Amsal 13

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Amsal 13 (disingkat Ams 13) adalah bagian dari Kitab Amsal dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen.[1][2]

Teks[sunting | sunting sumber]

Struktur[sunting | sunting sumber]

Ayat 3[sunting | sunting sumber]

Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya,
siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.[4]

Perkataan yang sembarangan dan lidah yang tak terkendali dapat merusak pengaruh seseorang untuk kebenaran, menyebabkan orang itu berdosa (Pengkhotbah 5:6) dan mempengaruhi hubungan orang itu dengan Allah (Pengkhotbah 5:7). Seorang yang sempurna akan menguasai perkataannya dengan saksama (Amsal 8:6-8; Yakobus 3:2). Orang percaya harus memohon pertolongan dari Allah dalam mengendalikan lidahnya (lihat Mazmur 141:3; bandingkan Amsal 10:14,19; 18:7; 2 Timotius 3:3; Yakobus 3:2-13).[5]

Ayat 10[sunting | sunting sumber]

Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran,
tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat.[6]

Sering kali orang berselisih dan bertengkar mempertahankan pendapatnya sendiri karena kesombongan. Dengan melakukan hal itu mereka mungkin ingin dianggap terbesar (Lukas 22:24), memberontak terhadap yang berkuasa (Bilangan 12:2) atau kepada kebenaran alkitabiah (2 Timotius 4:3-4), atau terdorong oleh roh pemisah (1 Korintus 3:3-4). Apabila terjadi perselisihan, kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah kesombongan terlibat dalamnya ataukah karena kita sungguh-sungguh ingin mempertahankan kebenaran (Galatia 2:4-5; 1 Tesalonika 2:2; Yudas 1:3).[5]

Ayat 24[sunting | sunting sumber]

Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya;
tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.[7]

Alkitab mengarahkan orang-tua untuk mendisiplinkan anak-anak mereka dengan "tongkat" sepanjang masa pertumbuhan mereka. Memukul anak hanya boleh dilakukan manakala si anak dengan sengaja tidak mau taat atau memberontak; tujuan pukulan hanyalah meniadakan kebebalan, pemberontakan, dan sikap tidak hormat kepada orang-tua (Amsal 22:15). Disiplin orang-tua yang memadai, yang dilaksanakan dengan bijaksana, penuh kasih, dan tenggang rasa membantu anak-anak untuk belajar bahwa perilaku yang salah membawa dampak tidak enak dan mungkin meliputi penderitaan (Amsal 29:15). Disiplin semacam itu diperlukan agar anak-anak tidak membentuk sikap yang nantinya akan membawa kehancuran dan kematian (Amsal 19:18; 23:13-14). Disiplin saleh di dalam keluarga akan membawa kebahagiaan dan sejahtera di dalam rumah tangga (Amsal 29:17); disiplin itu harus senantiasa dilaksanakan karena kasih sebagaimana dilakukan oleh Bapa sorgawi kita (Ibrani 12:6-7; Wahyu 3:19).[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ J. Blommendaal. Pengantar kepada perjanjian lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 9794153850, 9789794153857
  2. ^ (Indonesia) WS Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 2, sastra dan nubuatan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1994.
  3. ^ Amsal 10:1
  4. ^ Amsal 13:3
  5. ^ a b c The Full Life Study Bible. Life Publishers International. 1992. Teks Penuntun edisi Bahasa Indonesia. Penerbit Gandum Mas. 1993, 1994.
  6. ^ Amsal 13:10
  7. ^ Amsal 13:24

Pranala luar[sunting | sunting sumber]