Bileam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Bileam dan malaikat, lukisan Gustav Jaeger, 1836.

Bileam (bahasa Ibrani: בִּלְעָם, Standar Bilʻam Tiberias Bilʻām; bahasa Inggris: Balaam) bin Beor adalah seorang tokoh yang dicatat dalam kitab Taurat di Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen, maupun di Perjanjian Baru. Kisah hidupnya dicatat terutama dalam Kitab Bilangan pasal 22-24. Tempat tinggalnya di Petor yang di tepi sungai Efrat,[1] atau "Petor di Aram-Mesopotamia".[2] Ia sendiri menyebutkan tempat tinggalnya di Aram.[3] Semua rujukan kuno menganggapnya bukan orang Israel, seorang juru tenung,[4] dan anak Beor, tetapi tidak ada catatan lain mengenai Beor ini. Walaupun sejumlah sumber menilainya positif karena berkat yang diberikannya kepada bangsa Israel, setelah 3 kali disuruh mengutuki bangsa itu oleh raja Balak bin Zipor dari Moab, dia dianggap penyebab kemurtadan bangsa Israel dalam kasus Baal-Peor dan disebut sebagai "orang jahat".[5]

Bileam dan Balak[sunting | sunting sumber]

Kisah utama mengenai Bileam terjadi ketika bangsa Israel berkemah di dataran Moab, di daerah seberang (sebelah timur) sungai Yordan dekat Yerikho, di akhir 40 tahun perjalanan dari tanah Mesir menuju ke tanah Kanaan, sebelum Musa mati dan bangsa Israel melintasi sungai Yordan untuk masuk ke tanah Kanaan. Bangsa Israel baru saja mengalahkan 2 orang raja: Sihon, raja orang Amori, dan Og, raja Basan. Balak bin Zipor, raja Moab dan orang-orang Moab menjadi gentar (Bilangan 22:2), maka Balak mengirim utusan yang terdiri dari para tua-tua Moab dan para tua-tua Midian, dengan membawa di tangannya upah penenung, memanggil Bileam untuk datang mengutuki orang Israel (Bilangan 22:4-5). Tidak jelas dalam teks Masoret dan Septuaginta di negara mana Bileam tinggal, kecuali dikatakan "dari Aram",[3] meskipun Taurat Samaria, Vulgata, dan Peshitta Siria semuanya menyebutnya dari Amon.

Bileam dan malaikat. Nuremberg Chronicle (1493).

Mula-mula Bileam tidak mau pergi, karena dalam mimpi dilarang oleh Allah. Namun setelah orang-orang Moab datang lagi, Bileam diberi ijin untuk pergi asalkan hanya mengucapkan apa yang diperintahkan oleh Allah. Tanpa diminta lagi oleh orang Moab, Bileam berangkat, sehingga membuat Allah marah. Allah mengirimkan malaikat-Nya menghadang di jalan yang dilalui Bileam,[6] tetapi 3 kali keledai Bileam menghindarinya, meskipun Bileam yang tidak bisa melihat malaikat itu memukulnya. Pada kali ketiga, keledainya tiba-tiba dapat berbicara dan memprotes Bileam yang memukulnya tiga kali.[7] Barulah saat itu Bileam dapat melihat malaikat yang membawa pedang terhunus siap membunuhnya. Bileam diperingatkan untuk hanya mengatakan apa yang diperintahkan oleh Allah.

Kesempatan pertama[sunting | sunting sumber]

Balak membawa Bileam ke Kiryat Huzot.

