Daftar jembatan di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Indonesia memiliki jembatan-jembatan yang menghubungkan suatu daratan dengan daratan lainnya.

Beberapa Nama-nama Jembatan di Indonesia[sunting | sunting sumber]

  • Jembatan Ampera (Sumatera Selatan)
  • Jembatan Barito (Banjarmasin, Kalimantan Selatan)
  • Jembatan Rantau Berangin tertua di indonesia (Riau)

Jembatan ini terletak di kabupaten Kampar, provinsi Riau.Memiliki panjang 200 meter.

  • Jembatan Tukad Bangkung (Badung, Bali)

jembatan yang terletak di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Bali ini merupakan jembatan Tertinggi di Asia Tenggara dan Terpanjang di Bali ini sering didatangi turis domestic dan mancanegara

  • Jembatan Pasar Ayam (DKI Jakarta)

Jembatan angkat yang terkenal dan merupakan satu-satunya yang masih kelihatan bentuknya adalah yang dikenal dengan nama Hoenderpasarbrug (Jembatan Pasar Ayam), yang terletak di ujung utara Kali Besar, di dekat Hotel Omni Batavia di Jalan Kali Besar Barat.

Sesuai namanya, jembatan itu yang menempati lokasi yang menurut peta masa Gubernur Jenderal Van der Parra, merupakan pasar ayam dan sayuran, yaitu yang terletak di sebelah utara gereja lama Portugis (Binnenkerk). Lahan bekas pasar ayam itu kemudian dijadikan lokasi tempat perbaikan kapal. Karena Boom Besar dalam jangka panjang juga akan dibangun, maka pembesar kumpeni merencanakan lokasi untuk gudang-gudang di tepi Kali Besar itu. Karena itulah dibangun jembatan angkat, sehingga perahu-perahu yang mengangkut berbagai kebutuhan sehari-hari tetap bisa melewati Kali Besar.

  • Jembatan Javasche Bank (DKI Jakarta)

Di ujung selatan daerah Kali Besar, Jakarta terdapat sebuah jembatan, untuk kebutuhan orang-orang yang bermaksud ke rumah sakit (hospitaalsbrug). Setelah rumah sakit dipindahkan ke Weltevreden, lahan bekas rumah sakit itu dimanfaatkan oleh Javasche Bank, sehingga jembatan itu dikenal sebagai Jembatan Javasche Bank. Jembatan Pasar Ayam maupun Jembatan Javasche Bank itu bukan jembatan yang paling tua di Betawi. Yang tertua adalah Jembatan Inggris, yang ketika tentara Mataram menyerang Betawi pada tahun 1628, jembatan itu harus dihancurkan. Baru pada tahun 1655 dibangun jembatan baru melintasi terusan kanal yang bernama Amsterdamsche-gracht. Itulah jembatan yang disebut Hoenderpasarbrug.

Jembatan itu bukan satu-satunya sarana untuk menyeberangi kanal. Ketika para pembesar kumpeni masih tinggal di dalam kastil, selain jembatan untuk penyeberangan itu, di tempat-tempat yang cukup jauh dari jembatan ditempatkan beberapa buah sampan memakai tenda. Sampan-sampan itu dipakai untuk mengangkut ’nyonya-nyonya besar’ yang biasanya malas berjalan itu ke seberang kanal. ’Nyonya-nyonya besar’ itu jelas sulit berjalan, karena gaun-gaun yang mereka kenakan model kurungan ayam. Setiap mereka berjalan, harus ada budak-budak yang memegangi gaun itu. Repotnya lagi, selain budak pemegang gaun, ada pula budak yang khusus memayungi sang nyonya besar, karena matahari Betawi sangat terik. Si nyonya besar sendiri tidak henti-hentinya mengipas-ngipaskan kipas bulu burung merak.

  • Jembatan Senti (DKI Jakarta)
  • Jembatan Kambing (DKI Jakarta)

Memasuki kawasan Pekojan, Jakarta Barat, dari Jl Tubagus Angke terdapat sebuah jembatan yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Keberadaan jembatan yang dinamakan Jembatan Kambing ini punya sejarah panjang. Karena kambing-kambing yang didatangkan dari berbagai tempat, umumnya dari Tegal, sebelum disembelih di pejagalan lebih dulu dilewatkan jembatan Kali Angke yang memisahkan Pekojan dan Jl Tubagus Angke. Hingga kini nama Pejagalan merupakan salah satu kampung di Kelurahan Pekojan.

Nama Jembatan Kambing ini pun dikaitkan dengan kegemaran masyarakat keturunan Arab pada daging kambing. Sampai 1950-an mayoritas penduduk Pekojan adalah keturunan Arab yang sebagian besar berasal dari Hadramaut (salah satu wilayah di selatan Yaman). Besarnya jumlah komunitas keturunan Arab ini menyebabkan banyak pula pedagang kambing yang mangkal di tepi Kali Angke itu. Dan para pedagang kambing ini sebagian besar juga keturunan Arab. Para pedagang ini menyatakan mereka ini hanya meneruskan usaha dagang yang dilakukan oleh ayah, kakek, bahkan buyut mereka.

Jembatan Kambing ini berhadapan dengan Masjid An-Nawir yang dibangun 1760. Pada akhir abad ke-19 masjid ini diperluas oleh Sayid Abdullah Bin Husein Alaydrus, seorang kaya raya yang namanya diabadikan menjadi nama Jalan Alaydrus di Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat. Semasa hidupnya ia ikut menyelundupkan senjata untuk para pejuang Aceh saat melawan Belanda. Masjid yang kini dapat menampung dua ribu jamaah ini merupakan salah satu masjid tempat mengajar Habib Usman Bin Yahya, pengarang sekitar 50 buku (kitab kuning) berbahasa Melayu Arab gundul. Ia pernah diangkat sebagai mufti Betawi pada 1862 (1279 H). Salah seorang muridnya adalah Habib Ali Alhabsji (meninggal 1968) yang mendirikan Majelis Taklim Kwitang.

  • Jembatan Pasupati (Bandung, Jawa Barat)
  • Jembatan Merah (Surabaya, Jawa Timur)
  • Jembatan Ampera (Sumatera Selatan)
  • Jembatan Siti Nurbaya (Padang, Sumatera Barat)
  • Jembatan Suramadu (Jawa Timur)

Jembatan Barelang adalah nama jembatan "megah" yang menghubungkan tiga pulau yaitu Batam-Rempang-Galang. Masyarakat setempat menyebutnya "Jembatan Barelang", namun ada juga yang menyebutnya "Jembatan Habibie", karena beliau yang memprakarsai pembangunan jembatan itu untuk menfasilitasi ketiga pulau tersebut yang dirancang untuk dikembangkan menjadi wilayah industri di Kepulauan Riau. Ketiga pulau itu sekarang termasuk Provinsi Kepulauan Riau, Kepri, sebuah provinsi yang baru saja diresmikan keberadaannya oleh menteri dalam negeri.

  • Jembatan Wiratno,Jembatan Sei Carang (Tanjungpinang,Kepulauan Riau)
  • Jembatan Ekang,Jembatan Kangboy,Jembatan Busung (Bintan,Kepulauan Riau)