Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II
SULTAN SYARIF KASIM II NEW TERMINAL.JPG
Terminal baru bandar udara
IATA: PKUICAO: WIBB
PKU is located in Sumatra Topography
PKU
Lokasi bandara di Sumatra
Ikhtisar
Jenis bandara Sipil dan Militer
Pengelola PT Angkasa Pura II
Melayani Pekanbaru
Lokasi Pekanbaru, Riau, Indonesia
Penghubung untuk
Ketinggian 31 m (101 f)
Koordinat 0°27′40″LU 101°26′40″BT / 0,46111°LU 101,44444°BT / 0.46111; 101.44444
Landas pacu
Arah Panjang Permukaan
ft m
18/36 7.053 2.600 Aspal
Terminal lama bandar udara Sultan Syarif Kasim II sebelum dihancurkan
Tempat keberangkatan bandara Sultan Syarif Kasim II

Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II (IATA: PKUICAO: WIBB) adalah sebuah bandar udara yang terletak di Kota Pekanbaru dan sebelumnya bernama Bandara Simpang Tiga. Bandara ini memiliki luas 321,21 ha. Dalam rangka menyambut PON XVII pada tahun 2012 mendatang, bandara ini diperluas sehingga nantinya dapat menampung pesawat yang lebih besar. Bandara ini juga menjadi home-base bagi Skuadron Udara 12 TNI AU.

Daftar isi

Sejarah[sunting]

Bandar udara Sultan Syarif Kasim II (SSK. II) Pekanbaru adalah bandara peninggalan Sejarah dari zaman kemerdekaan melawan penjajah Belanda dan Jepang. Saat itu di sebut “Landasan Udara” dimana landasan tersebut masih terdiri dari tanah yang di keraskan dan di gunakan sebagai Pangkalan Militer. Awalnya Landasan pacunya adalah dari Timur menuju Barat dengan nomor runway 14 dan 32. Pada awal kemerdekaan di bangun landasan pacu baru yang terbentang dari arah utara menuju selatan dengan nomor runway 18 dan 32. Panjang landasan lebih kurang 800 meter dengan permukaan landasan berupa kerikil yang di padatkan. Pada tahun 1950 landasan pacu di perpanjang menjadi 1.500 meter, dan pada tahun 1967 landasan di mulai proses pengaspalan Runway, Taxi, dan Apron setebal 7 cm serta pertambahan panjang landasan sepanjang 500 meter.

Pada tahun 1960 Pemerintah mengoperasikan bandara ini menjadi bandara Perintis dan merubah nama dari Landasan Udara menjadi “Pelabuhan Udara Simpang Tiga”. Nama Simpang Tiga diambil karena lokasinya berada tiga jalan persimpangan yaitu jalan menuju Kota Madya Pekanbaru, Kabupaten Kampar dan Kabupaten Indragiri Hulu. Berdasarkan Rapat Kepala Kantor Perwakilan Departemen Perhubungan tanggal 23 Agustus 1985 nama Pelabuhan Udara Simpang Tiga diganti menjadi Bandar Udara Simpang Tiga terhitung tanggal 1 September 1985.

Pada 1 April 1994 Bandar Udara Simpang Tiga bergabung dengan Manejemen yang di kelolah oleh PT. Angkasa Pura II (Persero). Dan di sebut dengan Kantor Cabang Bandar Udara Simpang Tiga Yang kelak berubah nama menjadi Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II yang di tetapkan melalui keputusan Presiden No.Kep.473/OM.00/1988-AP II tgl. 4 April 1998 dan di resmikan oleh Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid tgl 29 April 2000. [2]

Pada tahun 2009 lalu, Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II telah dimulai peluasan Bandara Sultan Syarif Kasim II oleh pihak Angkasa Pura II yang bekerja sama dengan pemerintah provinsi Riau. Peluasan ini direncanakan akan diselesaikan pada akhir 2011 dan dibangun sebagai persiapan menghadapi Pekan Olah Raga Nasional (PON) yang akan digelar pada 2012. Peluasan ini dilakukan karena dinilai tidak lagi dapat menampung jumlah penumpang melalui menggunakan Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II yang setiap tahunnya semakin meningkat.

