Bait Allah (Yerusalem)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Bait Allah (juga disebut Bait Suci atau Kenisah[1]) adalah sebutan untuk pusat peribadahan bangsa Israel dan orang Yahudi di Yerusalem pada zaman kuno, yang terletak di Bukit Bait Suci. Dalam bahasa Ibrani, tempat ini disebut Bait Suci (Beit HaMikdash בית המקדש). Bangunan ini digunakan untuk beribadah dan mempunyai fungsi utama untuk mempersembahkan kurban korbanot. Selama beberapa abad tempat ini menjadi pusat ibadah agama Yahudi.

Menurut Kitab Suci Ibrani (Perjanjian Lama), Bait Allah ini dibangun oleh Salomo untuk menggantikan Kemah Suci yang dibangun Musa.

Gambar Bait Allah Kedua yang dibangun Herodes di Yerusalem
Bait suci di Kota tua Yerusalem modern

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Istilah Alkitab yang digunakan untuk Bait Allah adalah Beit Adonai atau Rumah Allah. Karena orang Yahudi dilarang menyebutkan nama yang kudus, dalam bahasa Ibrani, tempat ini disebut Beit HaMikdash atau Rumah Suci. Tempat ini adalah peribadahan satu-satunya di Yerusalem yang disebut dengan nama Rumah Suci.

Bait Suci pertama dan kedua[sunting | sunting sumber]

Ada dua Bait Suci yang berdiri berturut-turut di Bukit Bait Suci di Yerusalem:

Penghancuran Bait Suci Yerusalem, oleh Francesco Hayez

Pandangan Yahudi[sunting | sunting sumber]

Sejak dihancurkannya Bait Allah ini pada tahun 70 M., orang Yahudi terus berdoa agar Allah mengizinkan mereka membangunnya kembali. Doa ini adalah bagian resmi dari doa-doa Yahudi tiga kali sehari.

Namun tidak semua rabi setuju tentang apa yang akan terjadi terhadap Bait Allah yang dibangun kembali itu. Secara tradisional dianggap bahwa lembaga kurban binatang akan dihidupkan kembali, sesuai dengan aturan-aturan dalam Kitab Imamat dan Talmud. Namun ada pendapat lain, mulai dari Maimonides, bahwa Allah dengan sengaja telah mengalihkan orang Yahudi dari kurban kepada doa, karena doa adalah bentuk ibadah yang lebih tinggi. Jadi, sebagian rabi berpendapat bahwa kurban tidak dilakukan lagi di Bait Allah yang dibangun kembali. Rabi Abraham Isaac Kook, rabi kepala pertama dari komunitas Yahudi di Israel, pada masa sebelum negara itu terbentuk, mengatakan bahwa pengurbanan binatang tidak akan dilakukan lagi. Namun pandangan ini tidak diikuti oleh kebanyakan rabi. Salah satunya adalah rabi Haredi.

(Pandangan Rabi Kook tentang ibadah di Bait Allah kadang-kadang dipahami secara keliru. Bila orang membaca secara sepintas bagian dari "Olat Ri'iah" akan tampak bahwa hanya kurban biji-bijian yang akan dipersembahkan di dalam ibadah Bait Allah yang dipulihkan. Untuk memahami dengan benar posisi Rabi Kook tentang masalah ini, kita perlu membaca sebuah esai terkait dari "Otzarot Hari'iah")

Segelintir kecil kelompok Yahudi membangun pembangunan Bait Suci Ketiga pada masa ini, tetapi kebanyakan orang Yahudi menentangnya, karena berbagai alasan. Kebanyakan orang Yahudi yang saleh yakin bahwa Bait Suci itu hanya boleh dibangun kembali pada masa mesianik, dan karena itu terlalu sombong bila orang "seolah-olah" memaksakan tangan Allah membangunnya. Lebih jauh, ada banyak persyaratan ritual yang terkait dengan kesucian mereka yang membangunnya, sehingga pembangunan Bait Suci itu praktis tidak mungkin dilakukan.

