Alam malakut

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Tiga Alam dalam Dunia Tasawuf

1. Alam Jabarut ialah alam kekuasaan Allah swt. Alam Jabarut juga merupakan realitas yang disebut “singgasana” (al-Arsy). Hal ini merupakan bagia supraformal atau manifestasi kemalaikatan, yang diliputi dan terdiri dari ciptaan formal, sedang ia sendiri diliputi oleh being, dan being dibalik being. Alam Jabarut telah menjelma menjadi bagian dari ciptaan, namun masih belum menggambarkan alam nyata (alam Nasut). Alam Jabarut ini merupakan alam kemalaikatan, yakni alam “kekuasaan” atau “singgasana” (al-Arsy al-Adhim). Alam Jabarut juga merupakan kehidupan surgawi setelah kehidupan dunia ini, namun bukan sebagai Jannah al-Dzat, “Surga Tertinggi” atau “Surga Esensi”. Keberadaan rohani tanpa wujud adalah jabarut, dimana ditempatkan sabda ilahi dan daya rohani.

2. Alam Malakut ialah alam kegaiban, merupakan alam jin atau malaikat, yang sebagian menjelma dari intelek. Oleh karena itu, jin berpotensi mencapai pengetahuan Allah swt. Wayu yang disampaikan ke alam manusia (alam Nasut), juga disampaikan ke alam Malakaut.

3. Alam Nasut artinya alam dunia, yakni alam yang dihuni manusia yang juga disebut alam al-Mulk, “Alam Kekuasaan Allah”. Alam Nasut merupakan alam kasat mata atau (dalam istilah lain) alam Syahadah, Alam Nyata. Manifestasi atau eksistensi meliputi tiga alam yang terakhir. Beberapa metafisikawan merumuskan menifestasi ini menjadi lima unsure; waktu, ruang, bentuk, jumlah, dan materi. Plotinus menyampaikan lima unsure eksistensi ini, sedangkan Aristoteles menyampaikan sepuluh unsure eksistensi. Menurut Aristoteles, substansi merupakan bagian dari kategori yang disampaikanya, sebagai yang diciptakan. Sisi kata yang dipahami sebagai substansi yang tidak dicipta adalah being. Beberapa penulis menggantikan konsep “kehidupan” terhadap substansi dan termasuk bagian dari kategori Aristoteles. Menurut sejumlah penulis tersebut, “kehidupan” terdapat dalam segala sesuatu di dunia ini, termasuk juga dalam benda-benda tak bernyawa. Jami’ dan sejumlah sufi serta penulis lain mengatakan bahwa makhluk adalah “buih” dari gelombang samudera, yakni substansi atau being. Penjelasan puitis dari filsuf muslim tersebut, yang mengikuti langkah Aristoteles, menegaskan bahwa objek eksistensi adalah “aksiden” (a’radh) yang timbul dari substansi (al-jauhar).