Maskapai Penerbangan dan penumpang[sunting]

Ini adalah daftar penerbangan yang terbang ke bandar udara ini (data per Mei 2013) :

Maskapai Tujuan Terminal
AirAsia Kuala Lumpur-KLIA Internasional
Batik Air Jakarta Domestik
Citilink Batam Domestik
Firefly Kuala Lumpur-Subang Internasional
Garuda Indonesia Batam, Jakarta-Soekarno Hatta, Padang Domestik
Indonesia AirAsia Bandung, Medan Domestik
Mandala Airlines Jakarta-Soekarno Hatta, Medan, Yogyakarta Domestik
Mandala Airlines Singapura-Changi Internasional
Lion Air Batam, Jakarta-Soekarno Hatta, Medan Domestik
Pelita Air Service Dumai, Jakarta-Halim Perdanakusuma Domestik
SilkAir Singapura-Changi [3] International
Sky Aviation Batam [4] Tanjungpinang, Medan Domestik
Sky Aviation Malaka Internasional
Sriwijaya Air Jakarta-Soekarno Hatta, Medan, Batam Domestik
Wings Air Batam, Jakarta-Soekarno Hatta, Medan Domestik
Wings Air Malaka Internasional

Statistik[sunting]

Penerbangan tersibuk keluar dari Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II berdasarkan frekuensi[rujukan?] [5][6]
Peringkat Tujuan Frekuensi
(Mingguan)
Maskapai penerbangan
1 Jakarta COA.svg Jakarta 119 Garuda Indonesia, Lion Air,
Mandala Airlines, Sriwijaya Air, Batik Air
2 Lambang Riau Kepulauan.jpeg Batam 68 Wings Air, Citilink, Garuda Indonesia,
Sky Aviation, Sriwijaya Air
3 North Sumatra coa.png Medan 28 Lion Air, Indonesia AirAsia,
Mandala Airlines, Sriwijaya Air
4 Riau COA.svg Dumai 14 Pelita Air Service
5 West Java coa.svg Bandung 10 Indonesia Air Asia, Indonesia Air Transport
6 Flag of Singapore.svg Singapore 10 Mandala Airlines, SilkAir
7 Flag of Malaysia.svg Malacca 8 Wings Air, Sky Aviation
8 Flag of Malaysia.svg Kuala Lumpur-KLIA 7 AirAsia
9 Lambang Riau Kepulauan.jpeg Tanjung Pinang 7 Sky Aviation
10 Seal of the City of Yogyakarta.svg Yogyakarta 7 Mandala Airlines
11 West Sumatra coa.svg Padang 7 Garuda Indonesia
12 Flag of Malaysia.svg Kuala Lumpur-Subang 5 Firefly
13 North Sumatra coa.png Silangit 2 Sky Aviation

Kecelakaan dan insiden[sunting]

Pada tanggal 28 April 1981, Douglas C-47A PK-OBK milik Airfast Indonesia jatuh pada saat melakukan pendekatan merupakan penerbangan penumpang tidak berjadwal. Sembilan dari 17 orang dalam pesawat tewas.[7]

Pada 14 Februari 2011, penerbangan Lion Air 392 keluar landasan di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Tidak ada korban jiwa atau cedera.[8][9] Pesawat itu mencoba mendarat tiga kali namun gagal.[10] Pada 15 Februari 2011 pesawat Lion Air yang lain keluar landasan.

Mengenai dua insiden diatas, kemhub telah melarang semua pesawat Boeing 737-900 ER mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II ketika landasan pacu yang basah. Lion air akan menaati larangan tersebut dan akan menggantinya dengan pesawat Boeing 737-400 yang lebih kecil.[11]

Pada tanggal 17 Juli 2012 pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan 174, tergelincir keluar landasan.[12]

Lihat pula[sunting]

Referensi[sunting]

Pranala luar[sunting]