Barong Tongkok, Kutai Barat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Barong Tongkok
—  Kecamatan  —
Negara  Indonesia
Provinsi Kalimantan Timur
Kabupaten Kutai Barat
Pemerintahan
 • Camat Theresia, S.Pd, M.Si
Luas 554,64 km²
Jumlah penduduk 24.026 jiwa (2010)
Kepadatan 43 jiwa/km²
Desa/kelurahan 19/2

Barong Tongkok adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kecamatan Barong Tongkok merupakan kecamatan yang memiliki populasi penduduk terbesar pertama di Kabupaten Kutai Barat

Kecamatan Barong Tongkok merupakan bekas wilayah Kewadanaan Sendawar. Sedangkan Kewedanaan Sendawar sendiri merupakan bekas wilayah Kerajaan Sendawar, dimana Sendawar sendiri merupakan bagian sejarah dari Kerajaan Kudukng (istilah Dayak) - Kudungga (aksen dalam Bahasa Indonesia) atau lebih dikenal dengan nama Kutai Mulawarman yang terkenal itu pada abad IV. Kata "Kutai" ini sendiri merupakan istilah popular saja yang kemudian lebih di'popular'kan lagi oleh para ilmuwan dan penulis. Istilah Kutai sebenarnya tidak menunjukkan identitas etnis. Orang Dayak sendiri menyebut Orang Dayak yang telah memeluk Agama Islam dengan sebutan Haloq yang kemudian sekarang dikenal dengan Suku Kutai. Jadi sebenarnya istilah Kutai menunjuk pada wilayah/kediaman/kekuasaan Suku Dayak itu sendiri terutama dari Keturunan Aji Tujur Jejangkat dan Mook Manor Bulatn. Dewasa ini Barong Tongkok merupakan bagian dari Kota Sendawar sebagai ibukota kabupaten Kutai Barat. Kota Sendawar secara administratif terdiri dari 3 kota kecamatan yaitu Barong Tongkok sendiri, Melak dan Sekolaq Darat. Hampir semua kantor instansi pemerintah kabupaten, terutama kantor Bupati dan DPRD Kutai Barat, terletak di kecamatan ini, kecuali Dinas Kehutanan berada di Kecamatan Melak. Sebagai ibukota kabupaten tentu saja Barong Tongkok berkembang cepat sebagaimana kota kabupaten lainnya.


Camat Perempuan Pertama[sunting | sunting sumber]

Camat Theresia, S.Pd, M.Si. merupakan camat ke -13 dan merupakan camat perempuan pertama dalam sejarah Kecamatan Barong Tongkok bahkan dalam sejarah pemerintahan Kabupaten Kutai Barat karena bersamaan 2 camat perempuan dilantik pada Juni 2006.

Menjadi istimewa lagi bahwa sejak Camat Theresia, S.Pd., M.Si, Kantor Kecamatan Barong Tongkok menjadi satu-satunya instansi Pemkab. Kutai Barat yang menerapkan kebijakan Bebas Asap Rokok, bersamaan pula dengan selalu diadakannya Apel pagi dan sore hari.

Bagi masyarakat tidak terkecuali, selama berurusan di Kantor Kecamatan Barong Tongkok tidak diperkenankan merokok, kecuali pada area yang sudah ditentukan untuk merokok. Meskipun terkesan melawan arus dan tidak memilik dasar hukum, kebijakan ini didasarkan keinginan Camat Theresia, S.Pd., M.Si agar masyarakat sadar akan kesehatan mereka dan etika, karena tidak semua orang tahan terhadap asap dan bau rokok, juga akan bahayanya bagi perokok pasif. Kebijakan ini definitif dilaksanakan sekitar Februari 2007.

Sedangkan dalam rangka pembinaan kepegawaian Kantor Kecamatan Barong Tongkok, sejak diterimanya perintah dari Pemkab. Kutai Barat untuk melaksanakan apel dan doa pagi langsung dilaksanakan, bahkan dilaksanakan pula apel sore sebelum ditutup pelayanan kepada masyarakat. Kebijakan apel sore merupakan inisiatif Kantor Camat sendiri, agar supaya dapat pulang secara bersama sesuai jam kerja dan berdoa bersyukur.