  • Di sana Balak mengorbankan beberapa ekor lembu sapi dan kambing domba dan mengirimkan sebagian kepada Bileam dan kepada pemuka-pemuka yang bersama-sama dengan dia. Keesokan harinya Balak mengambil Bileam dan membawa dia mendaki bukit Baal. Dari situ dilihatnyalah bagian yang paling ujung dari bangsa Israel.[8]
  • Lalu berkatalah Bileam kepada Balak: "Dirikanlah bagiku di sini tujuh mezbah dan siapkanlah bagiku di sini tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan." Balak melakukan seperti yang dikatakan Bileam, maka Balak dan Bileam mempersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba jantan di atas setiap mezbah itu. Sesudah itu berkatalah Bileam kepada Balak: "Berdirilah di samping korban bakaranmu, tetapi aku ini hendak pergi; mungkin TUHAN akan datang menemui aku, dan perkataan apapun yang dinyatakan-Nya kepadaku, akan kuberitahukan kepadamu." Lalu pergilah ia ke atas sebuah bukit yang gundul.[9]
  • Ketika ia kembali, maka Balak masih berdiri di situ di samping korban bakarannya, bersama dengan semua pemuka Moab. Lalu Bileam mengucapkan sanjaknya, katanya: "Dari Aram aku disuruh datang oleh Balak, raja Moab, dari gunung-gunung sebelah timur: Datanglah, katanya, kutuklah bagiku Yakub, dan datanglah, kutuklah Israel. Bagaimanakah aku menyerapah yang tidak diserapah Allah? Bagaimanakah aku mengutuk yang tidak dikutuk TUHAN?..."[10]
  • Lalu berkatalah Balak kepada Bileam: "Apakah yang kaulakukan kepadaku ini? Untuk menyerapah musuhkulah aku menjemput engkau, tetapi sebaliknya engkau memberkati mereka." Tetapi ia menjawab: "Bukankah aku harus berawas-awas, supaya mengatakan apa yang ditaruh TUHAN ke dalam mulutku?" Lalu Balak berkata kepadanya: "Baiklah pergi bersama-sama dengan aku ke tempat lain, dan dari sana engkau dapat melihat bangsa itu; engkau akan melihat hanya bagiannya yang paling ujung, tetapi seluruhnya tidak akan kaulihat; serapahlah mereka dari situ bagiku."[11]

Kesempatan kedua[sunting | sunting sumber]

Kedua kalinya, Balak membawa Bileam ke Padang Pengintai, ke puncak gunung Pisga.

  • Balak mendirikan tujuh mezbah dan mempersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba jantan di atas setiap mezbah itu. Kemudian berkatalah Bileam kepada Balak: "Berdirilah di sini di samping korban bakaranmu, sedang aku hendak bertemu dengan TUHAN di situ." Lalu TUHAN menemui Bileam dan menaruh perkataan ke dalam mulutnya, dan berfirman: "Kembalilah kepada Balak dan katakanlah demikian." Ketika ia sampai kepadanya, Balak masih berdiri di samping korban bakarannya bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab. Berkatalah Balak kepadanya: "Apakah yang difirmankan TUHAN?" Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya: "Bangunlah, hai Balak, dan dengarlah; pasanglah telingamu mendengarkan aku, ya anak Zipor. Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? Ketahuilah, aku mendapat perintah untuk memberkati, dan apabila Dia memberkati, maka aku tidak dapat membalikkannya..."[12]
  • Lalu berkatalah Balak kepada Bileam: "Jika sekali-kali tidak mau engkau menyerapah mereka, janganlah sekali-kali memberkatinya." Tetapi Bileam menjawab Balak: "Bukankah telah kukatakan kepadamu: Segala yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kulakukan." Kemudian berkatalah Balak kepada Bileam: "Marilah aku akan membawa engkau ke tempat lain; mungkin benar di mata Allah bahwa engkau menyerapah mereka bagiku dari tempat itu."[13]

Kesempatan ketiga[sunting | sunting sumber]

Ketiga kalinya, Bileam dibawa ke puncak gunung Peor, yang menghadap Padang Belantara. Berkatalah Bileam kepada Balak: "Dirikanlah bagiku di sini tujuh mezbah dan siapkanlah di sini bagiku tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan." Lalu Balak melakukan seperti yang dikatakan Bileam, maka ia mempersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba jantan di atas setiap mezbah itu.[14]

