] Pendiri kerajaan, putera dari Syamsu Syah
2 Sultan Salahuddin ibn Ali Malik az Zahir 1528 / 1530[1]-1537 / 1539[1] putra dari No. 1. Wafat tanggal 25 November 1548.[1]
3 Sultan Alauddin ibn Ali Malik az Zahir
Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar
1537-1568 / 28 September 1571[1] putra dari No. 1 dan adik dari No. 2.
4 Sultan Ali ibn Alauddin Malik az Zahir
Sultan Husain Ali Riayat Syah
1568 / 1571[1]-1575 / 8 Juni 1579[1] putra dari No. 3.
5 Sultan Muda 1575 / 1579[1] putra dari No. 4. Baru berumur beberapa bulan pada saat dijadikan sultan.
6 Sultan Sri Alam
Sultan Firman Syah ibn Alauddin
1575-1576 / berkuasa hanya pada 1579[1] putra dari No. 3. Juga merupakan Raja Pariaman
7 Sultan Zainal Abidin ibn Abdullah 1576-1577 / berkuasa hanya pada 1579[1] cucu dari No. 3. Putra Sultan Abdullah Raja Aru

Sultan Aceh keturunan Perak[sunting | sunting sumber]

Sultan Aceh yang berasal keturunan Perak
# Nama Masa pemerintahan Keterangan
8 Sultan Alauddin Mansur Syah ibn Ahmad 1577 / 1579[1]-1589 / dibunuh sekitar 1586[1] Putra Sultan Ahmad, Sultan Perak 1549-1577.
Menantu dari No. 4.

Sultan Aceh keturunan Inderapura[sunting | sunting sumber]

Sultan Aceh yang berasal keturunan Inderapura
# Nama Masa pemerintahan Keterangan
9 Sultan Ali ibn Munawar Syah
Sultan Buyung
1589 / 1586[1]-1596 / 28 Juni 1589[1] anak seorang raja Indrapura.[1] (Sultan Munawar Syah)

Dinasti Darul-Kamal[sunting | sunting sumber]

Sultan Aceh dari Dinasti Darul-Kamal
# Nama Masa pemerintahan Keterangan
10 Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil 1596 / 1589[1]-1604 cucu dari saudara ayahnya No. 1. putra dari Firman Syah, keturunan Inayat Syah, raja Darul-Kamal.[1]
11 Sultan Ali Riayat Syah 1604-1607 putra dari No. 10.[1]

Peleburan dari kedua dinasti tersebut[sunting | sunting sumber]

Sultan Aceh peleburan dari Dinasti Makota Alam dan Dinasti Darul-Kamal
# Nama Masa pemerintahan Keterangan
12 Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam 1607-27 Desember 1636 cucu (melalui ibu) dari No. 10 dan cicit dari No. 3 melalui ayah.[1]

Sultan Aceh keturunan Pahang[sunting | sunting sumber]

Sultan Aceh yang berasal keturunan Pahang
# Nama Masa pemerintahan Keterangan
13 Sultan Iskandar Tsani Alauddin Mughayat Syah 1636-15 Februari 1641 putra Sultan Pahang, Ahmad Syah II. Menantu dari No. 12 dan suami dari No. 14.

Sultanah Aceh[sunting | sunting sumber]

Sultanah Aceh Keturunan Bugis (Cucu Daeng Mansur)
# Nama Masa pemerintahan Keterangan
14 Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam 1641-1675 Putri dari No. 12 dan istri dari No. 13
15 Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam 1675-1678
16 Sri Ratu Zaqiatuddin Inayat Syah 1678-1688
17 Sri Ratu Zainatuddin Kamalat Syah 1688-1699 Saudari angkat dari No. 16, istri dari No. 18,
serta ibu dari No. 19 dan No. 20

Sultan-sultan Aceh Dinasti Syarif[sunting | sunting sumber]

Sultan Aceh dari Dinasti Syarif (Maulana)
# Nama Masa pemerintahan Keterangan
18 Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin 1699-1702 Suami dari No. 17, serta ayah dari No. 19 dan No. 20
19 Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui 1702-1703
20 Sultan Jamalul Alam Badrul Munir 1703-1726
21 Sultan Jauharul Alam Aminuddin 1726
22 Sultan Syamsul Alam 1726-1727

Sultan Aceh keturunan Bugis[sunting | sunting sumber]

Keturunan sultan-sultan terakhir Aceh yang masih memiliki garis keturunan Bugis.[2]

Sultan Aceh keturunan Bugis
# Nama Masa pemerintahan Keterangan
23 Sultan Alauddin Ahmad Syah 1727-1735
24 Sultan Alauddin Johan Syah 1735-1760 putra dari No. 23
25 Sultan Mahmud Syah 1760-1764 putra dari No. 24, ditumbangkan oleh
26 Sultan Badruddin Johan Syah 1764-1765 dipulihkan dan dikembalikan kepada
25 Sultan Mahmud Syah 1765-1773
27 Sultan Sulaiman Syah 1773 dipulihkan dan dikembalikan lagi kepada
25 Sultan Mahmud Syah 1773-1781
28 Alauddin Muhammad Syah 1781-1795 putra dari No. 25
29 Sultan Alauddin Jauhar al-Alam 1795-1823 putra dari No. 28. Wali dari No. 27 sampai tahun 1802. Digugat oleh
30 Sultan Syarif Saif al-Alam 1815-1820
29 Sultan Alauddin Jauhar al-Alam 1795-1823 Dikembalikan posisinya dengan bantuan Raffles, Inggris.[3]
31 Sultan Muhammad Syah 1823-1838 putra dari No. 29.
32 Sultan Sulaiman Syah 1838-1857 putra dari No. 31. Wali dari No. 33 sampai 1850, digugat oleh No. 33 pada 1870
33 Sultan Mansur Syah 1857-1870 putra dari No. 29.
34 Sultan Mahmud Syah 1870-1874 putra dari No. 32.
35 Sultan Muhammad Daud Syah 1874-1903 cucu dari No. 33. Wali dari Tuanku Hasyim sampai 1884. Ditangkap oleh Belanda dan turun takhta pada 1903.

Gambar[sunting | sunting sumber]


  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t LOMBARD, Denys. Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta: Kepustakan Populer Gramedia, 2006. ISBN 979-9100-49-6
  2. ^ REID, Anthony. Asal Usul Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005. Halaman 335. ISBN 979-461-534-X
  3. ^ REID, Anthony. Asal Usul Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005. Halaman 9. ISBN 979-461-534-X

Pranala luar[sunting | sunting sumber]