Abdul Halim (1887-1962)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
K.H. Abdul Halim
Untuk mantan Perdana Menteri Indonesia dengan nama yang sama, lihat: Abdul Halim.

Abdul Halim, lebih dikenal dengan nama K.H. Abdul Halim Majalengka (lahir 26 Juni 1887, di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat - meninggal 7 Mei 1962, di Majalengka pada umur 75 tahun) adalah salah seorang tokoh pergerakan nasional, tokoh organisasi Islam, dan ulama yang terkenal toleran dalam menghadapi perbedaan pendapat antarulama tradisional dan pembaharu.[1][2][3]

Kehidupan awal dan pendidikan[sunting | sunting sumber]

Kiai Abdul Halim lahir dengan nama Otong Syatori..[4][5] Ia merupakan anak terakhir dari delapan bersaudara dari pasangan K.H. Muhammad Iskandar dan Hj. Siti Mutmainah.[5] Selain mengasuh pesantren, ayahnya juga seorang penghulu di Kawedanan, Jatiwangi.[5] Sebagai anak yang dilahirkan di lingkungan keluarga pesantren, Kiai Halim telah memperoleh pendidikan agama sejak balita dari keluarganya maupun dari masyarakat sekitar.[1] Ayahnya meninggal ketika Kiai Halim masih kecil, sehingga ia banyak diasuh oleh ibu dan kakak-kakaknya.[1] Sejak kecil Kiai Halim tergolong anak yang gemar belajar.[1] Terbukti ia banyak membaca ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu-ilmu kemasyarakatan.[1] Ketika berumur 10 tahun Kiai Halim belajar al-Qur'an dan Hadis kepada K.H. Anwar, yang sekaligus menjadi guru pertamanya di luar keluarganya sendiri.[1] K.H. Anwar merupakan seorang ulama terkenal dari Ranji Wetan, Majalengka.[1] Sebagai penggemar ilmu, Kiai Halim juga mempelajari disiplin ilmu lainnya, tidak pandang apakah yang menjadi gurunya sealiran (Islam) ataupun tidak, asalkan dapat bermanfaat bagi perjuangannya kelak.[1] Hal itu terlihat ketika Kiai Halim belajar bahasa Belanda dan huruf latin kepada Van Hoeven, seorang pendeta dan misionaris di Cideres, Majalengka.[1] Pada umur 21 tahun, Kiai Halim menikah dengan Siti Murbiyah puteri Kiai Ilyas (Penghulu Landraad Majalengka).[1][5] Pernikahan mereka dikaruniai tujuh orang anak.[1]

Ketika menginjak usia dewasa, Kiai Halim mulai belajar di berbagai Pondok Pesantren di wilayah Jawa Barat.[1] Di antara pesantren yang pernah menjadi tempat belajar Kiai Halim adalah :[1]

Di sela-sela kesibukannya belajar di pesantren, Kiai Halim menyempatkan dirinya untuk berdagang.[4] Ia berjualan minyak wangi, batik, dan kitab-kitab pelajaran agama.[4]

Belajar di Mekah[sunting | sunting sumber]

Setelah banyak belajar di beberapa pesantren di Indonesia, Kiai Halim memutuskan untuk pergi ke Mekah untuk melanjutkan mendalami ilmu-ilmu keislaman.[1] Di Mekah, Kiai Halim berguru kepada ulama-ulama besar di antaranya Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, seorang ulama asal Indonesia yang menetap di Mekah dan menjadi ulama besar sekaligus menjadi Imam di Masjidil Haram.[1][6] Selama menuntut ilmu di Mekah, Kiai Halim banyak bergaul dengan K.H. Mas Mansur yang kelak menjadi Ketua Umum Muhammadiyah dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah yang merupakan salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama dan Rais Am Syuriyah (Ketua Umum Dewan Syuro) Pengurus Besar organisasi tersebut setelah Kiai Hasyim Asy’ari meninggal pada tahun 1947.[1] Kedekatan Kiai Halim terhadap kedua orang sahabatnya yang berbeda latar belakang antara pembaharu dan tradisional inilah yang membuatnya terkenal sebagai ulama yang amat toleran.[1]

Selain belajar langsung kepada Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Kiai Halim juga mempelajari kitab-kitab para ulama lainnya, seperti kitab karya Syeikh Muhammad Abduh, Syeikh Muhammad Rasyid Ridlo, dan ulama pembaharu lainnya.[1] Selain itu Kiai Halim juga banyak membaca majalah al-Urwatul Wutsqo maupun al-Manar yang membahas tentang pemikiran kedua ulama tersebut.[1]

Perserikatan Ulama Indonesia[sunting | sunting sumber]