Banyak orang Yahudi yang menentang pembangunan Bait Allah ini karena reaksi negatif dari kaum Muslim yang mungkin akan muncul. Andaikan pun bangunan itu melengkapi bangunan-bangunan yang dianggap suci di dalam Islam yang saat ini berdiri di lokasi Bukit Suci itu, akan muncul kecurigaan besar bahwa proyek bangunan seperti itu akhirnya akan menghancurkan bangunan-bangunan itu dan digantikan oleh Bait Allah yang didirikan kembali di situ.

Membangun kembali Bait Allah Ketiga[sunting | sunting sumber]

Masalah sekitar status Bait Allah yang ketiga diliputi oleh misteri, ketidakpastian, kontroversi, dan perdebatan, namun semuanya berakar pada teks-teks Kitab Suci Ibrani, maupun dalam keilmuan dan doa-doa Yahudi tradisional.

Yudaisme Ortodoks[sunting | sunting sumber]

Yudaisme Ortodoks percaya dan mengharapkan bahwa Bait Allah akan dibangun kembali dan ibadah kurban, yang dikenal sebagai korbanot akan kembali dipraktekkan dengan pembangunan kembali Bait Allah yang ketiga.

Yudaisme Konservatif[sunting | sunting sumber]

Yudaisme Konservatif telah memodifikasi doa-doa mereka. Buku-buku doa mereka mengharapkan pemulihan Bait Allah, tetapi tidak memohon dipulihkannya kurban binatang. Kebanyakan naskah yang terkait dengan kurban digantikan dengan ajaran Talmud bahwa perbuatan baik kini berfungsi sebagai penebus dosa. Dalam doa utama, Amidah, ungkapan Ibrani, na'ase ve'nakriv (kami akan mempersembahkan dan mengurbankan) kini diubah hingga berbunyi asu ve'hikrivu (mereka dipersembahkan dan dikurbankan), hingga menunjukkan bahwa kurban binatang adalah praktek pada masa lampau. Permohonan agar "kurban api-apian Israel" diterima pun dihapuskan.

Yudaisme Reformasi[sunting | sunting sumber]

Yudaisme Reformasi tidak menuntut dipulihkannya lembaga kurban ataupun pembangunan kembali Bait Allah, meskipun sebagian buku doa kelompok ini mulai beralih kepada pengharapan pembangunan kembali Bait Allah sebagai suatu pilihan.

"Bait Suci Ketiga" Romawi oleh Kaisar Yulianus[sunting | sunting sumber]

Kaisar Romawi Yulianus (331-363) pernah merencanakan, namun kemudian dibatalkan, untuk mengizinkan orang-orang Yahudi membangun kembali "Bait Suci Ketiga", sebagai bagian dari programnya di seluruh kekaisaran untuk memulihkan/menghidupkan kembali agama-agama setempat. Ada alasan untuk menduga bahwa Yulianus ingin membangun kembali "Bait Suci Ketiga" untuk tujuannya sendiri yaitu mengangkat dirinya menjadi dewa, dan bukan untuk peribadahan menyembah Allah orang Yahudi. Rabi Hilkiyah, salah seorang rabi terkemuka pada masa itu, menolak uang Yulianus, dengan mengatakan bahwa orang non Yahudi tidak boleh ikut serta di dalam pembangunan kembali bait suci. [2].

Pandangan Kristen[sunting | sunting sumber]

Pandangan Protestan[sunting | sunting sumber]

Pandangan yang dominan di lingkungan orang-orang Kristen Protestan ialah bahwa kurban binatang di lingkungan Bait Allah merupakan gambaran bagi pengurbanan yang dilakukan Yesus kelak bagi dosa-dosa semua orang, melalui kematiannya. Karena itu, mereka percaya bahwa keberadaan Bait Allah tersebut secara fisik serta ritual-ritualnya tidaklah diperlukan lagi.

