Alat hitung respons hadirin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
OMBEA ResponsePad - Alat hitung respons hadirin

Alat hitung respons hadirin (Audience Response System – ARS) merupakan sistem dimana sekelompok orang dapat memberikan jawabannya atas pertanyaan yang diberikan pembawa acara. Setiap orang dalam kelompok yang mengikuti kegiatan diberikan alat penghitung yang didalamnya telah dilengkapi dengan tombol pilihan jawaban. Alat hitung respons hadirin merupakan alat yang menerapkan metode komunikasi interaktif yang mengasosiasikan penggunaan teknologi dengan tanggapan penonton di dalam ruangan yang sama. Alat ini digunakan untuk menciptakan interaksi antara pembawa acara dan hadirin, sehingga hadirin dapat berkomunikasi secara interaktif untuk memberikan responsnya terhadap pertanyaan dari pembawa acara. Sistem kerjasama pada satu lokasi ini mengkombinasikan perangkat keras nirkabel, perangkat lunak presentasi dan sistem untuk mendeteksi respons hadirin.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Penggunaan alat hitung respons hadirin dalam berkomunikasi[sunting | sunting sumber]

Keterlibatan penonton merupakan kunci utama penyampaian pesan komunikasi. Dalam dunia interaktif, pesan harus dapat disampaikan dan ditanggapi secara langsung oleh setiap anggota komunikasi. Akan tetapi makna pesan juga bergantung pada konteks fisik, ruang dan waktu. Sehingga hal penting yang menjadi dasar hadirnya teknologi alat hitung respons hadirin adalah berdasarkan bagaimana orang-orang yang berkomunikasi pada situasi yang sama akan mengirim dan menerima pesan pada saat yang sama pula sehingga respons mereka dapat segera diukur.

Komunikasi merupakan perpaduan antara sistem internal dan eksternal. Lingkungan, objek dan persepsi atas lingkungan akan memengaruhi komunikasi dan cara berperilaku. Ketika seseorang dapat langsung terlibat mengkomunikasikan suaranya karena adanya dukungan lingkungan dan sarana maka akan meningkatkan keinginan mereka untuk terus terlibat. Winston Churchill mengatakan bahwa kenyamanan peserta komunikasi dipengaruhi oleh kenyamanan untuk berinteraksi di ruangan dimana peserta berada. Hubungan pembicara dengan pendengar dalam satu ruangan juga akan bergantung pada pengaturan penggunaan fasilitas, terutama teknologi. Dorongan utama dalam penciptaan alat hitung respons hadirin datang dari problem komunikasi dan kontrol pengembangan komunikasi secara efektif dan efisien yang membutuhkan kecepatan penghitungan dan pemberitaan respons langsung dari para penonton yang berada pada lokasi dimana kegiatan pertukaran informasi berlangsung.

Perkembangan alat hitung respons hadirin[sunting | sunting sumber]

Sejak tahun 1960-an, sejumlah perusahaan telah memperkenalkan sistem penghitung respons hadirin. Circa 1966, melakukan studi mengenai hadirin di Institut Hollywood, California. Ia membangun sistem analog ARS (Audience Response System) untuk mengevaluasi respons hadirin di teater. Penelitian dilakukan dengan memberikan tiket gratis pada penonton teater. Setiap responden yang datang akan mengisi kuisioner berupa alat yang dapat digenggam dan memiliki tombol kendali. Tombol sebelah kiri menyatakan setuju dan tombol kanan tidak setuju. Berdasarkan penelitiannya, ARS berhasil menghubungkan penonton untuk terlibat langsung dengan pertanyaan yang diajukan oleh lembaga yang mengadakan kegiatan. Pada tahun 1976, teknologi komunikasi ini berkembang menjadi sistem yang lebih kompleks dimana pada alat kendali terdapat pilihan nomor, kabel penghubung dan tiga lampu; berwarna merah, kuning, dan hijau. Pertanyaan diajukan secara verbal oleh pembawa acara selanjutnya penonton akan menekan tombol nomor yang tersedia dari 0 hingga 10. Selain itu terdapat pilihan jawaban berupa warna. Jika penonton setuju dengan pernyataan maka lampu hijau akan menyala. Jika tidak, baik lampu kuning atau lampu merahlah yang akan menyala, tergantung pada tingkat ketidaksetujuan.

