Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Tarsius di Tangkoko

Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus adalah cagar alam di Kecamatan Bitung Utara, Kota Bitung, Sulawesi Utara. Cagar alam seluas sekitar 8.745 hektare ini[1]merupakan tempat perlindungan monyet hitam sulawesi dan tarsius. Di dalam kawasan ini terdapat Taman Wisata Batuputih dan Taman Wisata Alam Batuangus. Secara geografis, cagar alam ini terletak di antara 125°3' -125°15' BT dan 1°30'-1°34' LU, dan berbatasan langsung dengan Cagar Alam Gunung Duasudara. Kawasan cagar alam ini dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pantai Batuputih

Kehidupan satwa liar di kawasan Tangkoko sudah diketahui secara luas dan dikunjungi oleh Alfred Russel Wallace pada tahun 1861. Di Tangkoko, Wallace mengumpulkan spesimen babirusa dan maleo yang waktu itu sangat mudah dijumpai. Ketika itu, pasir hitam di pantai Tangkoko merupakan tempat bersarang dan penetasan telur maleo. Akibat eksploitasi oleh penduduk setempat, koloni maleo di pantai Tangkoko tidak lagi ditemukan pada tahun 1915, dan hanya tersisa sejumlah kecil koloni di pedalaman.[2]

Kawasan Tangkoko pertama kali ditetapkan Pemerintah Hindia Belanda sebagai hutan lindung pada tahun 1919 berdasarkan GB 21/2/1919 stbl. 90, dan diperluas pada tahun 1978 dengan ditetapkannya Cagar Alam Duasudara (4.299 hektare) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 700/Kpts/Um/11/78.[1]

Pada 24 Desember 1981, Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 1049/Kpts/Um/12/81 menetapkan kawasan ini sebagai Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus.[3] Surat keputusan yang sama menetapkan kawasan seluas 615 hektare di antara Cagar Alam Tangkoko dan Kelurahan Batuputih[4] sebagai Taman Wisata Batuputih,[5][4] dan kawasan seluas 635 hektare di antara Cagar Alam Tangkoko dan Desa Pinangunian sebagai Taman Wisata Alam Batuangus.[4]

Topografi[sunting | sunting sumber]

Kawasan ini memiliki topografi landai hingga berbukit yang terdiri dari hutan pantai, hutan dataran rendah, hutan pegunungan, dan hutan lumut. Di kawasan ini terdapat dua puncak gunung: Gunung Tangkoko (1.109 m) dan Gunung Dua Saudara (1.109 m), serta Gunung Batuangus (450 m) di bagian tenggara. Di sebelah timur laut terdapat Dataran Tinggi Pata.[1]

Iklim[sunting | sunting sumber]

Kawasan ini termasuk zona iklim B, dengan curah hujan sebesar 2.500-3.000 mm per tahun, suhu rata-rata antara 20 °C dan 25 °C. Musim kemarau berlangsung dari April hingga November,[3] dan musim hujan dari November hingga April.

Keanekaragaman hayati[sunting | sunting sumber]

Serak sulawesi (Tyto rosenbergii) di Tangkoko
Video monyet hitam sulawesi di Tangkoko

Flora[sunting | sunting sumber]

Di kawasan ini terdapat hutan hujan yang didominasi coro (Ficus septica Burm.f.), ares (Duabanga moluccana), gora hutan (Phaleria capitata Jack.), mangga hutan (Buchanania arborescens Bl.), lengki (Leea angulata Korth.), bintangar (Kleinchofia hospita L.), dan bombongan (Bignoniaceae), dan nantu (Palaquim obtusifolium).[3][6] Di hutan lumut bisa dijumpai edelweis (Anaphalis javanica) dan berbagai spesies kantong semar, salah satunya Nepenthes maxima.[3]

Di kawasan Taman Wisata Batu Putih terdapat tumbuhan pantai seperti ketapang, bitung, pandan, jati, dan mahang (Macaranga).[5]

Fauna[sunting | sunting sumber]

Mamalia[sunting | sunting sumber]

Monyet hitam sulawesi (Macaca tongkeana), tarsius (Tarsius spectrum), kuskus (Ailurops ursinus), kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis), anoa, tupai (Tupaia sp), musang sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii).[1]

Burung[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1980 dicatat sejumlah 140 spesies burung, termasuk burung tahun (Rhythitceras cassidix) dan maleo (Macrocephalon maleo) yang endemik Sulawesi.[1] Spesies lain di antaranya pergam hijau (Ducula aenea), srigunting jambul-rambut (Dicrurus hottentottus), jalak tunggir-merah (Scissirostrum dubium), raja-udang pipi-ungu (Cittura cyanotis), udang merah sulawesi (Ceyx fallax), celepuk sulawesi (Otus manadensis), rangkok sulawesi (Penelopides exarhatus).[7]

Reptilia[sunting | sunting sumber]

Jenis reptilia dan ular yang dijumpai adalah ular sanca kembang (Python reticulatus), kobra (Naja naja), ular anang (Ophiophagus hannah), Tropidolaemus wagleri, soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), biawak indicus (Varanus indicus), dan cicak terbang sayap merah (Draco sp.)[1] Satwa laut di antaranya penyu hijau (Chelonia mydas), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).[1]

Lokasi[sunting | sunting sumber]

Cagar alam ini sekitar 60 km dari Manado atau 20 km dari Kota Bitung. Di Bitung terdapat hotel dan penginapan untuk wisatawan. Di Kelurahan Tanduk Rusa yang berdekatan dengan lokasi cagar alam juga terdapat penginapan.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g "Cagar Alam Tangkoko Batuangus (Tangkoko Batuangus Nature Reserve)". UNEP World Conservation Monitoring Centre. Diakses 2009-07-10. 
  2. ^ O' Brien, Timothy G.; Margaret F. Kinnaird. "Differential Vulnerability of Large Birds and Mammals to Hunting in North Sulawesi, Indonesia, and the Outlook for the Future". Diakses 2009-07-10. 
  3. ^ a b c d "Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus". Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan. Diakses 2009-07-10. 
  4. ^ a b c "Press Release: Lansekap Tangkoko-Duasudara". Wildlife Conservation Society: Indonesia Program. Diakses 2009-07-10. 
  5. ^ a b "Taman Wisata Batuputih". Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan. Diakses 2009-07-10. 
  6. ^ Wirdateti; Hadi Dahrudin (Oktober 2006). "Pengamatan Pakan dan Habitat Tarsius spectrum (Tarsius) di Kawasan Cagar Alam Tangkoko-Batu Angus, Sulawesi Utara". Biodiversitas 7 (4): 373–377. Diakses 2009-07-10. 
  7. ^ Sinombor, Sonya Hellen (30 April 2008). "Kawasan Konservasi Tangkoko: Aset Sejarah Alam Dunia dan Rumah Satwa Sulawesi". Kompas. Diakses 2009-07-10.