Orang-orang Protestan yang percaya akan pembangunan kembali Bait Allah pada masa depan (mis. kaum dispensasionalis berpendapat bahwa sistem kurban tidaklah sepenuhnya dihapuskan dengan pengorbanan Yesus bagi dosa manusia, melainkan tetap merupakan bahan pelajaran seremonial bagi pengakuan dosa dan pengampunan (mirip dengan baptisan air dan Perjamuan Kudus sekarang); dan dengan demikian kurban binatang masih tetap perlu bagi pembersihan ritual dan bagi akta perayaan dan pengucapan syukur kepada Allah. Kaum dispensasionalis percaya bahwa itulah yang akan terjadi dengan Kedatangan Kristus yang kedua kali ketika Yesus memerintah di muka bumi dari kota Yerusalem.

Pandangan Katolik Roma dan Ortodoks Timur[sunting | sunting sumber]

Gereja-gereja Katolik dan Ortodoks percaya bahwa Ekaristi, yang mereka yakini sehakikat dengan pengorbanan diri Kristus pada salib, jauh lebih baik dibandingkan dengan sekadar kurban-kurban persiapan di bait suci, seperti yang dijelaskan dalam Surat Ibrani. Mereka juga percaya bahwa gedung-gedung gereja Kristen tempat Ekaristi dirayakan adalah pengganti yang sah dari bait suci, hingga gedung-gedung gereja mereka pun kadang-kadang disebut "bait suci". Karena itu mereka tidak menganggap penting pembangunan kembali Bait Suci Yerusalem pada masa depan.

Pandangan Restorasionis Mormon (OSZA)[sunting | sunting sumber]

Joseph Smith, Jr. mengajarkan bahwa bukan saja Bait Suci di Yerusalem akan dibangun kembali, tetapi bahwa padanannya, sebuah bait suci yang lain, akan dibangun di Amerika Serikat. Keyakinan ini dipegang oleh lebih dari 12 juta lebih anggota dari berbagai varian dari Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir ("Gereja OSZA"). Tempat Bait Suci yang dinubuatkan itu akan dibangun adalah di Independence, Missouri; lokasi ini adalah milik Church of Christ (Temple Lot). Dengan demikian, tanah yang di atasnya diharapkan oleh Gereja Mormon akan dibangun Bait Suci, saat ini tidak dimiliki oleh Gereja Mormon. Mulanya, Bait Suci di Independence ini direncanakan akan dibangun pada tahun 1830-an. Pembangunan Bait Suci itu oleh Gereja Mormon ditunda untuk menunggu waktu yang lebih tepat. Sebuah upaya berikutnya untuk membangun bait suci ini oleh salah satu cabang dari Gereja Mormon pada akhir tahun 1920-an tidak terwujud, karena saat itu terjadilah Depresi Besar. Bait Suci ini juga dikenal sebagai bait suci Yerusalem Baru, atau Sion, dan di sekitarnya sebuah kota yang indah akan dibangun. Kurban binatang tidak disebutkan secara eksplisit dalam kitab-kitab suci, namun kitab Ajaran dan Perjanjian ps. 13:1 merujuk kepada masa ketika "anak-anak Lewi mempersembahkan kembali persembahan kurban kepada Tuhan di dalam kebenaran."

Pembangunan kembali Bait Allah pada masa kini[sunting | sunting sumber]

Umat Muslim membangun Kubah Shakhrah dan Mesjid Al-Aqsa di lokasi dari Bait Allah Yerusalem yang telah dihancurkan dulu.

Setiap upaya untuk menghancurkan dan menggantikan tempat-tempat suci Muslim ini dengan sebuah Bait Allah Yerusalem akan berbahaya dalam iklim politik dan keagamaan sekarang. Namun demikian, tak mungkin orang Yahudi membangun kembali Bait Allah di tempat yang lain karena hal itu bertentangan dengan pandangan hukum Yahudi yang diakui, termasuk pandangan para tokoh hukum terkemuka Yahudi, Sanhedrin yang kini telah dibentuk kembali. Kompleksitas yang muncul di sekitar pembangunan kembali Bait Allah merupakan suatu tantangan yang tampaknya tak mungkin diatasi.

Kontroversi modern tentang lokasi situs Bait Suci[sunting | sunting sumber]

Sebuah prasasti batu (2.43×1 m) dengan tulisan dalam bahasa Ibrani "Bagi Tempat Meniup Sangkakala" digali oleh B. Mazar pada kaki bagian selatan dari Bukit Bait Suci, diyakini sebagai bagian dari Bait Suci Kedua.