Tokoh Barong Tongkok[sunting | sunting sumber]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Zaman Penjajahan[sunting | sunting sumber]

Zaman Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Semula Kecamatan Barong Tongkok berada di dalam wilayah Kewedanaan Sendawar sekaligus ibukota kewedanaan. Kewedanaan Sendawar merupakan bagian dari Kabupaten Kutai (ataupun Daerah Istimewa Kutai). Kewedanaan Sendawar berdiri pada tahun 1952. Kewedanaan berlangsung hingga tahun 1977. Terdapat 9 orang yang pernah menjadi Wedana di Sendawar. Salahsatunya adalah ayah dari DR. Awang Farouk Ishak (Gubernur Kalimantan Timur) yaitu Awang Ishak. Kewedanaan Sendawar berubah menjadi Kantor Penghubung Bupati Wilayah Mahakam Hulu yang berkedudukan di Long Iram. Selanjut Kantor Penghubung Bupati Mahakam Hulu berubah menjadi Kantor Pembantu Bupati Wilayah Mahakam Hulu yang berkedudukan di Melak, yang selanjutnya berakhir dengan berdirinya Kabupaten Kutai Barat. Sedangkan kecamatan Barong Tongkok sendiri berdiri pada tahun 1963.

Era Otonomi Daerah[sunting | sunting sumber]

Pada era otonomi daerah, yaitu dengan terbentuknya Kabupaten Kutai Barat, Kecamatan Barong Tongkok merupakan bagian Kabupaten Kutai Barat. Menurut kajian tim ahli mengenai pembentukan Kabupaten Kutai Barat, menunjuk bahwa Barong Tongkok secara geografis merupakan tempat/lokasi yang ideal bagi ibukota Kabupaten Kutai Barat.

Oleh tokoh yang turut serta dan menjadi salah satu tokoh kunci pemrakasa pembentukan Kabupaten Kutai Barat adalah putra Barong Tongkok. Tercatat selain Camat Barong Tongkok pada saat itu (Drs. Murni Neri -- sekarang Asisten I Sekkab Kutai Barat dan Drs. Abed Nego -- Kepala Dinas Capilduk dan KB Kutai Barat) dan beberapa tokoh lainnya seperti Yohanes Kenton yang pada saat itu adalah Petinggi Barong Tongkok -- sebutan Petinggi adalah sebutan Kepala Desa di Kutai Barat. Selain berjuang secara moril Yohanes Kenton, telah menghibahkan beberapa bidang tanah milik pribadinya untuk tempat/lokasi kantor/instansi pemerintah, termasuk instansi pemerintah vertikal.

Camat pertama dalam masa otonomi daerah adalah Drs. Abed Nego, selanjutnya F. Syaidirahman, S. Sos., MM -- sekarang Kabag Tata Pemerintahan Setkab Kutai Barat, selanjut hingga sekarang dipimpin Camat perempuan.

Pada masa ini Administrasi Pemerintahan telah mengalami perubahan, baik pemekaran kecamatan, maupun pemekaran kampung. Kecamatan Linggang Bigung merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Barong Tongkok pada tahun 2001. Selanjutnya selain terjadi pengurangan jumlah kampung akibat pemekaran, terdapat 4 kampung baru akibat pemekaran Kampung Barong Tongkok, Kampung Asa, Gemuhan Asa dan Ngenyan Asa. Hingga sekarang Kecamatan Barong Tongkok terdiri dari 21 kampung.

Pembagian Administrasi[sunting | sunting sumber]

Setelah pembentukan Kabupaten Kutai Barat, Kecamatan Barong Tongkok juga dimekarkan yang melahirkan Kecamatan Linggang Bigung, sehingga dengan sendirinya terjadi pengurangan jumlah kampung (di Kutai Barat tidak mengenal istilah desa). Selain pengurangan tersebut pada saat yang sama dibentuk 4 kampung baru sebagai hasil pemekaran kampung. Dewasa ini kampung-kampung yang menjadi wilayah kecamatan ini sebanyak 21 kampung, yaitu :

  1. Barong Tongkok (menjadi kelurahan)
  2. Simpang Raya (menjadi kelurahan)
  3. Mencimai
  4. Rejo Basuki
  5. Engkuni Pasek
  6. Pepas Eheng
  7. Sumber Sari
  8. Juhan Asa
  9. Asa
  10. Muara Asa
  11. Geleo Asa
  12. Geleo Baru
  13. Juaq Asa
  14. Pepas Asa
  15. Ombau Asa
  16. Ongko Asa
  17. Gemuhan Asa
  18. Ngenyan Asa
  19. Sendawar
  20. Belempung Ulaq
  21. Balok Asa

