Bugo, Welahan, Jepara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Bugo
—  Desa  —
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Jepara
Kecamatan Welahan
Kodepos 59464
Luas -
Jumlah penduduk -
Kepadatan -

Bugo adalah desa di kecamatan Welahan, Jepara, Jawa Tengah, Indonesia.

Geografis[sunting | sunting sumber]

Desa Bugo terletak di:

  • Utara: Gidangelo, Kendengsidialit
  • Selatan: Kedungsarimulyo
  • Timur: Welahan
  • Barat: Guwosobokerto

Administratif[sunting | sunting sumber]

Dukuh[sunting | sunting sumber]

Desa Bugo terdapat beberapa dukuh, yaitu:

  • Dukuh Jeruk Wangi

RT/RW[sunting | sunting sumber]

Desa Bugo terdapat 8 RT dan 2 RW, yaitu:

  • RW I : RT 1 - RT 4
  • RW II : RT 5 - RT 8

Pemdes Bugo[sunting | sunting sumber]

Struktur pemerintah desa Bugo periode 2012-2016:

  • Kepala Desa =
  • Sekretaris (Carik) =
  • Bendahara =
  • Tata Usaha =
  • Modin =
  • Ladu =
  • Bayan =
  • Kamituwo =
  • Ketua BUMDes =
  • Komandan Hansip (Petengan) =

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Versi 1[sunting | sunting sumber]

Asal nama desa ini dari kata Boga (Tata Boga), kaena daerah ini sejak dulu terkenal sebagai pembuat Boga / Tata Boga. Maka masyarakat menamai desa ini desa Boga, Karena tulisan Boga di baca dengan logat jawa berbunyi Bugo. Maka nama desa ini menjadi Desa Bugo.

Versi 2[sunting | sunting sumber]

Desa Bugo berasal dari kata REMBUGAN(bhs jawa) yang berarti musyawarah/bermusyawarah. Berawal dari Cikal Bakal (asal mula)yang bermukim di tempat ini, ada 5 orang yang suka berembug/bermusyawarah tentang segala hal. Dari masalah pertanian, agama, kehidupan, juga pemerintahan (dipercaya, 5 orang tersebut berasal dari kerajaan Mataram). Hingga jika ada orang dari tempat lain bertanya akan kemana, dijawab akan ke tempat Rembugan/mBugan/mBugo. 5 orang tersebut adalah PUNDEN (bhs jawa = mulia/yang dimuliakan) yang makamnya masih terawat dengan baik sampai sekarang.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Formal[sunting | sunting sumber]

  • TK Bugo
  • SDN 1 Bugo
  • SDN 2 Bugo
  • SDN 3 Bugo

Non Formal[sunting | sunting sumber]

  • Madrasah Dinniyah Lanatusshibyan
  • LPK ZETA (kursus tataboga, kecantikan, dll)

Potensi[sunting | sunting sumber]

Sejarah Singkat Industri Roti Pada tahun 1960 – an ada 2 orang penduduk desa Bugo yang bernama bapak Sunar dan bapak Kaswi yang bekerja pada perusahaan roti milik orang Cina di Kudus. Setelah beberapa tahun bekerja di perusahaan roti tersebut mereka akhirnya mengusai cara dan teknik pembuatan roti. Kemudian pada tahun 1970 an setelah merasa mampu dan menguasai cara pembuatan roti, mereka memutuskan untuk usaha mandiri dalam bidang pengolahan kue dan di desa Bugo. Pada awalnya mereka membuat kue dan roti bolang baling,roti moho, roti manis dan untir untir. Namun saat itu usaha pengolahan kue kue dan roti belum bisa berkembang , karena masyaraka masih asing dengan produk produk tersebut. Bahkan poduk produk tersebut masih di anggap makanan mewah yang hanya dapat dibeli oleh kalangan menengah ke atas. Namun dengan kesabaran, ketekunan dan keuletannya lambat laun produk produk ini mulai di kenal dan diminati masyarakat. Pada saat itu beberapa orang penduduk desa Bugo bekerja sebagai tenaga kerja di perusahaan kue dan roti milik Bapak Kaswi dan Bapak Sunar . Akhirnya semakin banyaklah orang desa Bugo yang menguasai cara pengolahan roti dan kue kue tersebut, dan mulai semakin bertambah banyak pula masyarakat desa Bugo yang mendirikan usaha pengolahan kue dan roti dalam skala industri rumah tangga ( home industri ). Selain Bapak Kaswi dan Bapak Sunar, akhirnya muncullah nama nama yang lain seperti Bapak Kliwon, Bapak Sukamat, Bapak Kuat, Bapak Rahmat, dan Bapak Sujono yang mendirikan usaha pengolahan roti dan kue – kue dalam skala home industri di desa Bugo Welahan Jepara ini. Pada sekitar era 80- an Bapak Kuat dan Bapak Sukamat berusaha mengmbangkan usaha pengolahan aneka kue dan roti ini di Jakarta. Ternyata usaha mereka di Jakarta maju dengan pesat. Kondisi ini membuat warga Bugo yang lain tertarik mengikuti mereka untuk merantau dan berusaha di Jakarta. Pada saat itu bahkan usaha pengolahan aneka roti dan kue dari pengusaha desa Bugo ini berkembang di kota kota Jawa Barat seperti Banten, Cikampek, Bogor, Karawang dan sebagainya. Namun pada tahun 1987 banyak dari warga Bugo ini yang akhirnya kembali ke kampung halamannya untuk mengembangkan usahanya di daerah sendiri. Usaha pengolahan aneka kue dan roti di desa Bugo ini akhirnya dari tahun ke tahun tambah pesat. Kondisi ini membuat inisiatif warga desa Bugo untuk mendirikan koperasi yang berbadan hukum dengan nama ” KOPINKRA KARYA BOGA ” ( Koperasi Industri Dan Kerajinan Karya Boga ) yang anggotanya adalah para pengrajin kue dan roti dari desa Bugo. Kemudian koperasi ini juga telah menjalin kerja sama dengan perusahaan produk tepung terigu yaitu ” Sri Boga Ratu Raya ” dari Semarang. Desa Bugo saat ini benar benar telah menjadi sentra industri kue dan roti yang di buktikan dengan di resmikannya desa Bugo sebagai pusat dan pasar perdagangan aneka kue dan roti oleh Bapak Bupati Jepara . Dengan demikian dalam memasarkan produknya masyarakat produsen kue dan roti tidak perlu memasarkan sendiri ke konsumen, melainkan ada para pedagang yang mengambil langsung ke pusat produk di desa Bugo ini untuk di pasarkan ke kota Jepara, Kudus, Rembang, Pati, Semarang, Demak,Purwodadi,Solo,Pekalongan dan kota-kota lainnya.

Rencana[sunting | sunting sumber]

Petinggi Desa Bugo mempunyai beberapa rencana, diantaranya:

  • Membangun Trotoar sepanjang jalan Desa Bugo
  • Membuat galeri toko roti dan kue disepanjang desa Bugo seperti desa Tahunan yang ada galerimebel sepanjang jalan Tahunan
  • Membangun BUMDes dalam bentuk tempat kursus untuk anak-anak, remaja, hingga dewasa

Olahraga[sunting | sunting sumber]

Petinggi Desa Bugo ingin mendirikan klub sepak bola untuk berajang di Liga PSSI Pengcab Jepara yaitu Yazztea Jepara League, rencananya akan menggunakan nama Bugo Raya FC (BRFC) untuk mengharumkan nama Desa Bugo dalam dunia sepak bola Jepara.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]