  • Ketika dilihat Bileam, bahwa baik di mata TUHAN untuk memberkati Israel, ia tidak mencarikan pertanda lagi seperti yang sudah-sudah, tetapi ia menghadapkan mukanya ke arah padang gurun. Ketika Bileam memandang ke depan dan melihat orang Israel berkemah menurut suku mereka, maka Roh Allah menghinggapi dia. Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya: "Tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya; tutur kata orang yang mendengar firman Allah, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa sambil rebah, namun dengan mata tersingkap. Alangkah indahnya kemah-kemahmu, hai Yakub, dan tempat-tempat kediamanmu, hai Israel!..."[15]
  • Lalu bangkitlah amarah Balak terhadap Bileam dan dengan meremas-remas jarinya berkatalah ia kepada Bileam: "Untuk menyerapah musuhku aku memanggil engkau, tetapi sebaliknya sampai tiga kali engkau memberkati mereka. Oleh sebab itu, enyahlah engkau ke tempat kediamanmu; aku telah berkata kepadamu aku telah bermaksud memberi banyak upah kepadamu, tetapi TUHAN telah mencegah engkau memperolehnya." Tetapi berkatalah Bileam kepada Balak: "Bukankah telah kukatakan juga kepada utusan-utusan yang kaukirim kepadaku: Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup melanggar titah TUHAN dengan berbuat baik atau jahat atas kemauanku sendiri; apa yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kukatakan. Dan sekarang, aku ini sudah hendak pergi kepada bangsaku; marilah kuberitahukan kepadamu apa yang akan dilakukan bangsa itu kepada bangsamu di kemudian hari."[16]
  • Lalu bersiaplah Bileam dan pulang ke tempat kediamannya; dan Balakpun pergilah juga.[17]
Bileam dan keledainya, lukisan Rembrandt van Rijn, 1626.

Baal-Peor[sunting | sunting sumber]

  • Ternyata kisah Bileam dan Balak tidak berhenti di sana, melainkan ada keterlibatan dalam kasus Baal-Peor. Sejarawan Flavius Yosefus yang menulis pada abad pertama Masehi memberikan keterangan lebih panjang mengenai peristiwa ini. Menurutnya, Bileam meskipun tidak menyampaikan kutukan kepada bangsa Israel, menasehati Balak dan para pemimpin Midian cara untuk membuat Israel terkutuk, yaitu dengan membuat mereka berdosa kepada Allah. Bileam menyuruh mereka mengirim wanita-wanita paling cantik untuk membujuk orang-orang Israel untuk menyembah berhala. Siasat ini berhasil dan dalam waktu singkat banyak orang Israel tergoda dan disesatkan.[18].
  • Kitab Bilangan mencatat adanya hubungan antara Bileam (dan tersirat juga melibatkan Balak) dengan peristiwa Baal-Peor: "Bukankah perempuan-perempuan ini, atas nasihat Bileam, menjadi sebabnya orang Israel berubah setia terhadap TUHAN dalam hal Peor, sehingga tulah turun ke antara umat TUHAN."[19]

Kematian[sunting | sunting sumber]

Menurut Kitab Bilangan dan Kitab Yosua, Bileam dibunuh dengan pedang oleh orang Israel,[4] bersama-sama orang-orang Midian yang dibunuh karena kasus Baal-Peor.[20]

Tradisi Yahudi[sunting | sunting sumber]

Bileam disebut-sebut dalam sejumlah bagian Alkitab Ibrani (atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen).

  • Yosua bin Nun mengingatkan bangsa Israel dalam pidato terakhirnya kepada mereka: "Ketika itu Balak bin Zipor, raja Moab, bangkit berperang melawan orang Israel. Disuruhnya memanggil Bileam bin Beor untuk mengutuki kamu."[21]
  • Dalam Kitab Mikha, nabi Mikha menyampaikan Firman Tuhan yang mengingatkan bangsa Israel: "Umat-Ku, baiklah ingat apa yang dirancangkan oleh Balak, raja Moab, dan apa yang dijawab kepadanya oleh Bileam bin Beor dan apa yang telah terjadi dari Sitim sampai ke Gilgal, supaya engkau mengakui perbuatan-perbuatan keadilan dari TUHAN."[22]

Tradisi Kristen[sunting | sunting sumber]

Dalam Wahyu 2:12-14 Yesus Kristus menyebut nama Bileam:

"Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua:Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam. Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zina."