Rencana ke depan Barong Tongkok akan dimekarkan lagi dengan dibentuk 2 kecamatan baru serta beberapa Kampung ditingkatkan statusnya menjadi Kelurahan. Pemekaran tersebut menjadi Kecamatan Asa Jaya meliputi Asa (ibukota Kecamatan), Juhan Asa, Balok Asa, Pepas Asa, Ongko Asa, Muara Asa, Geleo Asa dan Geleo Baru sedangkan Kecamatan Sendawar meliputi Sendawar (ibukota Kecamatan), Gemuhan Asa, Ngenyan Asa, dan Belempung Ulaq. Kecamatan Barong Tongkok sendiri akan meliputi 4 kelurahan dan 3 kampung yaitu Kelurahan Barong Tongkok, Kelurahan Simpang Raya, Kelurahan Sumber Sari, Kelurahan Rejo Basuki, Kampung Ombau Asa dan Kampung Mencimai serta Kampung Laai. Kampung Laai merupakan salah satu dusun/RT dari Kampung Barong Tongkok yang akan ditingkatkan statusnya menjadi kampung/desa, dulunya merupakan cikal bakal Kampung Barong Tongkok sekarang. Sedangkan Pepas Eheng dan Engkuni Pasek akan bergabung dengan Kecamatan Idatn Raya (rencana pemekaran Kecamatan Damai).

Sosial dan Budaya[sunting | sunting sumber]

Dari segi kuantitas, jumlah penduduk Kecamatan Barong Tongkok mengalami penurunan karena adanya pemekaran kecamatan. Namun demikian perkembangan penduduk akhir-akhir cukup pesat, hal ini seiring dengan posisinya sebagai bagian ibukota kabupaten. Pertumbuhan ini terutama di Kampung Barong Tongkok itu sendiri, selain pertambahan luas wilayah perkotaannya. Kecamatan Barong Tongkok merupakan kecamatan yang terbanyak jumlah penduduknya dibandingkan dengan 20 kecamatan lainnya di Kutai Barat. Etnis yang mendominasi mendiami kecamatan ini adalah penduduk asli Suku Dayak mencapai 95 %, terutama [[Tonyoy-Benuaq]]. Istilah Tonyoy merupakan nama asli dari Dayak Tunjung yang kita kenal sekarang. Menurut tradisi lisan Tonyoy-Benuaq, mereka merupakan Keturunan Aji Tulur Jejangkat dan Mook Manor Bulatn. Keduanya merupakan nenek moyang dari Suku-suku Dayak termasuk Suku Kutai yang merupakan keturunan dari Puncan Karna salah satu anak dari Aji Tulur Jejangkat dan Mook Manor Bulatn, yang kemudian lebih terkenal dengan Kerajaan (Kutai) Mulawarman. Etnis Dayak lainnya adalah Dayak Bahau (keturunan Jeliban Benaq), Kenyah, Aoheng, Kayan, Penihing, Punan dll. Sedangkan etnis pendatang yang berada di kecamatan ini adalah Suku Jawa (warga transmigrasi tahun 1964), Bugis, Menado dan lain-lain. Warga Dayak umumnya menganut agama Kristiani meliputi Protestan dan Roma Katolik, sedangkan warga Jawa dan Bugis umumnya beragama Islam, sebagian lagi warga Dayak menganut kepercayaan nenek moyang - Adat Lama (=Kaharingan?) Meskipun Kecamatan Barong Tongkok dikatagorikan sebagai kecamatan wilayah perkotaan, namun kehidupan masyarakat adat Dayak masih sangat kental, terutama warga Tonyoy-Benuaq. Tiap tahun pasti diadakan ritual-ritual adat, baik yang sifatnya upacara adat kehidupan maupun upacara adat kematian. Hal yang sesuai dengan moto kota yaitu Sendawar Kota Beradat. Beradat akronim dari Bersih, Rapi, Asri, Damai, Aman dan Tentram.

