Bangsa Kass

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kekaisaran Babilonia di bawah kekuasaan bangsa Kass sekitar abad ke-13 SM

Bangsa Kass adalah bangsa di Timur Dekat Kuno yang menguasai Babilonia setelah runtuhnya Kekaisaran Babilonia Lama sekitar tahun 1531 SM dan hingga sekitar tahun 1155 SM (kronologi pendek).

Bangsa Kass merebut kendali atas Babilonia setelah bangsa Het menjarah kota itu pada tahun 1585 SM (atau 1521 SM menurut kronologi pendek). Bangsa Kass lalu mendirikan dinasti yang berbasis di Dur-Kurigalzu.[1][2] Para penguasa Kass merupakan anggota dari arsitokrasi militer yang kecil namun mereka adalah penguasa yang efisien dan tidak populer di kalangan penduduk lokal.[3] Pemerintahan mereka yang berlangsung selama 500 tahun meletakkan dasar yang penting bagi perkembangan kebudayaan Babilonia berikutnya.[2] Kuda, yang disembah oleh bangsa Kass, pertama kali digunakan di Babilonia pada masa ini.[3] Bahasa Kass didiuga terkait dengan bahasa Hurria,[4] meskipun bukti untuk keterkaitan genetiknya amat sedikit karena kurangnya naskah yang masih bertahan pada masa kini. Akan tetapi, beberapa pemimpin Kass memiliki nama-nama India-Eropa, dan mereka kemungkinan memiliki elite India-Eropa, mirip dengan bangsa Mitanni.[5][6]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Tempat asal bangsa Kass tidak diketahui secara pasti, namun tampaknya lokasinya adalah di Lorestan di tempat yang kini menjadi Iran modern, meskipun, seperti halnya bangsa Elam, bangsa Guti, dan bangsa Mannai, mereka secara lingustik tak terkait dengan bangsa India-Eropa dari masa selanjutnya yang muncul dan mendominasi daerah itu seribu tahun kemudian.[7][8] Mereka pertama kali muncul dalam tawarikh sejarah pada abad ke-18 SM ketika mereka menyerang Babilonia pada tahun kesembilan masa pemerintahan Samsu-iluna (berkuasa sek. 1749–1712 SM), putra Hammurabi. Samsu-iluna berhasil menghalau mereka, begitu pun putranya Abi-Eshuh. Akan tetapi selanjutnya bangsa Kass berhasil merebut kendali atas Babilonia sekitar tahun 1570 SM, kira-kira 25 tahun setelah jatuhnya Babilon oleh bangsa Het sekitar tahun 1595 SM. Bangsa Kass kemudian melakukan penaklukan di bagian selatan Mesopotamia, kurang lebih berkaitan dengan Sumer kuno dan dikenal sebagai Dinasti Negeri Laut sekitar tahun 1460 SM. Bangsa Het mengambil patung dewa Marduk, namun para penguasa Kass berhasil merebut kembali benda itu dan mengembalikannya ke Babilon. Oleh bangsa Kass, Marduk diidentikkan dengan dewa Kass, Shuqamuna.

Tidak diketahui bagaimana bangsa Kass bangkit berkuasa, akibat sedikitnya dokumentasi dari periode yang terkenal sebagai "Zaman Kegelapan" ini, di mana banyak menyebar dislokasi. Tidak ada prasasti atau dokumen dalam bahasa Kass yang bertahan pada masa kini. Ketiadaan tersebut mungkin tak sepenuhnya kebetulan dan mengindikasikan adanya penurunan yang parah dalam hal tingkat melek huruf di kalangan pejabat pemerintahan. Babilon di bawah kekuasaan bangsa Kass, yang memberinya nama baru Karanduniash, muncul kembali sebagai kekuatan politik dan militer di Mesopotamia. Sebuah ibukota baru didirikan dan dinamai Dur-Kurigalzu untuk menghormati Kurigalzu I, raja Kass yang berkuasa sekitar abad ke-14 SM.

Keberhasilan bangsa Kass dibangun di atas politik yang relatif stabil yang dicapai oleh para raja Kass. Mereka memerintah Babilonia praktis tanpa gangguan selama hampir empat ratus tahun— suatu periode kekuasaan yang lebih panjang dibanding dinasti manapun dalam sejarah Babilonia.