Pada 1999 Dr. Ernest L. Martin menerbitkan sebuah buku yang kontroversial berjudul The Temples that Jerusalem Forgot (Bait Suci yang Dilupakan Yerusalem) berdasarkan gagasan dari Ory Mazar, anak Profesor Benjamin Mazar dari Universitas Ibrani. Pada 1995 Dr. Martin menulis sebuah rancangan laporan untuk mendukung teori ini. Ia menulis: "Saat itu saya percaya bahwa Simon orang Hasmonean (bersama-sama dengan Herodes satu abad kemudian) memindahkan Bait Suci dari gundukan Ofel ke daerah Kubah Shakhrah."

Namun, setelah mempelajari kata-kata Yosefus mengenai Bait Suci Herodes, yang dilaporkan berada di tempat yang sama denagn Bait-bait Suci sebelumnya, ia kemudian membaca laporan Eleazar yang memimpin pasukan terakhir perlawanan Yahudi terhadap orang-orang Romawi di Masada yang menyatakan bahwa benteng Romawi adalah satu-satunya bangunan yang tersisa pada tahun 73 M. "Mengingat hal ini, saya tiba pada kesimpulan pada 1997 bahwa semua Bait Suci itu memang terletak di gundukan Ofel di atas daerah Mata Air Gihon." Teori ini menyiratkan bahwa Yudaisme saat itu sedang berjuang untuk melestarikan lokasi yang keliru, yang pada gilirannya menyulut reaksi dari pihak Muslim.

The Temples that Jerusalem Forgot karya Dr. Martin menjadi semakin kontroversial mengingat kenyataan bahwa ia sebelumnya pernah terlibat selama lima tahun dalam penggalian-penggalian dekat Tembok Barat dalam sebuah proyek bersama antara Universitas Ibrani dan Ambassador College, penerbit majalah The Plain Truth yang disunting oleh Herbert W. Armstrong.

Bukti-bukti arkeologis[sunting | sunting sumber]

Penggalian-penggalian arkeologis telah menemukan 100 mikvaoth (tempat baptisan ritual) di sekililing daerah yang dikenal sebagai Bukit Bait Suci atau Al-Haram asy-Syarif. Ini adalah bukti yang kuat bahwa wilayah ini dianggap sebagai tempat yang sangat suci di zaman dahulu dan tak mungkin berfungsi sebagai wilayah sekular. Namun demikian, hal ini tidak menunjukkan di mana persisnya daerah Bait Suci itu dulu berdiri.

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

Artikel-artikel penting tentang masalah lokasi Bait Suci Yerusalem terdapat dalam majalah Biblical Archaeology Review, dalam nomor-nomor berikut: Juli/Agustus 1983, November/Desember 1989, Maret/April 1992, Juli/Agustus 1999, September/Oktober 1999, Maret/April 2000, September/Oktober 2005. Beberapa dari artikel ini mendukung teori Profesor Asher Kaufman bahwa Bait Suci terletak di Bukit Bait Suci, tetapi sedikit lebih ke utara daripada Kubah Shakhrah (yang sesungguhnya merupakan bagian dari "Batu yang Hilang" pada masa Bait Suci Kedua.

Kontroversi terbaru[sunting | sunting sumber]

Pada 27 Desember 2004, dilaporkan dalam The Globe and Mail terbitan Toronto bahwa Museum Israel di Yerusalem menemukan bahwa delima gading yang diyakini orang pernah menghiasi tongkat yang digunakan oleh imam agung di Bait Suci Salomo sesungguhnya palsu. Artefak ini adalah benda paling penting dari zaman Alkitab di dalam koleksinya. Ia merupakan bagian dari sebuah pameran keliling pada di Museum Peradaban Kanada pada 2003. Para pakar khawatir bahwa penemuan ini adalah bagian dari penipuan internasional menyangkut benda-benda kuno. Laporan itu menggambarkan bahwa delima sebesar ibu jari itu, yang tingginya cuma 44 mm, yang digambarkan ditulisi huruf Ibrani kuno yang berbunyi "Sumbangan suci bagi imam-imam di Rumah YHWH." Sebagian arkeolog berpendapat bahwa artefak ini sesungguhnya berasal dari Zaman Perunggu Akhir. Namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Salomo dan Baitnya sesungguhnya berasal dari Zaman Perunggu Akhir, yang membuat kontroversi ini tidak perlu.