Potensi Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Meskipun merupakan kecamatan kota, kecamatan masih mempunyai hutan cukup luas. Sebagian besar merupakan hutan tanaman yaitu karet dan kemiri, sisanya merupakan lahan pertanian lainnya dan hutan primer. Ekonomi rakyat sebagian besar berasal dari perdagangan karet dan kemiri, tidak heran kecamatan Barong Tongkok merupakan sentra karet rakyat di Kutai Barat. Di kecamatan ini terdapat pabrik pengolahan karet tepatnya di Kampung Rejo Basuki. Rencana jangka panjang bahwa pabrik ini akan dikembangkan menjadi pabrik yang dapat mengolah karet menjadi berbagai bahan jadi seperti ban. Mengingat potensi kecamatan sekitarnya yang memiliki potensi kehutanan, tambang, pertanian dan pariwisata Kota Sendawar c.q. Barong Tongkok dapat dikembang menjadi kota perdagangan dan industri. Seiring dengan perkembangannya menuju sebuah kota, kecamatan ini masih memerlukan sarana akomodasi yang memadai. Jumlah hotel ataupun penginapan masih kurang memadai, jadi masih terbuka bagi investasi sarana akomodasi. Perkembangan lebih dapat ditingkatkan mengingat kota ini merupakan pintu gerbang Kutai Barat dari udara, dimana terdapat sebuah bandara yaitu Bandara Melalan- terjadi kekeliruan selama ini menyatakan bahwa Bandara Melalan adalah wilayah Kecamatan Melak, tetapi yang sebenarnya adalah wilayah Kecamatan Barong Tongkok, dewasa ini merupakan wilayah Kampung Gemuhan Asa. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kabupaten Kutai Barat sudah ada investor yang mendirikan jasa layanan Internet. dengan terbukanya akses Internet diharapkan mampu menarik minat investor luar negeri. dengan akses Internet juga diharapkan menjadi media promosi daerah dalam skala luas. produk yang awalnya tidak diketahui oleh pembeli bisa diketahui dari Internet.

Untuk menunjang geliat ekonomi terutama sektor pariwisata, terdapat banyak hotel/penginapan diantaranya Hotel Putri Tunjung, Hotel Musdayani, Hotel Ammar serta Penginapan Angrek yang terletak di pusat kota semua berada di jalur protokol. Terdapat banyak rumah makan bahkan restoran seperti Restoran Minang.

Perindustrian[sunting | sunting sumber]

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Perkebunan[sunting | sunting sumber]

Perkebunan Kelapa Sawit[sunting | sunting sumber]

Tahun 2007 Sudah ada 1 Investor kelapa sawit yaitu PT. PERKEBUNAN INTI SENDAWAR dengan luas Ijin Lokasi 16.430 Ha. Dan Barong Tongkok adalah salah satu kecamatan yang berada di dalamnya, dengan beberapa kampung yaitu: Mencimai, Engkuni Pasek dan Pepas Eheng. Saat ini PT.Perkebunan Inti Sendawar sudah mulai melakukan kegiatan survey lapangan, sosialisasi umum, sosialisasi ke kampung-kampung yang berada di lokasi dan yang lebih menggembirakan telah melakukan Studi banding membawa perwakilan kampung-kampung Ke PT Sahjang Heulang yang berada di Kalimantan Selatan.

Peternakan[sunting | sunting sumber]

Perikanan Air Tawar[sunting | sunting sumber]

Potensi Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Kecamatan ini memiliki pariwisata alam dan budaya. Wisata budaya terutama kehidupan masyarakat Dayak Tonyoy-Benuaq terutama kehidupan rumah panjang (lamin)nya. Lamin yang sering dikunjungi adalah Lamin Eheng yang terletak di Kampung Pepas Eheng (7 km dari Barong Tongkok). Event wisata yang sering diadakan (hampir tiap bulan) adalah Adat Kematian Kwangkay, ritual penyembuhan (Belian) serta upacara adat lainnya. Wisata lainnya terdiri dari:

  1. Situs Kerajaan Sentawar di Kampung Sendawar
  2. Panorama Mahakam di Gemuhan Asa dan Sendawar
  3. Air Terjun Menarung di Kampung Ombau Asa
  4. Air Terjun Geronggong di Engkuni Pasek
  5. Air Terjun Ongko Asa
  6. Agrowisata hampir di tiap Kampung.
  7. Kerajinan Rotan di Kampung Pepas Eheng dan Engkuni Pasek
  8. Museum Kayu Papatn Puti di Kampung Mencimai
  9. Lamin Dewan Adat Kubar di Barong Tongkok
  10. Lamin Geleo di Geleo Baru.
  11. Taman Adat Sendawar (TAS) terletak di Barong Tongkok. Merupakan miniatur kehidupan Suku Dayak Kutai Barat, konsepnya mirip dengan TMII Jakarta. Dalam kawasan ini terdapat rumah asli (lamin) Suku Dayak Benuaq, Tonyoy - Tunjung, Bahau, Kenyah, Aoheng dan Melayu (d/h Kutai). -- sedang dibangun Nopember 2007.