Nubuat[sunting | sunting sumber]

Semua nubuat yang diucapkan Bileam mengikuti bentuk syair (Ibrani):

  • Yang pertama, Bilangan 23:7-10, menubuatkan kejayaan unik Kerajaan Israel, dan jumlah umat yang tak terhingga.
  • Yang kedua, Bilangan 23:18-24, mensyukuri kebajikan moral Israel, kerajaannya, dan keberhasilan militernya.
  • Yang ketiga, Bilangan 24:3-9, mensyukuri kejayaan dan keberhasilan kerajaan Israel.
  • Yang keempat, Bilangan 24:14-19, menubuatkan kedatangan seorang raja yang akan menguasai Edom dan Moab
  • Yang kelima, Bilangan 24:20, mengenai kehancuran Amalek
  • Yang keenam, Bilangan 24:21-22, mengenai kehancuran orang Keni oleh Asyur
  • Yang ketujuh, Bilangan 24:23-24, mengenai "kapal-kapal Kittim" yang datang dari barat untuk menyerang Asyur dan Eber

Arkeologi[sunting | sunting sumber]

!Untuk detail lebih lanjut tentang topik ini, lihat Inskripsi Deir Alla.

Pada tahun 1967 arkeolog menemukan sebuah "inskripsi" di Deir Alla, Yordania yang menyebutkan nama "Bileam bin Beor" beberapa kali serta mencatat suatu nubuat yang ditulis dalam dialek bahasa Aram dan bahasa Kanaan selatan, yaitu dalam bentuk tulisan idiosinkratik.[23] Prasasti ini diperkirakan dibuat pada tahun 840–760 SM; ditulis dengan tinta berwarna merah dan hitam, nampaknya untuk menekankan isinya, pada fragmen tembok yang dicat: 119 potongan cat tembok dapat dikumpulkan. Menurut isi prasasti, Bileam terbangun sambil menangis dan mengatakan kepada bangsanya bahwa dewa-dewa menampakkan diri kepadanya di waktu malam, memberitahukan perihal satu dewi yang mengancam untuk menghancurkan tanah itu.[24] Dewi ini menguasai langit dan akan membuat bumi menjadi gelap gulita. Meindert Dykstra menganggap bahwa "Keengganan pakar Perjanjian Lama untuk memperhitungkan tulisan ini disebabkan kondisi penemuan yang rusak, kesulitan untuk merekonstruksi dan membacanya, dan banyak pertanyaan dari bentuk tulisan, bahasa, bentuk sastra serta isi keagamaannya."[25]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Bilangan 22:5
  2. ^ Ulangan 23:4
  3. ^ a b Bilangan 23:7
  4. ^ a b Yosua 13:22
  5. ^ 2 Petrus 2:15, Yudas 11, Wahyu 2:14
  6. ^ Bilangan 22:22
  7. ^ Bilangan 22:28
  8. ^ Bilangan 22:39-41
  9. ^ Bilangan 23:1-3
  10. ^ Bilangan 23:6-8
  11. ^ Bilangan 23:11-13
  12. ^ Bilangan 23:14-20
  13. ^ Bilangan 23:25-27
  14. ^ Bilangan 23:28-30
  15. ^ Bilangan 24:1-5
  16. ^ Bilangan 24:10-14
  17. ^ Bilangan 24:25
  18. ^ Flavius Josephus, Antiquities of the Jews, Book IV, Chapter VI, Paragraphs 6-12
  19. ^ Bilangan 31:16
  20. ^ Bilangan 31
  21. ^ Yosua 24:9
  22. ^ Mikha 6:5
  23. ^ Jo Ann Hackett, The Balaam Text from Deir ʿAllā. (Harvard Semitic Monographs 31) 1980, released 1984.
  24. ^ J. Hoftijzer and G. van der Kooij, Aramaic Texts from Deir 'Alla Documenta et Monumenta Orientis Antiqui 19 (Leiden) 1976.
  25. ^ Meindert Dijkstra, "Is Balaam Also among the Prophets?" Journal of Biblical Literature 114.1 (Spring 1995, pp. 43–64), p. 44.

Pustaka tambahan[sunting | sunting sumber]

  • Hoftijzer, Jacob. "The Prophet Balaam in a 6th Century Aramaic Inscription," Biblical Archaeologist, Volume 39, 1976 (2001 electronic edition)
  • McCarter, P. Kyle, "The Balaam Texts from Deir Allā: The First Combination," Bulletin of the American Schools of Oriental Research, No. 239. (Summer, 1980), pp. 49–60.
  • Olrik, Axel (Kirsten Wolf and Jody Jensen, trs.) Principles for Oral Narrative Research. Indianapolis: Indiana University Press, 1921 (1992 tr.).

Pranala luar[sunting | sunting sumber]