Biotin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
amel
Gambar
Gambar
Identifikasi
Nomor CAS [58-85-5]
PubChem 171548
SMILES O=C1N[C@@H]2[C@H](CCCCC
(=O)O)SC[C@@H]2N1
InChI 1/C10H16N2O3S/c13-
8(14)4-2-1-3-7-9-6(5-16-7)
11-10(15)12-9/h6-7,9H,1-5H2,
(H,13,14)(H2,11,12,15)/t6-
,7-,9-/m0/s1
Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25°C, 100 kPa)

Sangkalan dan referensi

Biotin (atau vitamin B7) ialah vitamin larut air yang juga dikenal dengan vitamin H.[1] Vitamin ini memiliki peranan yang sangat besar dalam reaksi biokimia di dalam tubuh, seperti dalam transfer karbon dioksida dan metabolisme karbohidrat dan lemak.[1] Tidak seperti kebanyakan vitamin lainnya, biotin merupakan salah satu jenis vitamin yang cukup stabil diberbagai kondisi lingkungan, seperti panas, paparan cahaya matahari, dan oksigen.[1]

Peranan dalam tubuh[sunting | sunting sumber]

Peran utama biotin di dalam tubuh adalah membantu metabolisme lemak, protein, dan karbohidrat yang akan membentuk molekul gula sederhana (glukosa), asam lemak, dan asam amino.[2] Reaksi ini dikenal dengan istilah katabolisme, yaitu pemecahan senyawa kompleks menjadi banyak molekul sederhana yang disertai dengan pelepasan energi. Molekul sederhana tersebut kemudian akan dipakai tubuh untuk mensintesis sel-sel baru. Biotin juga merupakan koenzim bagi piruvat karboksilase, salah satu jenis enzim yang berperan dalam metabolisme energi.[1]

Biotin banyak digunakan untuk membantu pemulihan tubuh terhadap penyakit defisiensi holokarboksilase sintetase dan defisiensi biotinidase.[1] Selain itu, biotin juga mamapu menurunkan kadar gula darah serta memperkuat struktur rambut dan kuku.[3] Terkait dengan peranannya dalam metabolisme energi, vitamin ini dapat meningkatkan efisiensi dan mengkatalis pemecahan lemak tubuh.[2]

Kuning telur merupakan sumber alami biotin.

Konsumsi[sunting | sunting sumber]

Defisiensi biotin adalah salah satu jenis penyakit yang jarang ditemui karena vitamin ini dapat ditemukan di hampir semua jenis makanan Sumber utama biotin antara lain berasal dari daging, kuning telur, dan pisang.[4] Selain itu, biotin juga dapat diperoleh dari tanaman kacang-kacangan, molase, ragi, dan gandum. Di dalam saluran pencernaan manusia, juga terdapat bakteri yang mampu memproduksi biotin, tetapi hanya dalam jumlah yang sedikit.[1]

Biotin hanya diperlukan dalam jumlah sedikit dan diserap tubuh di usus penyerapan melalui proses difusi. Berdasarkan RDA, biotin perlu di konsumsi sebanyak 30 hingga 100 mikrogram perhari. Kuantitas ini dapat ditingkatkan hingga 2500 mikrogram perhari untuk mengatasi masalah rambut dan kuku yang rusak, serta juga digunakan untuk menurunkan kadar gula darah.[3]

Defisiensi[sunting | sunting sumber]

Di dalam tubuh, biotin banyak berperan dalam metabolisme dan pertumbuhan tubuh, terutama dalam hal pembentukan asam lemak, antibodi, enzim pencernaan, dan niasin.[4] Bila kadarnya di dalam tubuh tidak mencukupi maka akan timbul berbagai gangguan fisiologis. Sebagai contoh, defisiensi biotin serngkali menimbulkan berbagai masalah kesehatan, seperti dermatitis, depresi, nusea, anemia, dan kerontokan rambut.[5] Sistem antibodi tubuh pun dapat terganggu. Hal ini menyebabkan tubuh mudah terinfeksi oleh bakteri dan jamur. Untuk mengatasi hal ini, penderita dapat diberi asupan kuning telur secara berkala karena memiliki kandungan biotin yang tinggi.[1]

Penggunaan dalam biokimia analitik[sunting | sunting sumber]

Dalam teknik hibridisasi, dUTP yang telah dilabel dengan biotin (diberi istilah biotynilated-dUTP) digunakan sebagai probe non-radioaktif untuk menggantikan pelabelan dengan isotop 32P. Biotynilated-dUTP disisipkan ke dalam suatu molekul DNA melalui nick translation sehingga DNA ini terlabel dengan biotin. Pendeteksian hibrida (hybrid) dilakukan dengan menggunakan kompleks peroksidase streptavidin-biotin-horseradish, yang akan memancarkan warna hijau jika terbentuk hibrida[[6]].

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g Vitamins & Health Supplements Guide. 2006. Diakses pada 13 Mei 2010.
  2. ^ a b Gaby SK, Bendich A, Singh VN, Machlin LJ. 1991. Vitamin Intake and Health: A Scientific Review. Marcel Dekker: AS.
  3. ^ a b Albarracin CA, Fuqua BC, Evans JL, Goldfine ID. 2008. Chromium picolinate and biotin combination improves glucose metabolism in treated, uncontrolled overweight to obese patients with type 2 diabetes. Diabetes Met Res Rev 24(1):41-51.
  4. ^ a b Lieberman S, Burning N. 2007. The Real Vitamin and Mineral Book: The Definitive Guide to Designing Your PErsonal Trainning Program. Ed ke-4. Penguin Group: AS.
  5. ^ Franco RS. 2009. The measurement and importance of red cell survival. Am J Hematol 84(2):109-114.
  6. ^ Oliver & Ward. 1985. A Dictionary of Genetic Engineering. Cambridge University Press. Cambridge.