Komponen[sunting | sunting sumber]

Perangkat keras[sunting | sunting sumber]

Keutamaan pemakaian sistem penghitung respons hadirin adalah pada pengunaan nirkabel perangkat keras. Dua teknologi utama yang digunakan untuk transmisi data dari tombol ke stasiun tempat data disimpan adalah inframerah dan frekuensi radio. Alat perangkat keras yang paling populer diproduksi oleh grup Fleetwood, produsen perangkat keras pendeteksi tanggapan hadirin yang bekerja sama dengan beberapa produsen perangkat lunak ternama.

Inframerah (IR)[sunting | sunting sumber]

IR menggunakan teknologi yang hampir sama dengan pengendali televisi dan merupakan satu-satunya teknologi yang membutuhkan keterlibatan antara alat kendali dan penerima pesan. Sistem penghitung respons hadirin yang menggunakan IR akan lebih baik digunakan pada kelompok yang lebih kecil.

Frekuensi Radio (RF)[sunting | sunting sumber]

Frekuensi radio ideal bagi kelompok dalam lingkungan yang lebih besar. Sistem RF dapat mengakomodasikan ratusan stasiun yang disambungkan responden. Penggunaan beberapa sistem, stasiun dasar berganda dapat disambungkan bersama untuk mengendalikan hadirin yang jumlahnya ribuan. Data yang dikirimkan menggunakan frekuensi radio mengharuskan hadirin untuk berada pada rentangan stasiun sejauh 300 hingga 500 kaki. Beberapa model yang berkembang dapat mengakomodasikan tampilan tambahan, seperti jawaban kata pendek dan pemungutan suara.

Perangkat lunak[sunting | sunting sumber]

Perangkat lunak penghitung respons hadirin memungkinkan pembawa acara mengumpulkan data, menayangkan grafik hasil pemungutan suara, serta mengeluarkan data untuk digunakan pada laporan dan analisis. Biasanya pembawa acara akan menyampaikan seluruh hasil interaksi dengan menggunakan perangkat lunak saat presentasi.

Proses kerja[sunting | sunting sumber]

Pada penggunaan umum, alat kontrol yang berada ditangan hadirin dihubungkan dengan perangkat lunak. Pada saat yang sama halaman presentasi menampilkan pertanyaan serta beberapa pilihan jawaban. Hadirin dapat berpartisipasi dengan memilih jawaban yang mereka anggap benar dengan cara menekan tombol koresponden pada nirkabel individu yang mereka pegang. Kemudian jawaban mereka akan dikirimkan ke stasiun dasar atau penerima pesan yang juga terhubung dengan komputer pembawa acara. Dalam beberapa waktu yang telah ditentukan, ketika semua hadirin telah memberikan jawabannya, sistem akan mengakhiri pemungutan suara untuk pertanyaan terkait dan merangkumnya sebagai hasil dari seluruh jawaban peserta di ruangan tersebut. Beberapa alat juga memiliki tombol tambahan yang memperbolehkan pembawa acara untuk meminta hadirin di ruangan tersebut menjawab kebenaran pertanyaan atau bahkan pertanyaan dapat digunakan kembali pada sesi tertentu. Biasanya, hasil jawaban akan secara langsung tersedia dan dapat disaksikan langsung oleh seluruh hadirin diruangan tersebut. Rangkuman jawaban biasa berupa grafik dan ditampilkan dengan menggunakan proyektor. Penyimpanan dan tampilan data hadirin tergantung pada persyaratan yang diajukan oleh penyelenggara acara. Data yang dikumpulkan tidak hanya dapat menyamarkan kerahasiaan identitas pemberi suara, tapi juga bisa di berikan pada orang yang membutuhkan kumpulan data yang telah disimpan tersebut. Data yang masuk disimpan dalam penyimpan data pengendali dan dapat ditampilkan setelah presentasi usai untuk dianalisis lebih lanjut.

