Bangsa Het

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Bangsa Hittit)
Langsung ke: navigasi, cari
Het
Name:
URUHa-at-ti
("The Land of Hatti")
Abad ke-16 SM–c. 1180 SM


Lambang

Het pada puncak kejayaannya dibawah Mursili II (c.1321–1295).
Ibu kota Hattusa dan Tarhuntassa pada periode singkat
Bahasa Bahasa Het dan bahasa-bahasa Anatolia lain
Agama Politeisme
Pemerintahan Otokrasi
Lugal
 -  ca. 1586–1556 SM Hattusili I
 -  1556–1526 SM Mursili I
 -  Awal abad ke-14 SM Tudhaliya I
 -  c.1350–1322 Suppiluliuma I
 -  c.1321–1295 Mursili II
 -  c.1295–1272 Muwattalli II
Era sejarah Zaman Perunggu Akhir
 -  Labarna I menaklukan Hatti Abad ke-16 SM
 -  Serangan oleh orang-orang Laut dan kerajaan-kerajaan sekitar c. 1180 SM

Bangsa Het adalah bangsa Anatolia kuno yang menuturkan bahasa dari cabang Anatolia dalam rumpun bahasa Indo-Eropa.[1] Bangsa ini mendirikan kerajaan yang berpusat di Hattusa. Bangsa Het mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 SM, ketika sebagian besar Anatolia, Suriah barat laut, wilayah hingga mulut sungai Litani (kini Lebanon), dan daerah timur hingga Mesopotamia hulu, berhasil ditaklukan. Setelah tahun 1180 SM, Bangsa Het mengalami disintegrasi menjadi beberapa negara-kota "Het-Baru", beberapa mampu bertahan hingga abad ke-8 SM.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Perjanjian Damai Mesir - Het (~ 1258 SM) antara Hattusili III dan Ramesses II. Merupakan perjanjian damai tertulis kuno yang paling terkenal. Museum Arkeologi Istanbul

Kerajaan Het (Hittite kingdom) secara konvensional dibagi atas 3 periode:

  • Kerajaan Het Lama (Old Hittite Kingdom; ~ 1750–1500 SM)
  • Kerajaan Het Pertengahan (Middle Hittite Kingdom; ~1500–1430 SM) dan
  • Kerajaan Het Baru (New Hittite Kingdom, the Hittite Empire proper; ~ 1430–1180 SM).

Dari dinasti Het yang meninggalkan catatan, anggota yang diketahui paling awal adalah Pithana, yang tinggal di kota Kussara. Pada abad ke-18 SM, Anitta, putra dan sekaligus penerusnya, membuat kota Neša menjadi salah satu ibukotanya dan menggunakan bahasa Het dalam tulisannya di sana. Namun, Kussara tetap menjadi ibukota dinasti tersebut selama hampir seabad sampai Labarna II menetapkan Hattusa sebagai ibukota negara, mungkin mengambil alih nama tahta Hattusili, "orang Hattusa", pada waktu itu.

Firaun Mesir Ramesses II menyerang benteng Het dalam pengepungan terhadap kota Dapur.

Kerajaan Tua, berpusat di Hattusa, mencapai puncak kejayaan selama abad ke-16 SM. Kerajaan ini pernah mengalahkan Babilonia pada suatu ketika, tetapi tidak berusaha untuk memerintah di sana, menyebabkan orang Kassit bangkit dan memerintah di sana selama lebih dari 400 tahun.

Selama abad ke-15 SM, kekuasaan Het menghilang, muncul kembali dalam pemerintahan Tudhaliya I sejak ~ 1400 SM. Di bawah Suppiluliuma I dan Mursili II, kerajaan berkembang sampai ke sebagian besar Anatolia dan sebagian Siria dan Kanaan, sehingga pada tahun 1300 SM, kerajaan Het berbatasan dengan Asyur dan Mesir, yang menyebabkan terjadinya Pertempuran Kadesh pada tahun 1274 SM.

Perang saudara dalam perebutan tahta, ditambah ancaman dari "Orang-orang Laut" (Sea Peoples), melemahkan kerajaan Het dan, di akhir tahun 1160 SM, kerajaan ini runtuh. Negara-negara kecil yang muncul pada zaman "Kerajaan Het Baru" (Neo-Hittite) di bawah kekuasaan Asyur masih ada sampai ~700 SM. Dialek Het dan Luwian dari Zaman Perunggu berkembang menjadi bahasa-bahasa Lydia, Lycia dan Karia.

Bekas-bekas bahasa ini masih ada pada periode Akhameniyah/Persian (abad ke-6th sampai ke–4 SM) dan akhirnya punah akibat penyebaran budaya Helenistik Yunani mengikuti penjajahan Aleksander Agung di Asia Minor pada abad ke-4 SM.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Dr Andrew McCarthy, University of myles c gy 1B Lecture.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]