Air Terjun Songgo Langit

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Air Terjun Songgo Langit
Air Terjun Songgo Langit is located in Indonesia
Lokasi di Indonesia
Informasi tempat wisata
Lokasi Dusun Dukuh Ngelencer, Bucu, Kembang, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah.
Negara  Indonesia
Koordinat 6°32′10″LS 110°51′36″BT / 6,536°LS 110,86°BT / -6.536; 110.86Koordinat: 6°32′10″LS 110°51′36″BT / 6,536°LS 110,86°BT / -6.536; 110.86
Jenis objek wisata Air terjun

Air Terjun Songgo Langit adalah air terjun yang terletak di Bucu, Kembang 30 km sebelah utara dari pusat kota Jepara. Air terjun ini mempunyai ketinggian 80 meter dengan lebar 2 meter.

Disekitar air terjun ini dapat dijumpai beragam kupu-kupu.[1] Walaupun menarik wisatawan, air terjun ini dipasangi peringatan dilarang berenang karena banyaknya korban tenggelam karena terdapat palung sedalam 8 meter.[2][3]

Lokasi[sunting | sunting sumber]

Air terjun ini terletak di Dusun Dukuh Ngelencer, Bucu, Kembang, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Untuk mencapai Air Terjun Songgolangit dapat ditempuh dengan kendaraan roda 2 maupun roda 4 dengan kondisi jalan beraspal.

Legenda[sunting | sunting sumber]

Dikisahkan ada seorang jejaka yang berasal dari desa Tunahan menjalin cinta dengan seorang gadis cantik asal Dukuh Sumanding Desa Blucu Kecamatan Kembang. Jalinan cinta mereka ahirnya berlanjut hingga ke jenjang perkawinan.

Di sini diceritakan bahwa antara desa Tunahan dan desa Blucu terbentang sungai (sekarang ini sungai yang berada di atas obyek wisata tersebut airnya mengalir ke bawah menjadi air terjun).

Pada zaman dahulu seorang laki-laki melamar seorang perempuan harus membawa perabotan dapur seperti wajan, piring, gelas, dan lain lain . Serta membawa hewan piaraan kerbau, sapi, atau kambing. Pada suatu fajar si isteri bersiap menyiapkan makanan pagi untuk si suami tercinta. Dalam penyediaan sarapan tersebut si isteri kurang hati- hati sehingga menimbulkan suara-suara alat dapur yang saling bersentuhan.

Alkisah, sang mertua (ibu si isteri) menegur anaknya “Ojo glondhangan, mengko mundhak bojomu tangi” atau dalam bahasa Indonesia “Jangan gaduh, nanti suamimu terbangun”. Rupanya si suami salah mendengar “Kerjo kok glondhangan, rumangsamu barange bojomu” atau dalam bahasa Indonesia “Kerja kok gaduh,Memangnya barang bawaan suamimu”. Pada saat itu juga si suami merasa tersinggung dengan perkataan sang mertua itu, kemudian pada suatu tengah malam kedua pengantin tersebut berniat pergi dari rumah untuk pindah ke tempat asal suami dengan mengendarai pedati/gerobak yang ditarik oleh sapi. Oleh karena jalannya begitu gelap, maka pedati yang mereka naiki salah jalan (kesasar) sehingga terasa pedati tersebut masuk jurang yang sangat dalam (sekarang air terjun Songgolangit) dan sepasang pengantin tersebut hilang tidak ada yang mengetahui keberadaanya. Legenda tersebut bersifat turun temurun dan masih melekat kuat di hati masyarakat setempat sehingga merupakan pantangan antara orang-orang desa Tunahan dan desa Blucu untuk hidup sebagai suami isteri, karena dikuatirkan hubungan rumah tangga mereka akan mengalami kemelut. Juga masyarakat sekitar percaya pada legenda tentang sepasang suami-istri yang menjadi penunggu kawasan itu. Mereka juga percaya air yang mengalir dari air terjun tersebut berkhasiat membuat awet muda.

Tiket masuk, parkir, dan fasilitas[sunting | sunting sumber]

Tiket masuk adalah Rp 2000 untuk dewasa dan Rp 1000 untuk anak-anak. Sedangkan biaya parkir adalah Rp 2500 untuk kendaraan roda empat, Rp 1000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 5000 untuk kendaraan bis. Sebagai tujuan wisata, air terjun ini dilengkapi area parkir, toilet, dan warung penjual makanan.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]