Perubahan Mesopotamia selatan menjadi negara teritorial, alih-alih jaringan negara kota yang bersekutu atau berperang, menjadikan Babilonia sebagai kekuatan internasional, meskipun seringkali kalah terkenal dari negara tetangganya, antara lain Assyria serta Elam di timur. Para raja Kass menetapkan perdagangan dan diplomasi dengan Assyria. (Puzur-Ashur III dari Assyria dan raja Kass, Burna-Buriash I, menyepakati perjanjian yang menetapkan perbatasan antara kedua negara pada pertengahan abad ke-16 SM. Wangsa kerajaan Kass juga melakukan pernikahan dengan keluarga kerajaan dari Mesir, Elam, dan Het. Ada pedagang asing di Babilon serta kota-kota Kass lainnya, dan para pedagang Babilonia berdagang secara aktif dari Mesir, yang merupakan sumber emas Nubia, ke Assyria dan Anatolia. Pemberat dan segel Kass, serta peralatan perdagangan untuk mengidentifikasi dan mengukur paket, ditemukan hingga sejauh Thebes di Yunani, di Armenia selatan, dan bahkan di sisa-sisa kapal di pesisir selatan Turki modern.

Perjanjian lanjutan antara Kurigalzu I dan Ashur-bel-nisheshu dari Assyria disepakati pada pertengahan abad ke-15 SM. Akan tetapi Babilonia kemudian mengalami serangan dan dominasi Assyria selama beberapa abad berikutnya setelah raja Assyria, Ashur-uballit I (1365 SM – 1330 SM) naik tahta pada tahun 1365 SM. Ia membuat Assyria (bersama dengan Het dan Mesir) menjadi kekuatan besar di Timur Dekat. Babilon dijarah oleh Ashur-uballit I pada tahun 1360-an SM setelah raja Kass di Babilon, yang menikah dengan anak perempuan Ashur-uballit, dibunuh. Ashur-uballit dengan cepat bergerak menuju Babilonia, membalas kematian menantunya, dan mengangkat Kurigalzu II dari keluarga kerajaan Kass sebagai raja di sana. Penerusnya Enlil-nirari (1330 SM hingga 1319 SM) juga menyerang Babilonia, dan cicitnya Adad-nirari I (1307 SM hingga 1275 SM) mencaplok sebagian wilayah Babilonia ketika ia naik tahta sebagai raja. Tukulti-Ninurta I (1244 SM -1208 SM), yang tidak puas hanya dengan mendominasi Babilonia, memilih untuk bertindak lebih jauh. Ia menaklukan Babilonia, menggulingkan raja Kass, Kashtiliash IV, dan memerintah di sana selama delapan tahun, sejak tahun 1235 SM hingga tahun 1227 SM.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Para penguasa Kass menjalankan kendali atas wilayah mereka melalui jaringan provinsi yang dikelola oleh gubernur. Kota Nippur, yang dibangkitkan kembali, dijadikan nyaris setara dengan kota kerajaan Babilon dan Dur-Kurigalzu, serta menjadi pusat provinsi yang paling penting. Nippur sendiri dulunya merupakan kota yang besar namun ditinggalkan oleh penduduknya sekitar tahun 1730 SM. Kota ini dibangun kembali pada periode Kass, dengan kuil-kuilnya dibangun ulang tepat di atas fondasi bangunan lamanya. Di bawah pemerintahan Kass, gubernur Nippur, yang menggelari diri sebagai Guennakku, yang diambil dari bahasa Sumeria, bertindak kurang lebih sebagai raja kedua atau raja kecil. Wibawa Nippur amat besar sehingga pada abad ke-13, serangkaian penguasa Kass menggunakan gelar "gubernur Nippur" untuk diri mereka sendiri.

Pusat penting lainnya pada periode Kass adalah Larsa, Sippar dan Susa. Setelah dinasti Kass dijatuhkan pada tahun 1155 SM, sistem administrasi provinsi tetap berlanjut dan negara Babilonia tetap bersatu di bawah pemerintahan berikutnya, yaitu Dinasti Isin Kedua.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]