Blahbatuh, Gianyar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Blahbatuh)
Langsung ke: navigasi, cari
Blahbatuh
—  Kecamatan  —
Negara  Indonesia
Provinsi Bali
Kabupaten Gianyar
Luas 39,70 km²

Blahbatuh adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Gianyar, Bali, Indonesia. Luasnya adalah 39,70 km².

Blahbatuh adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Gianyar yang kaya akan peninggalan purbakala dan benda-benda bersejarah. Di sebelah timur pasar desa Blahbatuh terdapat sebuah pura kuno yang sangat megah dan indah. Pura itu bernama Pura Gaduh, sebuah tempat penyimpanan benda-benda bersejarah yang didirikan untuk menghormati jasa Mahapatih Kebo Iwo, seorang pahlawan kesayangan raja Asta Sura Ratna Bumi Banten yang tewas di kerajaan Majapahit.

Di sebelah utara persimpangan jalan dari Bedaulu ke Gianyar terdapat sebuah pura bersejarah yang disebut Pura Kutri. Di atas puncak bukit di pura tersebut terdapat sebuah arca Dewi Durga yang tingginya 220 cm. Arca yang dibuat dari batu padas yang sangat indah merupakan perwujudan Ibunda Raja Airlangga yang bergelar Putri Gunapriyadharmapatni. Patung itu berasal dari awal abad XI.

Di atas sungai Petanu memasuki Desa Blahbatuh dari Denpasar terdapat sebuah pura kecil yang bernama Pura Penataran Topeng. Di pura itu disimpan sejumlah topeng-topeng sakral yang dinamakan Topeng Gajah Mada. Topeng-topeng itu kini sudah dipindahkan ke Puri Agung Jelantik Blahbatuh dan menurut sumber terpercaya bahwa topeng-topeng itu sering ditampilkan sebagai pergelaran Topeng Pajegan pada upacara-upacara besar di sekitar Desa Blahbatuh untuk pengukuhan sebuah upacara keagamaan.

Pada tahun 1937 seorang sarjana Belanda bernama H.H. Noosten melakukan penyelidikan tentang topeng Gajah Mada tersebut dan menerbitkan hasil penelitiannya dalam Majalah DJAWA Nomor 3, Mei 1941 dengan judul "Topeng-topeng Bersejarah di Pura Penataran Topeng Blahbatuh (Bali)".

Uraian panjang itu dilengkapi dengan foto-foto hitam putih yang dramatis, serta penjelasan oleh I Gusti Gede Lanang, seorang mantan punggawa distrik Blahbatuh pada masa itu. Menurut peneliti di atas, topeng sebanyak 21 buah itu menggambarkan tokoh-tokoh sejarah Majapahit dan Bali yang berkisar lebih dari 3 abad yaitu mulai tahun 1325-1650.

Para ahli belum menemukan dari mana asal topeng-topeng Gajah Mada yang tersimpan di Blahbatuh itu dan masih meragukan apakah benar topeng-topeng itu berasal dari Jawa Timur?

Menyusun sebuah sejarah mengenai topeng-topeng Bali memang merupakan suatu hal yang sulit. Namun demikian, kita masih bisa melihat kembali peninggalan-peninggalan kuno yang berupa prasasti-prasasti dan lontar-lontar. Pada masa pemerintahan raja-raja Bali Kuno ditemukan sejumlah prasasti yang menyebutkan adanya pertunjukan topeng.

Prasasti itu meliputi prasasti Bebetin (896 M), prasasti Tengkulak A (1049-1077 M), prasasti Belantih A (1058 M), prasasti Julah (1065 M), prasasti Pandak Bandung (1071 M), dan lain-lain, kesemuanya menyebutkan pertunjukan topeng sebagai partapuka atau atapukan. Selanjutnya salah satu karya sastra yang barangkali mendekati kebenaran mengenai sejarah topeng Gajah Mada ini adalah lontar Ularan Prasraya. Dalam lontar ini diceritakan tentang pemerintahan Dalem Waturenggong yang bertahta di Gelgel tahun 1460-1550. Pada masa pemerintahannya, beliau berniat untuk menaklukkan Blambangan. Maka itu dikirimlah sepasukan tentara di bawah pimpinan Patih Ularan dan ditemani oleh I Gusti Jelantik Pasimpangan. Pada pertempuran itu, Sri Dalem Juru, raja Blambangan dapat ditaklukkan. Pada saat itu pula, Patih Ularan dan I Gusti Jelantik Pasimpangan merampas barang-barang sebagai bukti bahwa mereka berdua telah berhasil mengalahkan Blambangan. Di antara benda-benda yang dibawa dari Blambangan adalah dua buah gong, satu peti topeng, dan sekotak wayang gambuh. Topeng Gajah Mada dan sekotak Wayang Gambuh itu kini juga masih berada di Blahbatuh.

Setelah Dalem Waturenggong wafat, beliau diganti oleh putra mahkota yang bernama Dalem Bekung memerintah pada tahun 1550-1580. Kemudian setelah meninggal Dalem bekung diganti oleh Dalem Sagening yang memerintah Gelgel pada tahun 1580-1665. Pada pemerintah Dalem Sagening ada 3 orang keturunan I Gusti Jelantik Pasimpangan yang bernama I Gusti Ngurah Jelantik, I Gusti Gede Tusan, dan I Gusti Gede Lebah. Pada saat inilah diduga salah seorang dari keluarga I Gusti Ngurah Jelantik itu menarikan Topeng Pajegan dengan menggunakan topeng-topeng yang diperoleh dari Blambangan. Kemudian setelah kerajaan Gelgel dipindahkan ke Semara Pura (Klungkung) dan pada pemerintahan Dalem Wirya Sirikan kira-kira pada tahun 1879, semua topeng-topeng sakral Gajah Mada itu dipindahkan ke Blahbatuh oleh keturunan keluarga I Gusti Ngurah Jelantik.

Untuk sekian abad topeng-topeng itu disimpan di Pura Penataran Topeng Blahbatuh dan baru-baru ini dipindahklan ke Puri I Gusti Agung Jelantik untuk keamanan dan pemeliharaan benda-benda bertuah itu.

Menurut penjelasan dari I Gusti Gede Lanang, mantan punggawa distrik Blahbatuh dan pengamatan Tim Peneliti ASTI Denpasar pada tahun 1986, terdapat 21 buah topeng dan menurut ikonografi topeng-topeng itu, hanya 6 buah yang menggunakan canggem merupakan gaya topeng-topeng dari Jawa dan selebihnya topeng-topeng yang tidak menggunakan canggem kiranya dibuat di Bali.

Adapun tokoh-tokoh topeng yang didaftar oleh H.H. Noosten dalam artikelnya yang berjudul "De Historische Maskers van Poera Panataran Topeng te Blahbatoe (Bali)" atau "Topeng-topeng Bersejarah di Pura Panataran Topeng Blahbatuh (Bali)" antara lain Danghyang Kepakisan (seorang pendeta Siwa yang juga disebut pandita Paramarta, guru agama dari Patih Gajah Mada di Majapahit.

Ki Gusti Pinatih, patih Majapahit yang tertua yang mengambil Papak Mada sebagai anak angkatnya dan mengawinkannya dengan Ni Gusti Ayu Bebed.

Sira Patih Gajah Mada yang juga disebut Mpu Mada, patih Majapahit sejak pemerintahan Sri Kala Gemet sampai raja Hayam Wuruk.

Sumber: Bali Post 23 Januari 2011 dan Drs. I Made Bandem.