Batsyeba

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Batsyeba (bahasa Ibrani: בת שבע, Bath Shebha, "putri dari sumpah") atau Batsyua adalah istri Uria orang Het yang merupakan salah seorang pahlawan Daud. Kemudian ia diperistri oleh raja Daud dan melahirkan Salomo, yang menggantikan Daud sebagai raja Kerajaan Israel. Nama ayahnya adalah Eliam (atau Amiel)[1] anak Ahitofel orang Gilo.[2] Eliam, ayahnya dan Uria, suami pertamnya, termasuk ke dalam 37 pahlawan Daud yang paling terkemuka.[3] Kakeknya, Ahitofel, adalah seorang bijak. Nasehat yang diberikan Ahitofel adalah sama dengan petunjuk yang dimintakan dari pada Allah; demikianlah dinilai setiap nasehat Ahitofel, baik oleh Daud maupun oleh Absalom.[4] Batsyeba dicatat dalam silsilah Yesus Kristus di dalam Injil Matius sebagai "istri Uria", tetapi namanya sendiri tidak dicantumkan.[5]

Pertemuan dengan Daud[sunting | sunting sumber]

  • Pada suatu pergantian tahun, Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel untuk menyerang bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem. Suatu petang, ketika Daud berjalan-jalan di atas sotoh istananya, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya. Daud menanyakan identitas perempuan itu ("Batsyeba binti Eliam"), kemudian menyuruh orang memanggilnya datang. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Selesai membersihkan diri dari kenajisannya, pulanglah perempuan itu ke rumahnya. Lalu mengandunglah perempuan itu dan disuruhnya orang memberitahukan kepada Daud, demikian: "Aku mengandung." [6]
  • Daud menyuruh Yoab, panglimanya, mengirim Uria kepadanya. Setelah menanyai kabar perang, Daud menyuruh Uria pulang ke rumah. Ketika Uria keluar dari istana, maka orang menyusul dia dengan membawa hadiah raja. Tetapi Uria memilih tidur di depan pintu istana bersama-sama hamba yang lain dan tidak pulang ke rumahnya. Ketika Daud diberitahu, pagi harinya ia menanyai Uria mengapa tidak pulang. Uria berkata kepada Daud: "Tabut serta orang Israel dan orang Yehuda diam dalam pondok, juga tuanku Yoab dan hamba-hamba tuanku sendiri berkemah di padang; masakan aku pulang ke rumahku untuk makan minum dan tidur dengan isteriku? Demi hidupmu dan demi nyawamu, aku takkan melakukan hal itu!"[7]
  • Daud menyuruh Uria tinggal semalam lagi di istananya dan membuatnya mabuk. Tapi malam itu Uria tetap tinggal di istana dan tidak pulang ke rumahnya. Maka esok harinya, Daud mengirim Uria kembali ke panglima Yoab dengan membawa surat dari Daud. Isi surat itu: "Tempatkanlah Uria di barisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri dari padanya, supaya ia terbunuh mati."[8]
  • Pada waktu Yoab mengepung kota Raba, ia menyuruh Uria pergi ke tempat yang diketahuinya ada lawan yang gagah perkasa, maka gugurlah beberapa orang dari tentara, dari anak buah Daud; juga Uria, orang Het itu, mati. Kemudian Yoab menyuruh orang memberitahukan kepada Daud jalannya pertempuran itu, sambil mengatakan: "Juga hambamu Uria, orang Het itu, sudah mati."[9]
  • Ketika didengar isteri Uria, bahwa Uria, suaminya, sudah mati, maka merataplah ia karena kematian suaminya itu. Setelah lewat waktu berkabung, maka Daud menyuruh membawa perempuan itu ke rumahnya. Perempuan itu menjadi isterinya dan melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN.[10]

Teguran Nabi Natan[sunting | sunting sumber]

  • TUHAN mengutus nabi Natan kepada Daud dan berkata kepadanya: "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu."[11]
  • Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati. Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan."[12]
  • Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul. Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu. Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon. Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu."[13]

Nubuat hukuman atas Daud[sunting | sunting sumber]

  • Natan berkata: "Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari. Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan...Engkau tidak akan mati. Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati."[14]