Setelah tiga tahun belajar di Mekah, Kiai Halim kembali ke Indonesia untuk mengajar. Pada tahun 1911, ia mendirikan lembaga pendidikan Majlis Ilmi di Majalengka untuk mendidik santri-santri di daerah tersebut.[1] Setahun kemudian setelah lembaga pendidikan tersebut telah berkembang, Kiai Halim mendirikan sebuah organisasi yang bernama Hayatul Qulub, yang kemudian Majlis Ilmi menjadi bagian di dalamnya.[1]

Hayatul Qulub (Hayat al-Qulub) yang didirikan tahun 1912 tersebut tidak hanya bergerak di bidang pendidikan saja, melainkan juga masuk ke bidang perekonomian.[1] Hal ini disebabkan Kiai Halim ingin memajukan lapangan pendidikan sekaligus perdagangan.[1] Maka anggota organisasinya bukan saja dari kalangan santri, guru, dan kiai, tetapi juga para petani dan pedagang.[1] Namun organisasi yang bergerak di bidang dagang tersebut tentu akan mempunyai saingan dagang, khususnya dengan pedagang Cina yang pada masa itu cenderung lebih berhasil di bidang perdagangan.[1] Karena pemerintah Hindia Belanda lebih banyak membela kepentingan pedagang-pedagang Cina yang diberi status hukum lebih kuat dibanding kelompok pribumi.[1]

Persaingan tersebut memuncak ketika pemerintah Hindia Belanda menuduh organisasi Hayatul Qulub sebagai biang kerusuhan dalam peristiwa penyerangan toko-toko milik orang Cina yang terjadi di Majalengka pada tahun 1915.[1] Akibatnya pemerintah Hindia Belanda membubarkan Hayatul Qulub dan melarang meneruskan segala kegiatannya.[1] Setelah dibubarkannya organisasi tersebut, Kiai Halim memutuskan untuk kembali ke Majlis Ilmi untuk tetap menjaga kepentingan perjuangan Islam, terutama dalam bidang pendidikan.[1]

Pada tanggal 16 Mei 1916, Kiai Halim secara resmi mendirikan lembaga pendidikan baru yang ia beri nama Jam’iyah al-I’anat al-Muta’alimin.[1] Lembaga pendidikan ini lebih baik dari sebelumnya, karena Kiai Halim menerapkan sistem klasikal dengan lama kursus lima tahun dan sistem koedukasi.[1][6] Dan bagi yang sudah mencapai kelas tinggi akan menerima pelajaran bahasa Arab.[6] Setahun kemudian, HOS Cokroaminoto memberi dukungan terhadap lembaga pendidikan tersebut, yang akhirnya dikembangkan dan diubah namanya menjadi Perserikatan Ulama yang lebih dikenal dengan PUI (Perserikatan Ulama Indonesia).[1] Perserikatan tersebut meemiliki panti asuhan, percetakan, dan sebuah pertenunan.[6]

Perserikatan Ulama Indonesia memiliki tujuan pokok antara lain:[1]

  1. Memajukan dan menyiarkan pengetahuan dan pengajaran agama Islam.
  2. Memajukan perihal penghidupan yang didasarkan atas hukum Islam.
  3. Memelihara tali percintaan dan persaudaraan yang kuat dan membangunkan hati supaya suka tolong menolong antara satu dengan lainnya.

PUI melakukan beberapa upaya untuk mewujudkan tujuannya tersebut, di antaranya adalah:[1]

  1. Mendirikan dan memelihara sekolah.
  2. Menerbitkan, menyiarkan, dan menjual buku-buku (kitab-kitab), brosur, majalah, dan surat kabar yang berisi tentang keislaman.
  3. Meningkatkan pertanian, perdagangan dan perekonomian lainnya.
  4. Mendidik pemuda sebagai kader muslim masa mendatang.
  5. Bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan muslim lainnya demi memajukan Agama Islam.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah H.M. Bibit Suprapto (2009). Ensiklopedi Ulama Nusantara. Gelegar Media Indonesia. ISBN 979-98066-1114-5.  Halaman 20-25.
  2. ^ Asvi Warman Adam (2010). Menguak Misteri Sejarah. Penerbit Buku Kompas. ISBN 978-979-709-504-8.  Halaman 47.
  3. ^ Ajip Rosidi (2010). Mengenang hidup orang lain: sejumlah obituari. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-979-910-222-5.  Halaman 187.
  4. ^ a b c www.pondokpesantren.net: K.H. Abdul Halim. Diakses 13 April 2014
  5. ^ a b c d www.pelitatangerang.xtgem.com: K.H. Abdul Halim, Majalengka. Diakses 13 April 2014
  6. ^ a b c d M Saleh Putuhena (2007). Historiografi Haji Indonesia. LKiS. ISBN 978-979-255-264-5.  Halaman 372.