Kelebihan dan kekurangan[sunting | sunting sumber]

Kelebihan[sunting | sunting sumber]

Semakin menurunnya keterlibatan seseorang pada saat pemungutan suara di dalam ruangan menimbulkan kesulitan untuk penghitungan suara. Dengan pendeteksi ini tabulasi penghitungan suara akan lebih cepat terdeteksi daripada menggunakan metode manual. Selanjutnya, kelebihan tersebut membawa pada beberapa manfaat seperti:

Studi dilakukan pada tahun 2005 di empat universitas Wisconsin (Universitas Wisconsin-Milwaukee, Universitas Wisconsin-Eau Claire, Universitas Wisconsin-Oshkosh, dan Universitas Wisconsin-Whitewater). Berdasarkan studi tersebut, meningkatnya penggunaan alat hitung respons hadirin memengaruhi proses belajar disana. Dari 27 anggota fakultas yang menjadi responden survei, 94 persennya setuju pada klaim bahwa penggunaan alat hitung respons hadirin dapat meningkatkan perhatian mahasiswa di kelas.

  • Meningkatkan keterlibatan.

Dalam studi yang berbeda di universitas Wisconsin, Catherine Ralifia dan Eric Mazur secara langsung mengukur hasil tes konsep pada proses belajar dan kemampuan mengingat informasi. Mahasiswa diarahkan untuk memberi jawaban menggunakan sistem penghitung respons hadirin dan kemudian mendiskusikannya dengan mahasiswa lain. Dengan demikian mereka akan mencoba untuk menjelaskan hal-hal yang mereka pahami. Dari penelitian mereka terlihat dampak baik yang muncul setelah penggunaan alat tersebut. 74 persen responden fakultas setuju bahwa alat hitung respons hadirin telah membawa manfaat sangat berarti dalam proses belajar.

  • Penyamaran identitas.

Mengirimkan respons dengan menggunakan alat hitung akan lebih menyamarkan identitas pemberi suara. Perangkat lunak yang merangkum hasil jawaban akan membuat persentase daftar kesimpulan hasil jawaban, tapi tidak mencantumkan apa yang dikatakan oleh masing-masing responden. Dengan sistem pendeteksi, perangkat lunak menyimpan data mentah tanpa dilengkapi identitas pengirim data, sehingga jawaban tidak dapat diasosiasikan pada responden yang telah terlibat.

  • Meningkatkan kepercayaan diri.

Sistem alat hitung respons hadirin seringkali dapat di hubungkan dengan sistem manajemen pembelajaran yang meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menampilkan dirinya saat proses belajar sedang berlangsung.

  • Menampilkan hasil pemungutan suara dengan cepat.

Secara umum, ketika pertanyaan berakhir, perangkat lunak akan menampilkan diagram persentase jawaban yang bervariasi dari hadirin.

  • Menciptakan lingkungan yang interaktif dan menyenangkan.

Penggunaan metode ini dapat menciptakan lingkungan yang menyenangkan sebab hadirin dapat berkomunikasi dengan lebih interaktif. Umumnya hadirin tertarik untuk segera mengetahui hasil jawaban yang telah diberikannya. Mereka ingin terus berpartisipasi jika jawaban mereka benar dan mereka ingin melihat bagaimana posisi respons mereka jika dibandingkan dengan respons hadirin lainnya.

  • Membantu mengumpulkan data untuk laporan dan analisis.

Alat hitung respons hadirin menggunakan perangkat lunak untuk menayangkan kembali respons hadirin dan selanjutnya data tersebut dikirimkan pada sistem penyimpanan data. Jawaban dapat dianalisis setiap saat dan data dapat digunakan untuk berbagai penelitian.