Pertobatan Daud[sunting | sunting sumber]

  • Mengingat peristiwa itu, Daud menggubah Mazmur 51 sebagai mazmur penyesalan dan pertobatan, yang diberinya catatan: "ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba."
  • Daud mengaku di hadapan nabi Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." [15]
  • Selama anak yang dilahirkan Batsyeba dari hasil perbuatan jahat itu sakit, Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah, juga ia tidak makan bersama-sama dengan para tua-tua di rumahnya. Setelah 7 hari sakit, anak itu mati, barulah Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah.[16]

Hukuman Daud[sunting | sunting sumber]

  • Anak yang dilahirkan dari hubungan gelap dengan Batsyeba itu menjadi sakit dan mati setelah 7 hari, sesuai nubuat nabi Natan.[17]
  • Absalom, anak ke-3 Daud, memberontak dan mengusir Daud dari istananya. Atas nasehat Ahitofel, orang Gilo, kakek dari Batsyeba, Absalom menghampiri gundik-gundik Daud, yang ditinggal menunggui istana, di atas sotoh istana di depan mata seluruh Israel.[18] Ini menggenapi nubuat hukuman nabi Natan yang lain.

Anak-anak yang lain[sunting | sunting sumber]

  • Alkitab mencatat bahwa sebelum melahirkan Salomo, Batsyeba melahirkan beberapa putra, Simea, Sobab, Natan. Ditambah Salomo, Batsyeba melahirkan 4 putra untuk Daud. Tidak jelas apakah ini termasuk putra yang sakit dan meninggal sebagai hukuman atas hubungan gelap mereka.[19] Natan, putra Daud, dicatat dalam silsilah Yesus Kristus di Injil Lukas.[20]
  • Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia, dan perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. TUHAN mengasihi anak ini dan dengan perantaraan nabi Natan Ia menyuruh menamakan anak itu Yedija, oleh karena TUHAN.[21]

Pergantian tahta[sunting | sunting sumber]

  • Ketika Daud telah tua dan hampir mati, Adonia anaknya dari Hagit, salah satu istrinya, mengangkat diri menjadi raja. Nabi Natan memberitahukan Batsyeba akan hal ini, supaya ia segera menghadap Daud dan menanyakan apakah Daud masih ingat sumpahnya, bahwa Salomo akan menjadi raja sesudah Daud. Nabi Natan ikut menghadap untuk mendukung informasi ini. Mendengar itu Daud menyuruh imam Zadok, nabi Natan dan Benaya bin Yoyada membawa Salomo ke Gihon dengan naik bagal betina kendaraan Daud sendiri. Imam Zadok dan nabi Natan disuruh mengurapi Salomo di sana menjadi raja atas Israel; kemudian meniup sangkakala dan berseru: "Hidup raja Salomo!" Sesudah itu mengiring Salomo ke istana untuk duduk di atas takhta Daud dan menjadi raja atas Israel dan Yehuda.[22]
  • Lalu Batsyeba berlutut dengan mukanya sampai ke tanah; ia sujud menyembah kepada raja dan berkata: "Hidup tuanku raja Daud untuk selama-lamanya!"[23]
  • Salomo berjanji tidak akan membunuh Adonia karena kesalahan mengangkat diri menjadi raja.[24]
  • Setelah Daud mati, pada suatu hari Adonia datang menghadap Batsyeba, ibu Salomo, lalu perempuan itu berkata: "Apakah engkau datang dengan maksud damai?" Jawabnya: "Ya, damai!" Adonia meminta Batsyeba agar berbicara kepada Salomo, supaya Abisag, gadis Sunem yang pernah melayani Daud ketika hampir mati, diberikan menjadi isterinya. Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya. Berkatalah perempuan itu: "Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku." Jawab raja kepadanya: "Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu." Maka disampaikanlah oleh Batsyeba permintaan Adonia kepada Salomo. Namun, Salomo yang bijaksana mengerti maksud jahat Adonia di balik permintaan itu, sehingga ia menggunakan kesempatan ini untuk menghukum mati Adonia.[25]

Referensi[sunting | sunting sumber]