Abdullah bin Abdul Muththalib

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Syam, tempat Abdullah meninggal saat melakukan perjalanan dagang

Abdullah bin Abdul Muththalib (bahasa Arab: عبدالله بن عبد المطلب), atau Abdullah bin Syaibah (عبدالله بن شيبة), adalah ayah dari Nabi Muhammad, yang merupakan anak termuda dari sepuluh bersaudara.[1][2] Istrinya, atau ibu Nabi Muhammad, bernama Aminah binti Wahab.[1] Dari perkawinannya ini, ia hanya memiliki satu anak saja, yaitu Muhammad.[3] Abdullah meninggal dunia dalam perjalanan dagang ke Syam, yakni sewaktu Muhammad masih dalam kandungan sang ibu.[1] Ia meninggal saat usianya mencapai 25 tahun, tepatnya ia lahir di tahun 545 dan meninggal di tahun 570.

Genealogi[sunting | sunting sumber]

Silsilah lengkapnya adalah:

عبدالله بن عبد المطلب ابن هاشم بن عبد مناف بن قصي بن كلاب بن مرة بن كعب بن لؤي بن غالب ابن فهر بن مالك بن النضر بن كنانة بن خزيمة بن مدركة بن الياس بن مضر بن نزار بن معد بن عدنان

Dalam huruf latin, 'Abdullah bin 'Abdul Muththalib bin Hasyim (Amr) bin Abdu Manaf (Al-Mughirah) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka`b bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan.[2]

Ayah Abdullah, yaitu Syaibah bin Hasyim, lebih dikenal dengan nama panggilannya (bahasa Arab: كنية, kunya) yaitu Abdul Muththalib.

Perjalanan hidup[sunting | sunting sumber]

Kelahiran Abdullah merupakan periode kelima dari periode perhitungan Arab di zaman Jahiliyyah, bahkan bisa dikatakan bahwa waktu kelahirannya bersamaan dengan waktu penggalian sumur Zamzam.[4] Ketika menikah dengan Aminah, usianya kira-kira baru mencapai 24 tahun, sedang sang ayah sudah tujuh puluh tahun yang mana ketika itu Abrahah menyerang kota Mekkah dan berusaha menghancurkan Ka'bah.[4]

Sebelum menikah, Abdul Muththalib membawanya ke kawasan Bani Zuhrah untuk menemui Wahab bin Manaf bin Zuhrah, ayah dari Aminah yang juga menjadi pemimpin kaumnya yang terpandang serta berpengaruh.[4] Setelah itu, barulah mereka menyampaikan lamaran.[4] Namun, sebagian ahli sejarah berbeda pendapat mengenai hal ini, mereka mengatakan bahwa Abdullah ketika itu tidak pergi ke rumah Wahab, melainkan ke rumah Ahyab (paman) karena kala itu ayah Aminah sudah meninggal dunia.[4]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Shadily, Hassan.Ensiklopedia Indonesia.Jakarta:Ichtiar Baru Van Hoeve.Hal 53
  2. ^ a b "Abdullah bin Syaibah". Triguna Web. Diakses 26 Mei 2014. 
  3. ^ Nasution, Harun (1992).Ensiklopedi Islam Indonesia.Jakarta:Djambatan. Hal 17
  4. ^ a b c d e Al-Mahlawi, Hanafi (2002).Harum Semerbak Tempat=Tempat yang Dikujungi Rasulullah SAW.Jakarta:Ufuk Press.Terj. Al-Amakin Al-Masyurah.Hal 126

Pranala luar[sunting | sunting sumber]