Pandangan Islam[sunting | sunting sumber]

Umat Muslim meyakini bahwa memang benar ada Bait Allah yang dibangun oleh Nabi Sulaiman Alaihi Salam, hanya saja mereka menyebutnya dengan Masjid Al-Aqsha, Bait AlMaqdis [ Bait Suci/ Bait Ha Mikhdash ] atau Masjid Illiya’/Aelia Capitolia. Selain pernah menjadi kiblat salat, Baitul Maqdis atau Bait Allah ini juga memiliki keistimewaan tersendiri dikalangan umat muslim.

Hadiah minyak dan pahala salat di dalam Baitul Maqdis[sunting | sunting sumber]

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tentang kemuliaan tempat suci ini dalam sabdanya kepada Maimunah, salah seorang budak wanitanya ketika ia bertanya ; “ Wahai Rasulullah, apakah yang terjadi di Bait AlMaqdis?”, beliau menjawab ; “Itu adalah tanah tempat kebangkitan dan dikumpulkannya manusia, berziarahlah kesana, dan salatlah di dalamnya, karena ganjarannya seribu kali lebih banyak daripada salat ditempat lainnya – kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi -.” Maimunah bertanya lagi ; “Bagaimana jika saya tidak bisa menziarahinya?” , Nabi bersabda ; “Kirimkanlah hadiah berupa minyak untuk menyalakan lampu-lampunya, barangsiapa yang melakukannya seakan-akan menziarahinya” ( HR. Ahmad dan Abu Dawud )

BaitulMaqdis tempat yang aman dari Dajjal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda ; ”Dajjal akan hidup di bumi selama empat puluh hari, kekuasaannya mencapai setiap sudut bumi, akan tetapi dia takkan bisa memasuki empat masjid suci ; MasjidilHaram, Masjid Nabawi, Masjid Al-Aqsha, dan Masjid Ath-Thur” ( HR. Ahmad ). Masjid ath-Thur, lokasi Bukit Thursina tempat Musa menerima wahyu/tabut (dekat biara St. Catherine).

Salat di BaitulMaqdis dapat membersihkan dosa-dosa. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda ; ”Tatkala Sulaiman Bin Dawud telah merampungkan pembangunan Bait Allah maka ia berdoa kepada Allah dengan tiga permohonan, yaitu ; hukum yang adil yang ia gunakan untuk menghukumi manusia, kerajaan yang teragung yang tiada seorangpun diberikan setelahnya, dan agar siapa saja yang ziarah ke masjid ( Bait ) ini dengan berniat untuk salat di dalamnya niscaya mendapatkan pengampunan dari dosa-dosa sebersih bayi yang lahir dari ibunya” , lanjut beliau ; ”Dua permohonan yang pertama telah dikabulkan, dan aku berharap demikian pula bagi permohonan yang ketiga” ( HR. Ahmad dan Haitsami )

Penemuan lokasi Bait Allah

Tahun 15 H saat penaklukan Yerusalem, Khalifah Umar Bin Khattab-lah Rhadiyallahu ’Anhu yang menemukan lokasi Batu AsSakhrah dengan bantuan Kaab Al-Ahbar, seorang Imam Tabi’in yang awalnya adalah seorang Rabi Yahudi. Saat mengunjungi lokasi Bait Allah yang berantakan dan tak terurus, beliau berkata kepada Kaab ; ”Dimana letak Sakhrah wahai Ka’ab?” , lantas Ka’ab menjawab ; ”Ukurlah beberapa depa dari Wadi Jahannam (Oase Gehenna) Ya Amirul Mu’minin...” Lantas beliau menemukannya, beliau lalu masuk dari pintu dahulu Rasulullah pernah memasukinya yaitu Babul Magharibah (Bab Ha Mugharabim) dan membersihkan tempat itu dengan selendangnya diikuti oleh umat muslim yang lain. Beliau lalu salat di sana bersama umat muslim yang lain dengan membaca surat Shaad dan surat Bani Israel (Al-Isra’a ).