Kekurangan[sunting | sunting sumber]

Alat hitung respons hadirin juga memiliki kekurangan. Hal ini disebabkan oleh faktor:

  • Tingginya harga setiap unit alat hitung respons hadirin.
  • Sulitnya pemeliharaan dan perbaikan karena alat ini disewakan pada lembaga yang berbeda.
  • Konfigurasi terkait dukungan terhadap akurasi komputasi data.
  • Reabilitas dan tampilan, jika ruangan dan alat hitung tidak dikondisikan secara optimal, maka tayangan gambar hasil pemungutan suara pun akan tidak maksimal.
  • Ketergantungan pada ARS (Audience Response System) akan membuat hadirin tidak begitu menghargai pembawa acara karena perhatian mereka akan lebih terfokus pada tayangan presentasi.
  • Cepatnya kontribusi menjadikan informasi yang diterima sangat banyak, terkadang ada tanggapan yang tidak relevan dengan yang diharapkan.

Aplikasi[sunting | sunting sumber]

Aplikasi dalam industri dan organisasi[sunting | sunting sumber]

Alat hitung respons hadirin ini dimanfaatkan oleh berbagai industri dan organisasi, seperti:

Aplikasi di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Di Indonesia, alat hitung respons hadirin digunakan pada beberapa kuis seperti:

  • Who Wants to be a Millionaire

Kuis Who Wants to be a Millionaire menggunakan alat hitung respons hadirin pada salah satu pilihan bantuan “Ask The Audience”. Sewaktu peserta kuis menggunakan pilihan bantuan ini, maka hadirin disana akan memberikan suara sesuai pengetahuan mereka terkait pertanyaan yang diberikan. Jawaban dari hadirin diharapkan dapat membantu peserta kuis dalam menjawab pertanyaan.

  • Siapa Berani

Pada kuis Siapa Berani, pihak yang akan maju menjadi peserta kuis ditentukan oleh hasil jawaban atas pertanyaan yang diberikan kepada seluruh hadirin disana. Dalam menjawab pertanyaan digunakan alat hitung respons hadirin. Hadirin yang mampu menjawab paling banyaklah yang akan mewakili kelompoknya untuk bertanding.

  • News BOOM!

Kuis ini memberikan bonus pada penonton yang hadir di studio. Pada saat pertanyaan bonus diberikan, penonton dapat memberikan jawabannya melalui alat hitung. Penonton yang paling cepat memberikan jawaban benar pada alat pendeteksi akan menjadi pemenang hadiah bonus tersebut.

  • Take Me Out

Kuis Take Me Out menggunakan juri vote lock dalam menentukan pemenang kuis ini. 100 penonton yang hadir di studio berhak menjadi juri vote lock. Juri vote lock memberikan penilaiannya dengan menggunakan alat hitung respons hadirin. Pemenang kuis ini dipilih berdasarkan angka penilaian terbesar oleh juri vote lock.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Kaleta, Robert, and Joosten, Tanya. "Student Response Systems: A University of Wisconsin System Study of Clickers," Educause Center for Applied Research Research Bulletin. Vol. 2007, Issue 10, May 8, 2007, pp. 4–6. A public version of the information, in the form of a PowerPoint presentation about the findings, is available at: http://www.educause.edu/ir/library/pdf/EDU06283.pdf.

Crouch, Catherine R, and Mazur, Eric. "Peer Instruction: Ten years of experience and results." Am. J. Phys. Vol. 34, No. 5, September 2001. p. 934. Available at http://www4.uwm.edu/ltc/srs/faculty/docs/Mazur_Harvard_SRS2.pdf.

Beatty, Ian. "Transforming Student Learning with Classroom Communication Systems," Educause Center for Applied Research Research Bulletin. Volume 2004, Issue 3 (February 3, 2004), p. 5. Available online at http://www.educause.edu/ir/library/pdf/ERB0403.pdf.

Dominick, Joseph. 1996. The Dynamics of Mass Communication. Fifth Edition (International Edition). USA: The McGraw – Hill.

Caldwell, John. 2000. Theories of The New Media: A historical Perspective. London: The Athlone Press.

Pacey, Arnold. 2000. The Culture of Technology. Cambridge, MA: The MIT Press.

Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


Pranala luar[sunting | sunting sumber]