Aji Muhammad Parikesit

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Aji Muhammad Parikesit
Sultan Aji Muhammad Parikesit bersama Aji Pangeran Ratoe.
Sultan Aji Muhammad Parikesit bersama Aji Pangeran Ratoe.
Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura
Memerintah 14 Nopember 1920 - 21 Juni 1960
Koronasi 14 Nopember
Pendahulu Aji Muhammad Alimuddin
Pengganti Aji Muhammad Salehuddin II
Pasangan Aji Ratu Bahriah
Aji Ratu Purbo Ningrat
Raden Kencono
Raden Mari
Raden Suwito
Raden Juwito
Anak
- Anak dari Aji Ratu Bahriah

Aji Putri Piong
Aji Pangeran Praboe (Aji Muhammad Salehuddin II)
Aji Putri Helda (Aji Putri Indra Sari)
Aji Putri Magdalena (Aji Putri Indra Wati)

- Anak dari Ratu Purbo Ningrat
Aji Pangeran Kiji Pati Joedo
Aji Putri Milot (Aji Putri Maha Dewi)

- Anak dari Raden Kencono
Aji Putri Sarah
Aji Kiji Pati Hario

Lahir 21 November 1895
Tenggarong
Meninggal 22 November 1981
Tenggarong
Agama Islam

Aji Muhammad Parikesit (dilahirkan dengan nama Aji Kaget) adalah Sultan Kutai Kartanegara ke-20, memerintah dari tahun 1920 sampai 1960 yang juga merupakan sultan terakhir yang memimpin kesultanan sebelum wilayah Kesultanan Kutai resmi masuk ke dalam wilayah Republik Indonesia dan menjadi "Daerah Istimewa Kutai".

Biografi[sunting | sunting sumber]

Lahir dengan nama Aji Kaget , dari kecil beliau dididik oleh nininda beliau Aji Muhammad Sulaiman, Sultan Kutai. Beliau masuk sekolah Belanda di Samarinda tahun 1905. Tahun 1909 beliau mendapat gelar Adji Endje Renik. Tahun itu jugalah beliau masuk sekolah Instituut Bos di Betawi. Tahun 1910 ayahnya wafat, tetapi karena umur beliau ketika itu belum dewasa, maka Pemerintahan Kutai dipegang oleh Dewan Perwalian yang dipimpin oleh Aji Pangeran Mangkunegoro.

Tahun 1911 beliau menempuh ujian P.H.S. Dua Tahun sesudah itu beliau pindah ke sekolah Osvia di Serang. Pada tahun 1917 beliau kembali ke Kutai, sebab Pangeran Mangkunegoro ingin mendidik beliau untuk memegang pemerintahan dan untuk mengenali adat lembaga negeri. Tahun 1918 beliau diberi gelar Pangeran Adipati Praboe Anoem Soeria Adi Ningrat. Tanggal 14 Nopember 1920 beliau dinobatkan menjadi sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Parikesit. Untuk melanjutkan sekolah dan menambah luas pengetahuannya, pada tahun 1928 belliau dengan permaisuri pergi ke negeri Belanda. Dan ketika itulah Aji Muhammad Parikesit dihadiahi gelar Officier der Orde van Oranje Nassau dari Kerajaan Belanda.

Pemerintahan Kutai[sunting | sunting sumber]

Sultan Adji Muhammad Parikesit dibantu oleh tiga orang menteri yang memegang Pemerintahan kesultanan. Adapun seluruh daerah kesultanan Kutai itu terbagi atas tiga onderafdeling, yaitu Kutai Barat, Kutai Timur dan Balikpapan. Ibu negeri yang pertama ialah Tenggarong, yang kedua Samarinda dan yang ketiga Balikpapan. Lalu ketiga onderafdeling itu terbagi lagi atas 17 buah district. Menurut cacah jiwa tahun 1934, banyaknya penduduk kesultanan Kutai sekitar 106.559 jiwa, kecuali orang yang bekerja pada Maatschappij.

Selama Sultan Aji Muhammad Parikesit memerintah, banyak sekali perubahan susunan Pemerintahan, sehingga pemerintahan pada zaman beliau ini hampir tidak ada bedanya lagi dengan susunan Pemerintahan Daerah Goebernemen. Pada tahun 1931 telah diadakan sebuah persidangan yang bernama Hoofdenvergadering. Sekalian para kepala onderafdeling, district dan onderdistrict yang diundang untuk menghadiri rapat itu akan membicarakan soal-soal yang penting. Yang memimpin rapat itu adalah Sultan Kutai dengan Asisten-Residen. Rapat itu diadakan setiap 4 bulan sekali. Untuk mengadakan rapat itu telah didirikan sebuah gedung yang besar dengan perabotan yang modern dan disana jugalah tempat Sultan bekerja. Lalu, mulai pada tahun 1926 diadakan dua macam pengadilan, yaitu: Kerapatan Besar dan Kerapatan Kecil. Kerapatan Besar terdapat di Tenggarong dan Kerapatan Kecil terdapat di tiap-tiap district dan onderdistrict.[1]

Turun tahta[sunting | sunting sumber]

Gambar Sultan Aji Muhammad Parikesit dalam perangko yang diterbitkan tahun 2006.

Dua tahun setelah Indonesia merdeka tepatnya pada tahun 1947, Kesultanan Kutai beralih status menjadi Daerah Swapraja Kutai dan masuk ke dalam Federasi Kalimantan Timur/Daerah Siak Besar bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir dengan membentuk Dewan Kalimantan Timur yang diketuai oleh Sultan Aji Muhammad Parikesit. Sampai pada tanggal 27 desember 1949, Federasi Kalimantan Timur bergabung dengan Republik Indonesia Serikat.

Pada 21 Januari 1960 pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara yang dipimpin Sultan Aji Muhammad Parikesit, diserahkan kepada pemerintah daerah melalui Sidang Khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai, yang diselenggarakan di Balairung Keraton Sultan Kutai, Tenggarong. Sejak itu Sultan Aji Muhammad Parikesit dan keluarganya hidup sebagai rakyat biasa[2].


Referensi[sunting | sunting sumber]

Didahului oleh:
Sultan Aji Muhammad Alimuddin
Sultan Kutai Kartanegara
1920-1960
Diteruskan oleh:
Sultan Aji Muhammad Salehuddin II