Catatan Muslim[sunting | sunting sumber]

Baitullah/Bayt'ul-Lah artinya Rumah Tuhan dalam Islam adalah sebutan untuk Ka'bah yang terletak di Masjidil Haram, sedangkan masjid yang jauh/Masjid Al-Aqsa adalah sebutan untuk seluruh kawasan pekarangan kompleks situs suci Al-Haram asy-Syarif pada periode awal muslim di Yerusalem (bukan hanya bangunan fisik masjid yang dibangun belakangan oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan). Ketika memasuki Yerusalem, Khalifah Umar bin Khattab, yang pertama kali menemukan lokasi Masjid Daud (dengan dibantu uskup Palestina) sesuai sifat-sifat yang digambarkan Nabi Muhammad kepadanya. Abdul Malik bin Marwan juga membangun Kubah Shakhrah yang menaungi Ash-Shakhrah (batu karang yang terletak pada puncak Bukit Moria) yang konon pernah menjadi tempat berpijak Nabi Muhammad ketika mi'raj dan konon seolah-olah sebagai pusat arah kiblat salat jika berada di dalam kawasan Al-Haram asy-Syarif (Periode Nabi Muhammad di Mekkah). Pada awal Islam bangunan masjid masih sederhana pada umumnya hanya berupa lapangan luas dengan dinding tanpa atap kecuali pada bagian pengimaman yang beratapkan daun-daun kurma, jauh berbeda dengan gambaran masjid di jaman modern. Demikian pula gambaran lingkungan di sekitar Kakbah Baitullah yang berada di tengah-tengah pekarangan Masjidil Haram yang luas tanpa dinding pada jaman dahulu yang kondisinya jauh berbeda dengan yang ada di masa sekarang. Pada dasarnya setiap masjid adalah Rumah Tuhan (Bayt Allah), sehingga masjid biasanya dinamakan dengan nama-nama Allah misalnya Baitur-Rahman (Rumah Sang Maha Penyayang], Baitus-Salam (Rumah Sang Maha Pendamai}, dan sebagainya.

Perjalanan Israa'[sunting | sunting sumber]

Al-Qur'an dalam Surat Al Israa’ :1-8, menceritakan peristiwa Israa’ dan sejarah umat terdahulu. Awal surah ini merupakan isyarat kepada umat Islam sebagai umat yang akan menjadi besar, padahal saat itu umat Islam adalah golongan yang kecil dan lemah.

  1. Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsho yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
  2. Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman) : “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku,
  3. (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.
  4. Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.
  5. Maka apabila datang datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.
  6. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan
  7. apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.
  8. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengazabmu), dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.

Ka’bah adalah rumah ibadah pertama[sunting | sunting sumber]

Tercantum di dalam Al-Qur'an, surah ke-3 yang menyebutkan:

Sesungguhnya Rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah ummat manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan petunjuk bagi semua manusia. (Surat Ali Imran: 96-97)

Doa Ibrahim kepada Allah SWT[sunting | sunting sumber]

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman, di dekat Rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (Surah 14:37)

Nabi Ibrahim menjadi Imam bagi seluruh Manusia[sunting | sunting sumber]

Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhan-Nya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata : “ Dan saya mohon juga dari keturunanku”. Allah berfirman : “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim. Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan Rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian Maqom Ibrahim tempat salat” dan telah Kami perintahkan kepada Ismail : “Bersihkanlah Rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (Surah 2:124-125)

Doa Ibrahim[sunting | sunting sumber]

“Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdo’a : Ya Tuhan kami terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau dan mengajarkan mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka . Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surah 2 : 127-129)

Agama Nabi Muhammad Agama Nabi Ibrahim[sunting | sunting sumber]

“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad SAW) serta orang-orang yang beriman kepada Muhammad. Dan Allah adalah pelindung semua orang yang beriman (Surah 3 :68)

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi dan pranala luar[sunting | sunting sumber]