Baptisan Anak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Praktik Baptisan Anak di Gereja Katolik

Baptisan Anak (Baptisan Bayi atau Paedobaptism) adalah baptisan yang diberikan pada bayi atau anak kecil yang lahir dalam keluarga Kristen.[1] Dalam Perjanjian Baru dapat menemukan beberapa bagian yang menyiratkan bahwa sudah ada baptisan yang dilayankan pada anak.[1] Misalnya, dalam Kisah Para Rasul 16:15 dan 18:8 dikatakan bahwa “seisi rumah dibaptis”.[2] Ini kemudian menghasilkan dugaan anak-anak juga ikut dibaptis.[2] Pada abad ke-13, Siprianus dan Origenes mendukung baptisan bayi sementara Tertulianus menolaknya.[1]

Baptisan bayi semakin tersebar luas pada abad ke-5.[1] Memasuki masa reformasi, banyak kelompok yang menentang praktik ini dengan alasan praktik pembaptisan bayi tidak sesuai dengan tuntutan bahwa seseorang harus memilih sendiri secara sadar untuk menerima Kristus dan memberi diri dibaptis.[1] Kelompok yang menolak praktik ini adalah golongan Anabaptis dan sejumlah gereja beraliran Pentakosta.[2]

Akan tetapi di sisi lain, ada pertimbangan bahwa semua orang dipanggil menerima keselamatan sehingga gereja kemudian tetap melaksanakan baptisan terhadap anak-anak dengan syarat salah satu orang tua menyetujui dan bersedia mendidik anaknya secara Kristen.[1] Setiap kali hendak melaksanakan baptisan anak, harus ada saksi yang bersedia mengawasi pendidikan agama anak tersebut.[2] Gereja-gereja di Indonesia banyak yang memelihara tradisi ini dan saksi-saksi baptisan disebut bapa dan ibu serani.[2] Dalam lingkungan Gereja Timur, selain baptisan bayi, diberikan juga konfirmasi dan ekaristi. [2] Di Gereja Katolik, bayi atau anak-anak kecil yang dibaptis hanya menerima baptisan saja.[1] Gereja Katolik menundanya hingga sang anak dianggap sudah punya kesadaran sendiri, biasanya sekitar usia tujuh tahun.[2]

Pendapat Calvin[sunting | sunting sumber]

"Argument yang menentang paedobaptism beralasan bahwa hal itu tidak didasari ajaran Allah, melainkan dilakukan hanya karena anggapan dan keingintahuan manusia, dan yang dengan tergesa-gesa dipraktekkan; padahal suatu sakramen tidak mempunyai asas jika tidak didasarkan pada Firman Allah. Namun, bagaimana bila hal itu setelah dipelajari cermat, ternyata merupakan fitnahan palsu dan salah terhadap aturan kudus dari Tuhan? Pertama-tama, mari kita mempelajari asal mulanya. Kalau berdasarkan pada ketergesaan manusiawi, hendaklah kita tinggalkan, dan hanya menerapkan baptisan seluruhnya atas kehendak Tuhan; tetapi kalau itu ternyata melanggar otoritas-Nya, hendaklah kita berhati-hati untuk meninggalkan pengajaran kudus Allah dan dengan demikian menghina Pengarangnya." (Inst. 4, 16, 1)[3]

Alasan-alasan yang dipakai Calvin:

  • Baptisan sebagai doktrin yang sudah dikenal disepakati oleh orang-orang saleh sebagai tanda yang bukan hanya dari upacara lahiriah, melainkan terutama mengacu kepada janji dan misteri rohani.(Inst. 4, 16, 2)[3]
  • Baptisan merupakan suatu tanda perjanjian untuk orang percaya, seperti sunat yang dilakukan untuk keturunan Abraham[4] merupakan tanda perjanjian bagi orang-orang pilihan Allah pada zaman Perjanjian Lama.(Inst. 4, 16, 3-4)[3] Dengan prinsip ini, telah dilakukan baptisan kepada seluruh anggota keluarga oleh para rasul, sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 16:15,32.[5]
  • Tuhan Yesus menerima dan memberkati anak-anak kecil dan mengatakan demikianlah halnya Kerajaan Sorga (Matius 19:13). Anak-anak ini bukan saja yang bisa berjalan, tetapi dalam Injil ditulis "brethe kai paidia", istilah untuk bayi yang masih menyusui.(Inst. 4, 16, 7)[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g {id} Gerald O'Collins, Edward Farrugia. 1996. Kamus Teologi. Yogyakarta:Kanisius. Hlm. 40.
  2. ^ a b c d e f g {id} F.D Wellem. 2004. Kamus Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 38,39.
  3. ^ a b c d John Calvin. Institutes of the Christian Religion. A New Translation, by Henry Beveridge, Esq. Printed at London by Arnold Hatfield, for Bonham Norton. 1599
  4. ^ Kejadian 17:10
  5. ^ Kis 16:15, 32

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]

1.Pendukung

2.Penentang

Brunson, Hal. 2007 The Rickety Bridge and the Broken Mirror: Two Parables of Paedobaptism and One Parable of the Death of Jesus Christ. ISBN 0-595-43816-4